WANITAINDONESIA.CO – Lurah Kota Bambu Utara, H. Setia Budi, mengajak warga RW 07 untuk memperkuat kedisiplinan dalam memilah sampah dari sumbernya. Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi “Pilah Sampah dari Sumbernya” sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran warga dalam mengelola sampah sejak dari rumah.
Kegiatan sosialisasi ini menjadi penting karena persoalan sampah di Jakarta tidak lagi dapat bertumpu sepenuhnya pada tempat pembuangan akhir. Kesadaran masyarakat di tingkat rumah tangga dinilai menjadi faktor utama untuk menekan volume sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantar Gebang secara bertahap.
“Mulai 10 Mei, warga DKI Jakarta harus disiplin memilah sampah dari sumbernya. Ini bukan lagi sekadar imbauan, tetapi kebutuhan mendesak karena kapasitas Bantar Gebang sudah tidak mampu terus menjadi tumpuan utama pembuangan akhir sampah Jakarta. Karena itu, kami mengajak seluruh warga untuk bertanggung jawab sejak dari rumah, dengan memilah sampah organik, anorganik, dan residu agar pengelolaan sampah bisa berjalan lebih efektif dan berkelanjutan,” tegas Lurah KBU, H. Setia Budi.
Dalam kegiatan tersebut, warga RW 07 didorong untuk memahami bahwa pemilahan sampah bukan merupakan pekerjaan tambahan yang rumit, melainkan kebiasaan sederhana yang memiliki dampak besar bagi lingkungan. Sampah organik, seperti sisa makanan, sayur, buah, dan daun, dapat diolah kembali. Sampah anorganik, seperti botol plastik, kardus, kertas, dan logam, dapat dipilah untuk didaur ulang atau disalurkan melalui bank sampah. Sementara itu, sampah residu perlu dipisahkan agar tidak mencemari jenis sampah lain yang masih memiliki nilai manfaat.
H. Setia Budi menekankan bahwa salah satu persoalan utama dalam pengelolaan sampah Jakarta adalah tingginya komposisi sampah organik. Padahal, apabila dikelola secara tepat, sampah organik dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
“Hampir separuh sampah yang masuk ke Bantar Gebang merupakan sampah organik. Karena itu, tantangan terbesar kita bukan hanya mengurangi volume sampah, tetapi memastikan sampah organik dapat diolah secara tepat agar terurai dan memiliki nilai manfaat. Hasilnya bisa menjadi pupuk padat, pupuk cair untuk taman-taman, bahkan produk turunan lain yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Lurah KBU, H. Setia Budi.
Melalui sosialisasi ini, Kelurahan Kota Bambu Utara berharap RW 07 dapat menjadi salah satu lingkungan yang aktif membangun budaya pilah sampah dari rumah. Perubahan perilaku warga dinilai menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan tertata.
Gerakan pilah sampah dari sumbernya juga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi semata, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan kolektif. Dengan keterlibatan warga, pengurus RT/RW, kader lingkungan, dan unsur kelurahan, pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lebih terarah, mulai dari pemilahan, pengumpulan, pengolahan, hingga pemanfaatan kembali.
Lurah Kota Bambu Utara menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada komitmen bersama. Setiap rumah tangga memiliki peran penting dalam mengurangi beban sampah kota. Dengan memilah sampah sejak dari rumah, warga tidak hanya membantu pemerintah, tetapi juga ikut menjaga masa depan lingkungan Jakarta.





