Perjalanan Karier Budi Utami dari Waiter ke Director of Sales & Marketing, Kisah Inspiratif Perempuan Hotelier Sejak 1996

Bagi Tami, bekerja di hotel bukan hanya soal angka okupansi atau target revenue.

WANITAINDONESIA.CO – Dunia perhotelan bagi sebagian orang mungkin sekadar tempat bekerja. Namun bagi Budi Utami yang akrab disapa Tami, industri ini adalah panggilan hati sekaligus jalan hidup. Perempuan yang memulai kariernya pada 1996 ini membuktikan bahwa konsistensi, kerja keras, dan keberanian mengambil peluang mampu mengantarkannya dari posisi waiter hingga dipercaya sebagai Director of Sales & Marketing di jaringan hotel ternama.

Tahun 1996 menjadi titik awal perjalanan profesional Tami. Ia pertama kali bergabung dengan Presiden Hotel, yang kini dikenal sebagai Pullman Jakarta, berlokasi di kawasan prestisius Bundaran HI, Jakarta.

Saat itu, Tami memulai karier sebagai waiter. Posisi entry level tersebut justru menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter profesionalnya. Bekerja langsung melayani tamu membuatnya memahami esensi hospitality, pelayanan tulus, ketelitian, dan kemampuan membaca kebutuhan pelanggan.

“Awalnya saya jadi waiter. Enam bulan kemudian ditawari masuk ke bagian sales, tapi mulai dari admin dulu,” kenangnya.

Keputusan pindah ke divisi sales menjadi langkah krusial. Dari posisi Sales Admin, hanya dalam waktu sekitar enam bulan ia dipromosikan menjadi Sales Executive. Perjalanan yang terbilang cepat ini menunjukkan kapasitasnya dalam belajar, beradaptasi, dan membangun relasi.

Jika melihat Jakarta hari ini yang dipenuhi hotel di hampir setiap sudut kota, situasinya sangat berbeda dengan era 90-an. Kawasan Bundaran HI kala itu didominasi hotel-hotel bintang lima dengan reputasi internasional.

Beberapa properti ternama yang menjadi ikon pada masa itu antara lain Grand Hyatt, Mandarin Oriental, Hotel Indonesia Kempinski, Shangri-La, Le Méridien, serta The Sultan Hotel & Residence Jakarta.

Baca Juga :  Peduli Kesehatan Perempuan, Dompet Dhuafa Kepri Gelar Pemeriksaan Kesehatan Rahim Secara Gratis

“Dulu hotel tidak sebanyak sekarang. Terasa eksklusif. Kalau bekerja di hotel itu ada kebanggaan tersendiri,” ujarnya.

Sejak kecil, Tami memang sudah terpesona dengan kemegahan hotel. Setiap kali melewati gedung-gedung tinggi tersebut, ia membayangkan suatu hari bisa menjadi bagian dari dunia itu. Bahkan setelah lulus SMP, ia sudah menetapkan cita-cita untuk bekerja di industri perhotelan atau maskapai penerbangan.

Alasannya sederhana, ia ingin melihat dunia. Industri hospitality ia anggap sebagai pintu untuk mewujudkan impian traveling keliling dunia.

Kesempatan besar datang pada 1999, saat Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi. Di tengah situasi sulit tersebut, Tami justru memperoleh peluang bekerja di luar negeri, tepatnya di Le Méridien Dubai Hotel & Conference Centre.

Ia bekerja di Dubai dari 1999 hingga 2002. Pengalaman internasional ini menjadi fase penting dalam membangun perspektif globalnya. Berinteraksi dengan tamu dari berbagai negara, mempelajari standar pelayanan kelas dunia, serta bekerja dalam lingkungan multikultural memperkaya kompetensinya secara signifikan.

Ia juga mengalami masa ketika teknologi belum semudah sekarang. Tahun 1999 bahkan baru mulai populer penggunaan pager. Sistem komunikasi masih sangat manual. Sales call dilakukan secara langsung, proposal dibawa dalam bentuk fisik, dan janji temu harus diatur melalui telepon kantor.

“Sekarang serba digital. Dulu benar-benar door to door. Tapi justru dari situ kita belajar membangun relasi yang kuat dan personal,” jelasnya.

