WANITAINDONESIA.CO – Riuh rendah suasana pasar tradisional selalu menjadi denyut nadi perekonomian yang paling jujur. Di balik tumpukan cabai yang memerah dan deretan daging ayam, ada keseimbangan yang harus terus dijaga agar dapur masyarakat tetap mengepul tanpa membuat para petani dan peternak menjerit rugi.
Menyadari hal tersebut, pemerintah berkomitmen penuh untuk hadir di tengah masyarakat guna memastikan ketersediaan pasokan dan stabilitas harga bahan kebutuhan pokok di berbagai daerah. Langkah ini diambil demi melindungi kepentingan konsumen sekaligus menjaga keberlangsungan usaha para produsen di hulu.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam dalam mengawal pergerakan harga pangan ini.
Mendag menyatakan bahwa pemerintah terus akan menjaga ketersediaan pasokan bahan pokok dan juga stabilisasi harga. Berdasarkan hasil pemantauan terkini di lapangan, harga sejumlah komoditas pangan dinilai relatif baik dan berada dalam kondisi yang terkendali.
Tren positif ini terlihat jelas pada pergerakan harga komoditas penting seperti bawang merah, bawang putih, serta cabai.
Sebagai gambaran nyata, Budi Santoso mengungkapkan bahwa harga cabai rawit tercatat berkisar Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram. Angka ini secara signifikan lebih rendah dibandingkan harga eceran tertinggi (HET) yang berada di kisaran Rp57.000 per kilogram.
Sementara itu, untuk komoditas protein, harga telur ayam terpantau berada di kisaran Rp25.000 per kilogram dan harga daging ayam berada di sekitar Rp36.000 per kilogram.
Namun, harga yang terlampau murah ternyata bukan selalu menjadi berita baik bagi semua pihak. Menteri Perdagangan menjelaskan bahwa harga pangan yang ideal adalah harga yang mendekati harga acuan maupun HET, karena angka tersebut mencerminkan titik keseimbangan (ekuilibrium) antara kepentingan produsen dan konsumen.
“Kalau harga terlalu rendah, kasihan juga peternak. Tapi kalau harga di atas itu, kasihan juga konsumen. Maka kita cari titik temu antara produsen dan pembeli,” ujar Budi Santoso.
Menyikapi harga telur dan daging ayam yang saat ini masih berada pada level rendah, pemerintah langsung bergerak cepat. Langkah konkret dilakukan dengan berkoordinasi bersama sektor perhotelan, restoran, kafe, dan ritel modern (pasar swalayan) agar mereka meningkatkan penyerapan produk peternakan.
Dengan strategi ini, diharapkan harga di tingkat peternak dapat kembali merangkak naik ke level yang adil dan stabil.
Pengawasan ketat ini tidak dilakukan secara raba-raba. Pemerintah memanfaatkan teknologi mutakhir melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).
Saat ini, lini masa tersebut diperkuat oleh sekitar 550 kontributor (penyumbang data) di 514 kabupaten dan kota yang setiap hari melaporkan kondisi harga langsung dari lapangan. Budi Santoso memaparkan bahwa setiap hari timnya mengecek perkembangan harga di pasar dan datanya langsung masuk ke sistem.
Dari Jakarta, pihak kementerian bisa memantau pergerakan tersebut, namun mereka juga berkomitmen untuk tetap turun langsung ke daerah-daerah.
Kehadiran fisik jajaran kementerian di pasar tradisional bukan sekadar untuk mengumpulkan data di atas kertas.
Langkah ini menjadi bentuk pengawasan langsung agar para pedagang mematuhi ketentuan harga yang berlaku. Secara psikologis, sidak (inspeksi mendadak) ini bisa mengingatkan kepada pedagang pasar bahwa menjual tidak boleh melebihi HET, sekaligus menjadi bentuk pengawasan langsung kepada masyarakat.
Tidak hanya fokus pada fluktuasi harga harian, perhatian kementerian belakangan ini juga tersita oleh investigasi terhadap dugaan permasalahan pada produk minyak goreng rakyat, Minyakita, yang diproduksi oleh PT KMR di Karanganyar. Menteri Perdagangan menegaskan bahwa seluruh produk terkait telah ditarik oleh perusahaan dan saat ini masih menjalani pemeriksaan laboratorium (balai pengujian). Beliau menyatakan dengan tegas bahwa jika memang terbukti melanggar aturan, izin usaha perusahaan tersebut bisa dicabut, karena semua harus diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Di sisi lain, pemerintah juga menaruh perhatian pada komoditas daging sapi yang belakangan mengalami kenaikan harga.
Saat ini, penelusuran mendalam sedang dilakukan dari sisi pasokan maupun jalur distribusi agar langkah penanganan yang diambil dapat tepat sasaran. Budi Santoso menekankan bahwa harga yang sedang naik maupun turun harus ada penanganannya secara spesifik. Jika harga turun, penyerapannya harus diperbanyak, dan jika naik, pemerintah akan mengawasi serta memonitor apakah penyebabnya ada pada masalah distribusi atau pasokannya.
Menjaga stabilitas harga pangan memang bukan perkara mudah, bak menari di atas dua kepentingan yang saling bertolak belakang. Namun, lewat pengawasan yang ketat dan kepedulian yang nyata, harapan agar piring-piring di meja makan seluruh keluarga Indonesia tetap terisi dengan layak kini bukan lagi sekadar impian. (Gdi)





