WANITAINDONESIA.CO – Indonesia dan dunia konservasi internasional baru saja kehilangan salah satu pahlawan terbesarnya. Prof. Dr. Birute Mary Galdikas, antropolog legendaris sekaligus pelindung utama orangutan Kalimantan, dilaporkan tutup usia pada umur 79 tahun di Los Angeles, Amerika Serikat.
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyampaikan rasa duka mendalam atas kepergian sosok yang ia sebut sebagai salah satu “putra terbaik” yang dimiliki Indonesia di bidang pelestarian alam.
Nama Birute Galdikas bukan sekadar nama peneliti dalam buku teks. Sejak awal tahun 1970-an, Birute telah menapakkan kakinya di tanah Kalimantan Tengah saat fasilitas riset masih sangat minim. Ia mendirikan rumah kayu sederhana yang kemudian menjadi cikal bakal penelitian primata modern dunia.
“Bila hari ini Anda melihat Taman Nasional Tanjung Puting yang indah, terjaga dengan orangutan yang membuat Anda berdecak kagum, di sana ada jejak kaki dan tangan seorang perempuan berhati keras dan berkomitmen tinggi,” ujar Raja Juli Antoni dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu.
Bekerja dalam “senyap” selama puluhan tahun, Birute tidak hanya meneliti, tetapi juga berjuang melawan ancaman kepunahan. Atas kerja kerasnya yang tak kenal lelah, Pemerintah Indonesia menganugerahinya penghargaan Kalpataru, apresiasi tertinggi bagi mereka yang berjasa luar biasa dalam pelestarian lingkungan hidup.
Wasiat Terakhir
Meski mengembuskan napas terakhir di Amerika Serikat, hati Birute Galdikas tampaknya telah lama tertambat di Bumi Tambun Bungai. Sang putra, Fred, menyampaikan sebuah wasiat mengharukan kepada Menhut Raja Juli Antoni.
Birute berpesan bahwa jika waktunya tiba, ia ingin disemayamkan di tanah yang paling ia cintai: Kalimantan Tengah. Ia ingin beristirahat selamanya di Tanah Dayak, berdekatan dengan pusara suaminya, seorang pria Dayak yang telah lebih dulu berpulang.
“Mengingat wasiat tersebut, saya kembali mengonfirmasi kepada Fred apakah jenazah akan dibawa ke Indonesia. Fred membenarkan dan saat ini tengah mengurus administrasi penerbangan jenazah dari Los Angeles ke Jakarta melalui KJRI LA,” tambah Menhut.
Birute Galdikas meninggalkan warisan berupa pengetahuan, buku-buku referensi dunia tentang primatologi, dan sebuah ekosistem yang terjaga. Kepergiannya meninggalkan lubang besar bagi komunitas aktivis lingkungan, namun semangatnya dipastikan akan terus hidup di setiap rimbun pohon di Tanjung Puting.
Kini, Indonesia bersiap menyambut kepulangan sang pejuang konservasi untuk terakhir kalinya. Seorang perempuan yang membuktikan bahwa cinta pada alam melampaui batas negara dan etnis. (Gdi)





