Dikepung Asap Karhutla Ketapang, Induk dan Anak Orangutan Berhasil Diselamatkan

Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) kembali mengevakuasi induk dan anak orangutan dari Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan yang terancam akibar kebakaran hutan dan lahan. YIARI

WANITAINDONESIA.CO – Di tengah kepulan asap pekat yang menyelimuti Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, perjuangan mempertahankan hidup menjadi sangat berat bagi satwa primata endemis Indonesia. Sepetak hutan tersisa di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, tak lagi mampu menjadi benteng perlindungan yang aman. Kobaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas merenggut ruang gerak dan jalur penyelamatan, memaksa seekor induk orangutan berusia sekitar 20 tahun bersama bayi jantannya yang baru berusia di bawah 1 tahun terjebak dalam situasi krisis.

Melihat kondisi darurat akibat api yang semakin mendekat dan ketiadaan jalur berpindah, tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bergerak cepat melakukan tindakan penyelamatan. Momen dramatis pelarian satwa ini berawal dari pemantauan intensif sejak pertengahan Juni 2026, ketika pasangan induk dan anak tersebut kerap terlihat mencari perlindungan di kawasan perkebunan warga yang berbatasan langsung dengan hutan tempat tinggal mereka.

Baca Juga :  Nadine Alexandra Tak Ada Kata Selesai Perjuangkan Kelestarian Orangutan, serta Gaya Hidup Berkelanjutan

Langkah evakuasi darurat akhirnya diputuskan dan dilaksanakan pada Kamis, 3 September 2026. Sejak pukul 06.30 Waktu Indonesia Barat (WIB), tim ahli yang dikawal medis dokter hewan bersiap di lapangan. Proses evakuasi berlangsung penuh ketelitian, di mana induk orangutan terlebih dahulu disuntik pembius (anestesi) untuk mengurangi tingkat stres, lalu ditangkap secara aman menggunakan jaring penyelamat bersama anak yang terus mendekap erat sang induk.

Dokter hewan YIARI, drh. Komara, mengungkapkan bahwa pemeriksaan awal tidak menemukan luka fisik maupun cedera bakar pada tubuh sang induk. Usai mendapatkan bantuan oksigen selama masa pemulihan pascapembiusan, keduanya langsung dilarikan ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI yang berlokasi di Sungai Awan Kiri untuk perawatan intensif.

Baca Juga :  ​Asap Karhutla Ancam Kesehatan Anak & Ibu Hamil, Kemenkes Siagakan 848 Nakes dan Ratusan Ribu Masker

Meskipun sang anak tampak aktif, tim medis menemukan adanya ceceran ingus dan cairan kering di sekitar area hidungnya. Dokter hewan YIARI, drh. Komara, menegaskan bahwa ancaman kabut asap tidak boleh dipandang sebelah mata karena paparan jangka panjang berpotensi merusak saluran pernapasan. Menurutnya, meskipun tidak tampak luka bakar luar pada induk maupun anak orangutan, evaluasi kesehatan secara berkala dan menyeluruh akan terus dijalankan selama mereka berada dalam penanganan pusat rehabilitasi.

Peristiwa dramatis ini merupakan bagian dari gelombang penyelamatan satwa liar yang marak terjadi sepanjang musim kemarau. Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, membeberkan fakta memprihatinkan bahwa dalam kurun waktu kurang dari 1 bulan, kolaborasi BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI telah menyelamatkan sedikitnya 9 individu orangutan yang terdesak akibat bencana kebakaran hutan di berbagai titik Kabupaten Ketapang.

Baca Juga :  Jejak Abadi Birute Galdikas: Puluhan Tahun dalam Senyap demi Orangutan Kalimantan

Situasi krisis ini memicu perhatian serius dari pihak berwenang. Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk aktif memberikan laporan apabila menemukan keberadaan satwa liar yang terdampak kebakaran agar tindakan penyelamatan dapat segera dilakukan secara aman. Ia juga menegaskan pentingnya kesadaran kolektif dalam mencegah aksi pembakaran hutan demi menjaga kelestarian habitat satwa sekaligus keberlangsungan hidup manusia.

Penyelamatan induk dan bayi orangutan ini menjadi pengingat membekas bagi kita semua bahwa setiap jengkal api yang membakar hutan bukan sekadar merusak pepohonan, melainkan juga menghancurkan rumah dan masa depan bagi kehidupan satwa liar. Mari bersama-sama tingkatkan kepedulian dan jaga lingkungan sekitar kita, karena melestarikan alam adalah investasi terbaik untuk memastikan bumi tetap menjadi rumah yang aman bagi seluruh makhluk hidup. (Gdi)