
WANITAINDONESIA CO – Regenerasi talenta merupakan bagian penting dari masa depan industri fesyen Indonesia.
Melalui “Future Fashion Designer” kami ingin menciptakan ruang bagi para desainer muda, untuk menguji kemampuan mereka secara nyata. Membangun kepercayaan diri serta mempersiapkan diri menghadapi industri yang terus berkembang (Soegianto Nagaria, Chairman JF3 Fashion Festival).
Lewat buah pemikiran kreatif, mentalitas tangguh serta keterampilan jari jemari, Arron Bryan berhasil membungkam stigma negatif Gen-Z. Ia berhasil meraih juara “Future Fashion Designer” 2026.
Passion, dan pendidikan menjadi dasar bagi desainer muda untuk bersinar di dunia mode. Didukung dengan kreativitas, inovasi serta semangat yang menjadi DNA Gen-Z dia mampu menunjukkan kualitas serta jati dirinya, sebagai asa desainer muda Indonesia masa depan.
Nom-noman lencir (bhs Jawa, anak muda berperawakan langsing tinggi) berpembawaan hangat, mengaku beruntung mengikuti Program baru JF3 “Future Fashion Designer”. “Ini bukan hanya tentang sebuah kemenangan yang ia torehkan di ajang bergengsi tersebut. Tapi ia merasa tersanjung dengan beragam ilmu serta insight menarik yang akan menambah wawasannya di industri yang sangat dinamis tersebut.”
Melihat challenge yang ditawarkan panitia penyelenggara, kesemuanya merupakan pengejawantahan ilmu serta mentalitas yang didapat di Sekolah Mode bergengsi Susan Budihardjo Fashion Forward Institute.
Atas peran Public Relations JF3, Wanitaindonesia.co berhasil melakukan wawancara dengan mengirimkan sejumlah pertanyaan kepada Arron Bryan pemenang JF3, “Future Fashion Designer 2026” guna menggali lebih dalam pemikiran, kreativitas serta passion anak muda flamboyan ini.

Wanitaindonesia.co:
“Apa yang melatarbelakangi Anda mengikuti “Fashion Future Designer”?
Arron Bryan:
“Saya memiliki keinginan kuat untuk terus menggali potensi diri serta turut berkontribusi di dunia fesyen sebagai perwakilan Gen-Z.
Saya merasa hidup lewat karya yang harus lebih baik dari sebelumnya. Berkontribusi positif di dunia fesyen lewat karya serta selalu merasa tertantang guna mencapai tujuan yang lebih baik.”
“Kompetisi ini sangat bernilai untuk mengasah kreativitas, kemampuan desain, dan juga memberikan pemahaman baru di industri yang sangat dinamis ini.”
“Kian berbobot karena dihelat secara berkolaborasi oleh dua lembaga yang kredibel yakni Jakarta Fashion Festival, dan Susan Budihardjo Fashion Forward Institute. Juga didukung oleh ekosistem industri mode Indonesia, yang melibatkan para profesional, sosok inspiratif, “ungkap Arron Bryan.
“Selama ini belum ada kompetisi sekreatif FFD, terlebih ada beragam tantangan yang harus dieksekusi oleh para peserta yang telah dipersiapkan dengan sangat cermat oleh panitia penyelenggara.”
“Teristimewa kompetisi antar siswa sekolah mode di Indonesia ini menghadirkan 12 orang juri. Mereka datang dengan beragam latar belakang, dikenal memiliki nama besar di Indonesia serta dikancah global di industri fashion, “ujarnya.
Wanitaindonesia.co:
“Di circle keluarga, siapa yang mendorong Anda untuk menjadi desainer?
Arron Bryan:
“Keluarga merupakan support system terbesar yang mendorong saya kian mencintai dunia fesyen. Sejak di Sekolah Dasar minat saya nyata mulai terlihat. Startnya saya gemar membuat sketsa desain pakaian. Bertambahnya usia passion tersebut semakin menguat.”
“Atas dukungan orang tua, saya putuskan untuk memperdalam ilmu di bidang mode dengan menempuh pendidikan. Support system keluarga kemudian memotivasi saya untuk terus belajar, berkarya serta mengembangkan potensi diri.”

Wanitaindonesia.co:
“Bisa dijelaskan karya Anda yang dipresentasikan pada acara press conference lalu, dari tema, inspirasi, tehnik hingga peruntukan?
Arron Bryan:
“Sebagai peserta yang sampai di final program, saya harus mampu mewujudkan 5 karya dari 5 tantangan yang dihasilkan dari ide, buah pemikiran cemerlang serta proses kreatif. Kesemuanya harus dikerjakan mandiri hanya dalam waktu 2 minggu!
“Tantangan pertama yakni Prototype. Saya diberi bahan blacu sebanyak 15 meter untuk membuat pakaian apapun yang mengedepankan unsur kreativitas. Karena prototype tak perlu finishing hingga ke bagian dalam.”
“Saat desainer membuat sampel tentunya akan bermain dengan blacu, dan torso. Ini menjadi dasar para juri untuk melihat potensi serta kreativitas peserta dalam mengolah blacu menjadi sebuah look.”
