Napas Baru Seni Rupa Indonesia di Venesia Lewat “Printing the Unprinted”

Suasana hangat di dalam studio Scuola Internazionale di Grafica di Venesia, di mana seniman senior Theresia Agustina Sitompul (kiri) sedang membimbing seniman muda Mariam Sofrina (kanan) dalam proses pencetakan grafis (printmaking).

WANITAINDONESIA.CO – Wajah seni rupa Indonesia bersiap mengukir sejarah baru di panggung dunia melalui partisipasi megahnya dalam ajang bergengsi Venice Biennale 2026 (Pameran Seni Internasional ke-61 La Biennale di Venesia). Di bawah bendera Kementerian Kebudayaan yang kini berdiri mandiri, Indonesia mengusung misi besar untuk menjadikan budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi kokoh bagi masa depan global. Bertempat di bangunan bersejarah Scuola Internazionale di Grafica, Venesia, Paviliun Indonesia akan menjadi ruang di mana tradisi, imajinasi, dan visi masa depan bertemu dalam satu harmoni.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menegaskan bahwa kehadiran Indonesia di Italia bukan sekadar perkenalan budaya biasa. “Indonesia hadir bukan hanya untuk memperkenalkan kebudayaan kepada dunia, tetapi juga untuk ikut membentuk percakapan global melalui seni,” ujar Menbud Fadli Zon dalam keterangan resminya. Melalui tajuk yang penuh makna, Printing the Unprinted (Mencetak yang Tak Tercetak), Paviliun Indonesia ingin merayakan kekuatan imajinasi yang melampaui batas-batas realitas yang ada.

Baca Juga :  MenKopUKM Dukung Pelaku Seni Rupa Ciptakan Karya Kreatif dari Kopi Sebagai Promosi

Tajuk ini merupakan sebuah perayaan atas narasi-narasi imajinatif yang selama ini mungkin luput dari catatan sejarah. Para seniman mencoba mengisi ruang-ruang kosong, menghidupkan kembali suara-suara yang belum terdengar, serta menggali ingatan yang terlupakan. Pameran ini berangkat dari sebuah narasi fiksi tentang pelayaran besar abad ke-15 yang terinspirasi dari naskah kuno imajiner (manuskrip imajiner) Datu Na Tolu Hamonangan dari Harajaon Pusuk Buhit di Sumatra.

Baca Juga :  MenKopUKM Dukung Pelaku Seni Rupa Ciptakan Karya Kreatif dari Kopi Sebagai Promosi

“Melalui karya-karya yang ditampilkan, para seniman Indonesia menghadirkan narasi-narasi imajinatif yang mengisi ruang-ruang yang belum tercatat, ingatan yang terlupakan, dan masa depan yang belum pernah dibayangkan,” jelas Menbud Fadli Zon lebih lanjut.

Di bawah kurasi Aminudin TH Siregar, paviliun ini mempertemukan tujuh seniman lintas generasi yang memiliki kekuatan luar biasa pada medium seni cetak grafis (printmaking).

Mereka adalah Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin. Proses penciptaan karya ini dijadikan sebagai ruang perjumpaan dan pertukaran gagasan untuk membaca ulang sejarah serta identitas Nusantara dengan cara yang lebih segar.

Menariknya, pameran yang akan berlangsung mulai 9 Mei hingga 22 November 2026 ini juga menyentuh sisi kemanusiaan melalui pendekatan terapi seni (art therapy). Kolaborasi para seniman dengan talenta muda dari Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya ini memposisikan seni tidak hanya sebagai ekspresi estetika semata, namun juga sebagai medium untuk membangun empati, merawat memori, hingga meredakan trauma.

Baca Juga :  MenKopUKM Dukung Pelaku Seni Rupa Ciptakan Karya Kreatif dari Kopi Sebagai Promosi

Dengan dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Indonesia optimis mampu memperkuat posisinya sebagai pemain utama industri kreatif dunia. Perhelatan ini diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan seni visual, tradisi, dan inovasi digital Indonesia ke mata internasional, sekaligus mempertegas bahwa identitas bangsa adalah energi yang tak terbatas. (Gdi)