Kuliner Eksotis Mangayuhbagya Dhaup Ageng Pura Mangkunegaran

Prosesi Royal Wedding Dhaup Ageng, G.R.Aj.Ancillasura Marina Sudjiwo dengan K.P.H.F.X.Adimas Rosdian lekat dengan tradisi Pawon Pura Mangkunegaran, kuliner ritual yang disajikan spesial untuk tamu undangan. (Foto: Dokumentasi Pura Mangkunegaran.)

WANITAINDONESIA.CO – Pura Mangkunegaran, Solo sedang menyelenggarakan rangkaian prosesi Royal Wedding G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo (Gusti Sura) dengan K.P.H.F.X. Adimas Rosdian (K.P.H. Adimas) yang berlangsung sejak 4-8 November 2026.

Lekat dengan pertunjukan seni budaya nan adiluhung, salah satunya sajian ritual nan eksotis. Hal ini bila dikaitkan dengan mindset kehidupan masyarakat di luar tembok Pura Mangkunegaran.

Kuliner ritual yang tersaji di sejumlah momen penting seperti Dhaup Ageng merupakan makanan serta minuman bermakna filosofis, spiritual serta simbolis mendalam.
Kian menarik olahan tak sekedar dijadikan santapan, melainkan menjadi bagian dari ritual adat seperti selamatan, peringatan maupun momen sakral tertentu yang ditujukan sebagai doa, ungkapan rasa syukur serta penghormatan kepada para leluhur.

Semua masakan akan diolah dengan mempertahankan teknik masak tradisi Pawon Pura Mangkunegaran, klasik menggunakan tungku dengan bahan bakar berupa kayu. Juga masih memakai peralatan memasak tradisional seperti dandang, kuali, cething, dan cobek.

Baca Juga :  Filosofi Ksatria Legiun Mangkunegaran dalam Jamuan Makan Malam Kerajaan
Gusti Bhre kakak dari Gusti Sura memimpin prosesi “Adang Sepisan” yakni menanak nasi pertama sebagai bentuk kesiapan Pura Mangkunegaran dalam menyambut serta berbagi kebahagiaan dengan semua tamu, yang menarik proses menanak nasi menggunakan pusaka Pura Mangkunegaran, “Nyai Dandang”, dan “Nyai Sumyang”. (Foto: Dokumentasi Pura Mangkunegaran.)

Ritual memasak hidangan untuk Dhaup Ageng dimulai dengan tradisi Adang Sepisan, yakni menanak nasi pertama sebagai tanda kesiapan Pura Mangkunegaran dalam menyambut serta berbagi kebahagiaan dengan para tamu. Kian menarik manakala nasi yang dimasak menggunakan pusaka kuno berupa dandang tembaga “Nyai Dandang, dan”Nyai “Sumyang”.

Bagaimana dengan kemasan?, mereka masih mempertahankan kemasan ramah lingkungan seperti daun nangka, daun pisang, daun jati maupun memakai kemasan besek bambu.

Di acara Mangayuhbagya Dhaup Ageng, Gusti Sura, dan K.P.H. Adimas disajikan beragam kuliner ritual seperti
Sego Liwet.
Cikal-bakalnya berasal dari kuliner rakyat jelata yang kemudian diadaptasi menjadi bagian dari kuliner para bangsawan di Solo termasuk Kadipaten Mangkunegaran.
Dalam ritual masyarakat Jawa, Sego Liwet memiliki makna sebagai upaya untuk menolak bala.

Dodol Dawet prosesi simbolis setelah acara siraman, dan sebelum acara pernikahan, dilakukan oleh pasutri orang tua dari anak yang akan menikah bermakna filosofi harmoni dalam rumah tangga, Ayah sebagai pelindung, memayungi, ibu sebagai pengelola rumah tangga yang baik. Tamu yang hendak menikmati dawet membayar dengan kreweng (uang mainan) dari gerabah yang memiliki arti kerendahan hati, sebagai pengingat bahwa manusia berasal dari tanah. (Ki-ka): Gusti Pangeran Haryo Paundrakarna Sukmaputra Jiwanegara (Pangeran Sepuh Pura Mangkunegaran) sebagai pengganti ayahnya KGPAA Mangkunegara IX memayungi ibunda Gusti Sura, Gusti Kanjeng Putri Mangkunegara IX. (Foto: Dokumentasi Pura Mangkunegaran.)

Aroma Sego Liwet terasa harum karena proses pemasakan beras menggunakan santan, daun pandan, serai, dan daun salam.
Sego Liwet disajikan dengan Sayur Lodeh Labu Siam, Ayam Suwir, Telur Pindang, Tempe, dan Tahu Bacem. Di atas lauk-pauk tersebut disiram dengan areh (santan kental yang dimasak hingga menyerupai bubur)

Baca Juga :  Filosofi Ksatria Legiun Mangkunegaran dalam Jamuan Makan Malam Kerajaan

Varian olahan nasi lainnya adalah Sego Golong.
Nasi golong merupakan nasi putih yang dikepal-kepal seukuran kepalan orang dewasa hingga berbentuk bundar padat. Makna simbolik merupakan kebulatan tekad, doa, dan kerukunan hidup berdampingan.

Kuliner kuno ini tercantum di dalam naskah Serat Centhini, dan Serat Babad Bendaran. Lauk pelengkap terdiri dari Ayam Ingkung, Kering Tempe, Mi Goreng, Serundeng, Telur Rebus/Telur Dadar, dan Tahu Bacem.

Tak kalah lezat untuk dinikmati Sego Asahan yakni nasi putih yang disajikan dengan beragam lauk-pauk tradisional bertekstur kering seperti Kering Tempe, Serundeng, Mi Goreng, dan Sambal Cabuk, sambal khas Solo yang terbuat dari ampas biji wijen.
Adapun unsur serat tersaji olahan Sayur Padhamara (Sayur Menir).

Baca Juga :  Filosofi Ksatria Legiun Mangkunegaran dalam Jamuan Makan Malam Kerajaan
Sego Golong kuliner kuno yang tertulis di Serat Centhini, dan Serat Babad Bendaran perlambang kebulatan tekad, doa serta kerukunan hidup berdampingan. (Foto: Tangkapan layar TikTok.)

Nama Asahan merujuk pada wadah, sajian ini bermakna sebagai upaya untuk pengampunan dosa. Saat disajikan sebagai ritual wilujengan (hidangan selamatan) Sego Asahan melambangkan doa serta harapan agar arwah leluhur maupun keluarga yang masih hidup, senantiasa mendapatkan tempat yang baik, perlindungan serta keberkahan dari Tuhan YME.

Menu lainnya berupa Ketan Putih & Ketan Hitam. Melambangkan dua perbedaan yang saling melengkapi. Dan juga sebagai ikatan simbolik eratnya hubungan manusia dengan diri sesama serta Tuhan YME.

Penyajian ketan harus dipadankan dengan jajanan tradisional Apem. Kata Apem berasal dari bahasa Arab afuwun yang artinya pengampunan. Apem menjadi kuliner perlambang permohonan ampun atas kesalahan kepada sesama manusia serta simbol kesederhanaan.

Pelengkap sajian Ketan, dan Apem adalah makanan manis berkuah Kolak. Dijadikan sebagai pengingat ihwal siklus kehidupan manusia serta rasa manis dari keselamatan, dan ketenangan batin. (rp)