“Tantangan kedua adalah The Curve. Saya didrop di sebuah kawasan yang banyak menjual mebel. Lalu dirangsang untuk mencari ide serta inspirasi dari peranti interior tersebut sesuai dengan interpretasi individu.”
Berlanjut ke Re’Heritage yang terinspirasi dari budaya Indonesia yang dibuat modern. Wajib mengolah heritage lokal menjadi produk modern berupa material kain yang diproduksi dengan teknik digital print. Peserta wajib menggunakan motif orisinal yang berbeda dari motif print pabrik.”
“Kian menarik dengan tantangan keempat Multifunction. Isu sustainable fashion merupakan keniscayaan. Saya harus membuat sebuah baju yang bisa ditampilkan menjadi beberapa look.
Ini merupakan tantangan yang rumit, karena saya harus memikirkan teknik, dan pola secara cermat serta detil. Dari atas bisa jadi ke bawah, dari bawah bisa jadi ke samping dlsbnya.”
“Nah yang memacu adrenalin saya ketika menerima tantangan terakhir yaitu Opposite. Ide besarnya terinsipirasi dari karakter desain perhiasan Rinaldy A. Yunardi, tapi dibuat menjadi sebuah karya yang terbalik.”
“Opposite” merupakan interpretasi kebalikan dari maha karya desainer aksesoris dunia Rinaldy A. Yunardi berjudul Tiara. Kemudian saya interpretasikan menjadi bridal headpiece putih, dengan siluet angsa putih, bergaya Art Nouveau. Karya ini saya maknai sebagai representasi kemurnian, kelembutan serta keanggunan.”
“Lewat “Opposite”, saya menstransformasikan nilai-nilai tersebut menjadi “Black Swan”. Ini reflekssi dari sebuah karakter antagonis, arogan namun memiliki kesan modern elegan, bersih.”
“Material yang digunakan berupa bahan tweed bertekstur kasar, sebagai kontras terhadap kesan lembut dari inspirasi di awal. Paduannya berupa material net black yang akan memperkuat karakter dramatis serta elegan dari keseluruhan tampilan, “terangnya.

Wanitaindonesia.co:
“Di bagian mana dari tantangan “Opposite” yang mereflesikan karya desainer aksesoris Rinaldy A. Yunardi?
Arron Bryan:
“Benang merah untuk mewujudkan karakter elegan nan dramatis yang menjadi ciri khas headpiece, saya interprestasikan lewat konsep black swan.”
“Ada beberapa elemen detail dari karya inspirasi yang saya adaptasi, dan transformasikan ke dalam busana. Sebuah karya yang memiliki keterkaitan antara sumber inspirasi serta hasil akhir karya saya, meskipun keduanya hadir dalam karakter serta nuansa yang berlawanan.”
Wanitaindonesia.co:
“Ada berapa peserta di ajang “Future Fashion Designer”, dan mengapa karya Anda menjadi pemenang?
Arron Bryan:
“Dari banyaknya peserta, hanya ada 8 peserta terpilih. Lima peserta yang kemudian maju ke babak final untuk mengeksekusi karya mereka.”
“Program “Future Fashion Designer”, telah berkontribusi positif bagi ilmu, wawasan di dunia mode serta mendapatkan insight menarik.
Saya apresiasi kriteria penilaian, yang tidak hanya berfokus pada karya akhir, namun cara peserta bekerja semenjak awal.”
“Juga dinilai konsistensi peserta dalam menyelesaikan setiap tantangan serta kemampuan saat mempresentasikan konsep, dan karya mereka dengan baik, “papar Arron Bryan.
“Sebagai wakil Gen-Z di dunia fesyen, kemenangan ini tak serta merta membuat saya jumawa. Jujur dari hati, karya saya masih jauh dari kata sempurna lho, namun saya sangat antusias, bersemangat untuk terus belajar.”
“Teristimewa ketika mengikuti Program “Future Fashion Designer” yang telah berjasa mempertemukan saya, dengan tokoh-tokoh penting di industri mode. Mereka adalah persona yang memiliki energi kreatif luar biasa.”
“Esensinya bahwa setiap karya harus dikerjakan dengan passion, bila ini sudah terpenuhi, yang lainnya pasti akan mengikuti. Saya yakin hasilnya akan
“mencuri” perhatian.”
“Terbukti dengan beragam tantangan, tekanan serta “drama” karena waktu yang sangat terbatas, biaya eksekusi yang ditentukan. Bahkan ada beberapa momen saya harus berpikir kreatif, untuk mengubah detail karya yang sudah jadi, atas saran juri. Bayangkan hanya ada sisa waktu 4-5 jam sebelum penilaian, “imbuhnya.
“Walau keputusan akhir ada di saya, tapi karena saran tersebut sangat mencerahkan tentu saja saya ikuti. Ada perasaan tegang karena harus berjibaku dengan waktu, tapi akhirnya saya berhasil untuk mengeksekusinya. Saya berprinsip konsistensi adalah keniscayaan.”
“Kunci utama kemenangan ini, saya bekerja dengan tenang. Membuat skala prioritas kerja serta efesiensi waktu, “papar Arron Bryan.