Setelah tiga tahun di Dubai, Tami kembali ke Indonesia dan melanjutkan kariernya di Hotel Ambhara di kawasan Blok M pada 2002, bergabung di divisi Sales & Marketing.

Baca Juga :  Tak Cuma Soal Ekonomi, KPPPA: Perempuan Harus Merdeka dan Setara di Mata Hukum!

Namun tonggak penting berikutnya terjadi pada 2003 ketika ia bergabung dengan jaringan hotel internasional Accor. Ia memulai perjalanan di jaringan ini melalui Ibis Jakarta.

Di sinilah ia merasakan sistem pengembangan karier yang terstruktur dan progresif. Accor menerapkan rotasi antar properti sebagai bagian dari strategi pengembangan talenta.

Untuk naik jabatan, seorang karyawan didorong memperluas pengalaman dengan berpindah hotel dalam jaringan yang sama.

“Kalau mau naik dari Sales Executive ke Sales Manager, kita harus siap pindah properti. Tidak boleh stagnan. Itu yang membuat kita berkembang,” ujarnya.

Rotasi tersebut membawanya ke beberapa properti lain seperti Ibis Jakarta Kemayoran dan Mercure Convention Center Ancol. Di Mercure Ancol, ia cukup lama menjabat sebagai Sales Manager dan memperkuat reputasinya dalam menangani pasar korporat dan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition).

Puncak penting dalam perjalanan kariernya terjadi pada 2010 ketika ia dipercaya menjadi Director of Sales & Marketing di Ibis Jakarta Arcadia.

Posisi tersebut bukan hanya sekadar jabatan, melainkan simbol perjalanan panjang dari seorang waiter muda menjadi pemimpin strategis dalam manajemen hotel. Sebagai Director of Sales & Marketing, tanggung jawabnya meliputi strategi penjualan, branding, pengelolaan tim, hingga memastikan pencapaian target bisnis hotel.

Ia juga terlibat dalam proses opening hotel baru maupun maintenance hotel yang sudah berjalan. Pengalaman tersebut membuatnya semakin matang dalam memahami dinamika industri hospitality, baik dari sisi operasional maupun strategi bisnis.

Bagi Tami, bekerja di hotel bukan hanya soal angka okupansi atau target revenue. Industri ini adalah tentang gaya hidup, jaringan relasi, dan dinamika yang terus berubah.

Baca Juga :  Ini Alasan Mengapa Perempuan Adalah Penjaga Resiliensi Bangsa

Ia menikmati kesempatan bertemu berbagai kalangan, mulai dari media, travel agent, perusahaan multinasional, hingga pejabat dan tokoh publik. Mobilitas tinggi dan peluang traveling untuk promosi hotel menjadi nilai tambah yang membuatnya semakin mencintai profesinya.

Ia juga menyaksikan transformasi besar industri hotel dari era manual ke era digital. Jika dahulu promosi dilakukan dengan mendatangi klien satu per satu, kini strategi pemasaran mengandalkan email marketing, media sosial, platform digital, hingga sistem reservasi online yang terintegrasi.

Meski demikian, ia meyakini bahwa esensi hospitality tetap sama, hubungan manusia. Teknologi hanyalah alat, sementara kepercayaan dan relasi tetap menjadi kunci utama.
Kini, dengan pengalaman lebih dari dua dekade, Tami tetap memandang dunia perhotelan dengan semangat yang sama seperti saat pertama kali melangkah di lobi hotel pada 1996.

Impian masa kecilnya untuk menjelajahi dunia memang tidak sepenuhnya terwujud secara literal, namun melalui kariernya ia telah berkesempatan bekerja di luar negeri, mengunjungi berbagai kota, dan membangun jaringan luas lintas industri.

“Pada akhirnya ini bukan hanya soal jabatan. Tapi tentang proses, pembelajaran, dan bagaimana kita mencintai apa yang kita kerjakan,” tutupnya.

Kisah Budi Utami menjadi bukti nyata bahwa perempuan Indonesia mampu bersinar dan memimpin di industri yang dinamis seperti hospitality. Dari seorang waiter muda di era 90 an, ia kini menjelma menjadi Director of Sales & Marketing yang berpengalaman, visioner, dan inspiratif, membawa pesan bahwa perjalanan panjang selalu dimulai dari langkah pertama yang sederhana. (AM)