
WANITAINDONESIA.CO – Matahari baru saja meninggi di langit Jakarta saat Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, berdiri di hadapan peserta diskusi SHEnergy Fest 2026 (Festival Energi Perempuan 2026). Dengan nada suara yang mantap namun penuh empati, ia membawa sebuah narasi perubahan yang kini tengah digodok di lingkaran pemerintahan. Komitmennya jelas, yaitu mengubah arah kebijakan dari yang semula bersifat kaku dari atas ke bawah (top-down), menjadi sebuah gerakan yang tumbuh dari bawah ke atas (bottom-up) demi menyentuh langsung nadi kehidupan masyarakat di tingkat akar rumput.
Langkah baru ini bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan sebuah ikhtiar untuk mendengarkan kembali suara-suara yang selama ini kerap terabaikan di sudut-sudut desa. Menurut Veronica Tan, pemerintah saat ini sangat membutuhkan ringkasan kebijakan (policy brief) yang disusun langsung oleh masing-masing komunitas. Dokumen tersebut nantinya akan menjadi landasan bagi kementerian untuk mengambil tindakan nyata dan merumuskan solusi yang tepat sasaran. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa lagi berjalan sendiri dengan memaksakan program dari pusat. Ke depan, fasilitas yang disediakan negara harus dipadukan secara harmonis dengan kondisi, kearifan, serta kebutuhan riil yang dihadapi oleh masyarakat di setiap daerah.
Ikhtiar Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam memadukan program kerja ini bertujuan agar manfaatnya benar-benar meresap hingga ke tingkat desa. Fokus utamanya adalah menjawab kebutuhan mendesak kaum perempuan, anak-anak, serta kelompok rentan secara nyata. Salah satu bukti konkret yang dihadirkan adalah program kebun pangan lokal perempuan yang terletak di Nusa Tenggara Timur.
Program di tanah Nusa Tenggara Timur tersebut menjadi potret nyata bagaimana pemberdayaan perempuan berjalan selaras dengan dukungan terhadap transisi energi dan pembangunan yang berkelanjutan. Melalui inisiatif ini, kaum perempuan diberikan ruang dan kesempatan seluas-luasnya untuk menjadi agen perubahan. Mereka bergerak aktif mengelola lahan Perhutanan Sosial yang menjadi pintu masuk (entry point) bagi penguatan ekonomi keluarga sekaligus memperkokoh ketahanan pangan masyarakat setempat.
Tantangan terbesar dalam pembangunan saat ini, menurut Veronica Tan, sebenarnya bukan terletak pada ketiadaan program. Persoalan mendasar justru ada pada bagaimana cara mewujudkan sudut pandang (perspektif) gender ke dalam pelaksanaan kebijakan pembangunan yang selama ini dirasa belum sepenuhnya berpihak atau responsif gender. Kesenjangan antara konsep di atas kertas dan realita di lapangan inilah yang kini sedang dijembatani oleh kementerian.
Pemerintah ingin mendorong agar konsep desa mandiri yang berbasis keadilan gender tidak sekadar menjadi wacana indah di ruang rapat. Veronica Tan menegaskan tekadnya untuk mengawal gagasan tersebut hingga benar-benar terealisasi dan menjelma menjadi kenyataan yang hidup di tengah masyarakat. Demi mewujudkan ruang hidup yang lebih adil tersebut, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak membuka pintu selebar-lebarnya untuk berkolaborasi dengan seluruh elemen, mulai dari komunitas lokal, kalangan akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil demi mendorong transisi energi yang berkeadilan.
Di akhir pemaparannya, Veronica Tan menitipkan sebuah pesan mendalam yang menyentuh sisi kemanusiaan kita semua mengenai esensi dari sebuah pembangunan yang inklusif.
“Program kebun pangan lokal perempuan di NTT sebagai salah satu contoh pemberdayaan perempuan dalam mendukung transisi energi dan pembangunan berkelanjutan. Melalui program tersebut, perempuan diberi kesempatan menjadi agen perubahan dengan cara mengelola lahan Perhutanan Sosial sebagai entry point pemberdayaan ekonomi perempuan sekaligus penguatan ketahanan pangan masyarakat.”
Kata-kata tersebut menjadi pengingat berharga bagi kita semua. Bahwa di balik setiap angka statistik pembangunan dan kebijakan yang dirumuskan di ibu kota, ada jemari para ibu di pelosok desa yang tengah berjuang merawat tanahnya, ada senyum anak-anak yang menaruh harapan pada masa depan, dan ada martabat kaum perempuan yang sedang bangkit demi kemandirian bangsa. Pemberdayaan sejati sejatinya bermula dari ketulusan untuk mendengar, menghargai, dan berjalan bersama mereka. (gdi)