Wanitaindonesia.co:
“Dari beragam tantangan, di bagian mana yang menurut Anda paling sulit?
Arron Bryan:
“Seluruh tantangan memiliki tingkat kesulitan, hanya tentu saja ada perbedaan. Setiap tantangan memiliki pembelajaran mendalam yang menjadi tujuan mulia Program “Future Fashion Designer”, guna mengkader generasi muda mumpuni dalam melanjutkan legacy generasi senior.”
“Dalam kurun waktu 14 hari, saya harus membuat 5 koleksi dari 5 tema yang telah ditentukan. Ke lima tema yang merupakan tantangan tersebut, masing-masing dirancang untuk menguji aspek yang berbeda seperti eksplorasi identitas desain, interpretasi budaya, inovasi, kemampuan beradaptasi, hingga penyelesaian masalah secara kreatif.”
“Peserta harus melakukan seluruh proses yang lazim dilakukan oleh fashion designer profesional seperti riset konsep, pemilihan material, penyusunan anggaran, pembuatan pola, proses produksi, styling hingga presentasi di hadapan panel juri.”
“Menurut saya tantangan ke empat “Transformation” menjadi pekerjaan tersulit selama mengikuti kompetisi.
Peserta harus membuat karya dengan tampilan smart casual, dan ditransformasikan menjadi tampilan lainnya.”
“Konsekuensinya, selain harus memiliki kemampuan desain, peserta harus mumpuni mengembangkan konsep transformasi dari satu look ke look lainnya.
Peserta juga dituntut untuk mempertimbangkan aspek sustainability, fungsi serta style “beber Arron Bryan.
Wanitaindonesia.co:
“Apa Anda pernah mengikuti kompetisi mode sebelumnya? Seberapa penting peran Susan Budihardjo Fashion Forward Institute dalam mendidik Anda, terutama ketika diimplementasikan pada sebuah kompetisi?
Arron Bryan:
“Saya pernah mengikuti kompetisi fashion lainnya, dan mampu menunjukkan prestasi gemilang. Tentu saja ilmu yang saya peroleh di bidang fesyen sangat membantu saat berkompetisi. Ini seperti praktik yang diuji dengan sekolah mode atau peserta lain, yang datang dari latar belakang yang sama, atau mereka yang memiliki pengalaman di bidang mode.”
“Susan Budihardjo Fashion Forward Institute telah menempa serta membentuk mental saya dalam berkarya, agar dapat berkiprah nyata di industri fesyen yang sesungguhnya.
Saya diajarkan membuat pola, teknik menjahit, peningkatan kualitas serta kerapihan. Juga cara mempresentasikan karya.”
Wanitaindonesia.co:
“Apa pesan Anda untuk peserta Program “Future Fashion Designer” musim kedua?
Arron Bryan:
“Bergabunglah, jangan meragu untuk ikut! Karena di sini tempatnya teman-teman untuk mencoba, belajar serta berkembang.
Hey kalian, Gen-Z itu merupakan generasi asa bangsa yang unggul. Lekat dengan karya yang lahir dari hati, yang merepresentasikan jati diri. Eksplorasilah kemampuan kalian lewat karya terbaik. Wujudkan dengan kerja cerdas.”
Wanitaindonesia.co:
“Apa saran Anda untuk Program “Future Fashion Designer”?
Arron Bryan:
“Saya merasa Program “Future Fashion Designer” sudah sangat baik. Terutama untuk bobot tantangan yang diberikan kepada peserta. Ini seperti paket lengkap bagi calon desainer masa depan. Saya percaya para kolaborator program JF3, dan Susan Budihardjo Fashion Forward Institute akan menyempurnakan teknis penyelenggaraan ke depan.”
Wanitaindonesia.co:
“Menurut Anda, apakah yang menjadi tantangan serta dampak utama bagi desainer muda, dalam kondisi geopolitik global seperti sekarang ini?
Apakah Anda memiliki solusi?
Arron Bryan:
“Tentu saja tantangan dari geopolitik global serta dampaknya itu ada, dan sangat beragam. Industri mode merupakan industri yang sangat dinamis, persaingan terbuka global serta kemajuan teknologi, harus ditaklukkan oleh para desainer muda.”
“Solusinya adalah passion, ini menjadi dasar untuk terjun di industri. Saya berpesan teruslah mengembangkan potensi diri. Masuk ke dalam ekosistem fesyen yang kuat serta produktif. Juga perkuat karakter kalian sebagai seorang desainer. Tak kalah penting, kalian membutuhkan jejaring, agar terus membumi, “pesan Arron Bryan.
Wanitaindonesia.co:
“Ke depan, Anda ingin terjun ke industri sebagai apa? Pemilik brand atau pekerja?
Arron Bryan:
“Arron tak menjawab secara lugas. “Dunia fesyen itu sangat luas. Saya ingin banyak mengeksplor lebih jauh, lebih baik. Apapun nanti pilihannya, saya sudah siap lahir, dan batin.
Yang pasti tekad saya membaja untuk ikut menginsipirasi, berkontribusi di industri fesyen yang dinamis, “tutupnya. (*)




