
WANITAINDONESIA.CO – Bagi setiap keluarga, melepas orang tercinta menunaikan ibadah haji selalu diiringi dengan doa sekaligus rasa cemas. Kita tentu ingin para jemaah terutama orang tua atau kerabat yang sudah lansia bisa beribadah dengan aman, nyaman, dan pulang membawa berkah. Memahami harapan besar tersebut, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) bergerak cepat melakukan evaluasi menyeluruh demi menyambut musim haji berikutnya dengan kesiapan yang lebih matang.
Melalui Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji 1447 H/2026 M yang dilansir dari website resmi Haji.go.id, pemerintah mengusung tema yang sangat dekat dengan kebutuhan jemaah: “Berbenah Tanpa Henti, Menghadirkan Layanan Haji yang Humanis, Profesional dan Adaptif”. Forum besar ini bukan sekadar ajang kumpul biasa, melainkan momen penting untuk merumuskan strategi pelayanan haji Indonesia yang jauh lebih berkualitas.
Sekjen Kemenhaj, Teguh Dwi Nugroho, menegaskan bahwa seluruh catatan dan tantangan selama musim haji 2026 akan dijadikan batu pijakan yang kuat untuk berbenah.
“Setiap tantangan yang kita temui, mulai dari tahap persiapan, operasional di Arab Saudi, hingga proses pemulangan jemaah, harus kita jadikan pelajaran untuk menghadirkan layanan yang semakin profesional, cepat, adaptif, dan humanis,” ungkap Teguh saat membuka Rakernas di Jakarta, pada (4/7/2026).
Mengurus perjalanan suci jutaan jemaah tentu melibatkan sistem yang sangat kompleks. Oleh karena itu, evaluasi kali ini sengaja difokuskan pada hal-hal esensial yang bersentuhan langsung dengan kenyamanan jemaah di lapangan. Mulai dari kualitas akomodasi (hotel/penginapan), transportasi yang ramah jemaah, asupan konsumsi yang sehat, bimbingan ibadah yang intensif, hingga kesiapan layanan kesehatan dan transformasi digital.
Tidak tanggung-tanggung, pembahasan dalam Rakernas ini menguliti seluruh rantai perjalanan haji dari hulu ke hilir. Beberapa poin penting yang dibahas antara lain: Pengelolaan kuota dan pelunasan biaya perjalanan yang lebih transparan. Pembinaan manasik yang lebih mudah dipahami serta pemeriksaan istitha’ah (kemampuan) kesehatan jemaah. Optimalisasi aplikasi Nusuk, pengawasan layanan katering, transportasi, serta evaluasi kinerja perusahaan penyedia layanan di Arab Saudi (syarikah). Penguatan sistem digital seperti Siskohat, Siskohatkes, dan aplikasi Kawal Haji agar keluarga di tanah air bisa memantau kondisi jemaah dengan lebih tenang.
Demi memastikan pelayanan di lapangan berjalan kompak, Rakernas yang digelar di Asrama Haji Kelas I dan Lapangan Galaxy Makodam Jaya, Halim, Jakarta ini dihadiri oleh 967 peserta. Mereka adalah para petugas yang menjadi ujung tombak pelayanan haji dari pusat hingga daerah.
Menariknya, selain berdiskusi mengenai kebijakan bersama para ahli, anggota DPR, BPK, dan Ombudsman, para petugas juga mengikuti kegiatan retreat khusus yang didampingi oleh instruktur dari TNI dan Polri. Tujuannya sangat mulia, yaitu membentuk karakter petugas yang disiplin, sigap, memiliki solidaritas tinggi, dan penuh empati saat melayani jemaah di lapangan.
“Transformasi penyelenggaraan ibadah haji tidak cukup dilakukan melalui perubahan sistem semata. Yang lebih penting adalah membangun budaya kerja yang kolaboratif, responsif, dan berorientasi pada kepentingan jemaah,” tutup Teguh penuh optimisme.
Dengan adanya evaluasi yang cepat dan menyeluruh ini, kita tentu berharap perjalanan haji di musim-musim mendatang akan semakin ramah, aman, dan menenangkan bagi seluruh jemaah Indonesia. (Des)




