WANITAINDONESIA.CO — Asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan kembali membayangi kehidupan satwa liar di pedalaman Kalimantan. Kondisi memprihatinkan ini tergambar jelas saat hewan penjelajah pohon tersebut harus berjuang bertahan hidup di tengah kepungan kabut asap yang merusak saluran pernapasan mereka.
Gambaran nyata atas krisis lingkungan ini memantik perhatian serius dari pegiat lingkungan sekaligus CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Jamartin Sihite. Ia menegaskan pentingnya penguatan pelindungan habitat satwa secara menyeluruh agar tidak makin tergerus oleh kehancuran alam.
“Kalau orangutan terdampak, bayangkan satwa liar lain di hutan yang juga terdampak. Ini harus menjadi perhatian Presiden dan Wakil Presiden,” ujar CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Jamartin Sihite dalam keterangannya, Senin.
Sorotan terhadap keselamatan habitat ini mengemuka seiring kunjungan Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka ke pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan Tengah. Dalam kunjungan tersebut, Wapres menyaksikan langsung bagaimana para pengabdi konservasi merawat orangutan yang terpapar asap tebal, bahkan hingga membutuhkan alat bantu pernapasan (nebulizer) untuk bertahan hidup.
BOSF mengapresiasi kehadiran pejabat negara yang turun langsung melihat kondisi di lapangan. Jamartin menilai langkah tersebut menjadi bukti nyata kepedulian pemerintah terhadap isu lingkungan hidup.
“Kami berpikir, seeing is believing (melihat adalah mempercayai). Beliau melihat langsung teman-teman kami bekerja memperhatikan orangutan dan bagaimana kami merawat mereka walaupun ada asap,” kata Jamartin.
Ia menyambut baik bantuan yang disalurkan melalui Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berupa alat bantu pernapasan, pasokan oksigen, hingga peralatan pemadam kebakaran. Menurut penilaiannya, perhatian yang ditunjukkan pemerintah saat ini sudah menunjukkan kemajuan yang membesarkan hati.
“Yang ada sekarang, menurut kami sudah lebih baik dari sebelumnya, tetapi harus ditingkatkan,” tutur CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Jamartin.
Meski demikian, penanganan dampak kesehatan hanyalah langkah hilir. Tantangan terbesar sesungguhnya terletak pada pelindungan kawasan hutan yang masih tersisa agar tidak dialihfungsikan untuk peruntukan lain. Kawasan berhutan yang secara tata ruang masih berpotensi dikonversi dinilai perlu mendapatkan status perlindungan yang lebih kuat apabila terbukti menjadi ruang hidup bagi berbagai jenis satwa.
“Dari apa yang beliau lihat dan dari pengalaman kami, beliau memberikan perhatian yang cukup besar terhadap satwa liar, tidak hanya orangutan,” ungkap Jamartin.
Korban orangutan di balik kabut asap adalah sinyal bahaya bagi kelestarian alam nusantara. Menjaga setiap jengkal hutan bukan sekadar menyelamatkan satu spesies, melainkan merawat benteng terakhir penyeimbang ekosistem demi keberlangsungan hidup seluruh makhluk di bumi. (Gdi)





