
WANITAINDONESIA.CO – Bagi kita para perempuan yang mengatur rumah tangga, mendengar kata “diet” atau “bebenah rumah” pasti sudah tidak asing lagi. Tujuannya jelas: membuang apa yang tidak perlu agar rumah menjadi lebih rapi, efisien, dan nyaman ditinggali. Nah, filosofi “bebenah” inilah yang ternyata sedang diterapkan oleh salah satu perusahaan energi terbesar kita, PT Pertamina (Persero).
Melansir informasi resmi dari situs Pertamina, Di bawah kepemimpinan Direktur Utama Simon Aloysius Mantiri, hingga pertengahan tahun 2026 ini, Pertamina baru saja menyelesaikan program business streamlining alias perampingan bisnis yang cukup masif. Tidak tanggung-tanggung, ada 31 entitas atau anak usaha yang sukses dirampingkan.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Pertamina ingin bergerak lebih lincah dan fokus dalam menjaga ketahanan energi nasional serta memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat termasuk kemudahan akses energi bagi keluarga Indonesia.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menjelaskan bahwa program perampingan ini merupakan prioritas strategis perusahaan yang sejalan dengan visi Pemerintah dan Danantara Indonesia. Caranya adalah dengan melakukan merger (penggabungan), divestasi pada bisnis yang bukan inti (non-core), hingga likuidasi perusahaan-perusahaan yang sudah tidak aktif (dormant), terutama di sektor Hulu Migas.
“Walaupun entitas Hulu Migas yang dormant ini selama ini tidak ada pengeluaran baik untuk operasional maupun gaji direksi atau komisaris, namun tetap kami likuidasi sebagai bagian dari upaya merapikan struktur Pertamina Group,” jelas Agung di Jakarta pada (3/7/2026)
Ibarat menyortir barang di gudang yang sudah lama tidak dipakai, membersihkan entitas yang tidak aktif ini membuat struktur Pertamina menjadi jauh lebih sehat. Efek positifnya langsung terasa: pengambilan keputusan jadi lebih cepat, operasional lebih efisien, dan tata kelola perusahaan pun semakin bersih serta transparan.
Aksi korporasi ini juga merupakan bentuk kepatuhan terhadap Instruksi Presiden (Inpres) No. 7 Tahun 2026 mengenai percepatan penataan BUMN. Hasil nyata dari “diet sehat” di semester pertama tahun 2026 ini terbukti mampu memperkuat rantai pasok energi nasional.
Bagi kita sebagai konsumen, efisiensi ini tentu membawa angin segar. Pelayanan publik dari Pertamina diharapkan menjadi lebih responsif dan prima, memastikan pasokan energi untuk kebutuhan sehari-hari tetap aman dan tangguh (resilient).
Tentu saja, langkah besar ini tidak dilakukan sendirian atau sembunyi-sembunyi. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa Pertamina selalu mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (tata kelola perusahaan yang baik) dan manajemen risiko yang matang.
Dalam prosesnya, Pertamina merangkul banyak pihak, mulai dari instansi lintas sektoral, auditor, aparat penegak hukum, Danantara, BP BUMN, hingga internal seperti Serikat Pekerja. Dukungan penuh ini memastikan bahwa perampingan berjalan di jalur yang benar dan menciptakan nilai tambah yang maksimal bagi negara.
Yang tidak kalah menarik untuk disimak, transformasi Pertamina ini tetap berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Sebagai pelopor transisi energi di Indonesia, Pertamina terus berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 dan program berkelanjutan (SDGs).
Melalui penerapan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnisnya, Pertamina membuktikan bahwa menjadi raksasa ekonomi tidak harus mengorbankan bumi. Langkah perampingan ini justru membuat mereka lebih fokus melahirkan inovasi energi bersih yang ramah lingkungan.
Melalui langkah bebenah ini, Pertamina tidak hanya tumbuh menjadi perusahaan yang lebih sehat dan efisien, tetapi juga semakin siap memberikan pelayanan terbaik bagi ketahanan energi di setiap rumah tangga Indonesia. (Des)




