
WANITAINDONESIA.CO – Kondisi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi kini tengah berada dalam titik yang mengkhawatirkan. Pada Minggu (8/3), terjadi insiden longsor gunungan sampah di Zona 4A yang memakan korban jiwa. Peristiwa memilukan ini menjadi alarm keras bagi kita semua bahwa daya tampung lokasi pembuangan akhir tersebut sudah sangat terbatas.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menegaskan bahwa pemerintah akan memperketat sistem pemilahan sampah agar tidak semua beban dibuang ke Bantargebang.
“Jumlah sampah kita antara 7.400 sampai 8.000 ton per hari. Hampir sebagian besar tidak dilakukan pemisahan, langsung dikirim ke sana,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Senin.
Saat ini, pemerintah tengah menyiapkan zona tambahan dan area pembuangan sementara. Namun, solusi fisik saja tidak akan cukup jika aliran sampah dari sumbernya—termasuk rumah tangga kita—tidak segera dikurangi.
Sebagai perempuan yang peduli pada lingkungan dan masa depan keluarga, peran kita di dapur dan rumah tangga sangatlah besar. Memilah sampah bukan sekadar membantu petugas kebersihan, tapi merupakan langkah nyata menyelamatkan bumi.
Salah satu langkah sederhana yang bisa Sahabat WI terapkan yakni dengan menyiapkan tiga wadah sampah yang digunakan untuk sampah organik (sisa makanan, kulit buah, dan potongan sayur), anorganik (botol plastik, kaleng, dan kaca), dan sampah residu (pembalut, popok sekali pakai, atau tisu kotor yang sulit didaur ulang).
Sampah organik adalah penyumbang volume terbesar di Bantargebang yang sering memicu gas metana (pemicu longsor). Sahabat bisa mulai belajar membuat kompos sederhana di rumah menggunakan wadah tertutup atau metode lubang biopori di halaman.
Botol plastik atau wadah bekas makanan yang dicuci bersih memiliki nilai ekonomi lebih tinggi bagi bank sampah atau pemulung, sehingga lebih besar kemungkinannya untuk didaur ulang daripada berakhir menumpuk di Bantargebang.
Bawa tas belanja sendiri, gunakan botol minum isi ulang, dan kurangi penggunaan alat makan plastik saat memesan makanan daring. Semakin sedikit sampah yang kita hasilkan, semakin ringan beban bumi.
Mari kita jadikan gaya hidup minim sampah sebagai bagian dari kasih sayang kita untuk lingkungan yang lebih bersih dan aman bagi anak cucu kita. (Gdi)




