
WANITAINDONESIA.CO – Di tengah deru pembangunan yang transformatif di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Ibu Kota Nusantara (IKN) kini mulai menampakkan jati dirinya bukan sekadar sebagai pusat pemerintahan baru, melainkan sebagai “laboratorium hidup” terbesar di Indonesia.
Kawasan ini menjadi magnet harapan bagi dunia pendidikan tinggi untuk melahirkan inovasi yang terintegrasi langsung dengan denyut pembangunan bangsa.
Melalui sinergi yang apik, Kalimantan kini dipersiapkan menjadi episentrum baru pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga adaptif terhadap perubahan zaman.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Badri Munir Sukoco, melihat keberadaan IKN sebagai peluang emas yang harus dimanfaatkan oleh seluruh perguruan tinggi, khususnya di tanah Borneo. “IKN sedang dibangun, dan sebagai laboratorium hidup terbesar di Indonesia,” ujarnya.
Baginya, IKN bukan hanya deretan bangunan megah, melainkan ruang riset raksasa bagi mahasiswa untuk melakukan magang hingga Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Untuk mewujudkan visi besar ini, terdapat tiga strategi utama yang harus menjadi napas baru bagi perguruan tinggi. Strategi tersebut meliputi kolaborasi akademik yang memberikan dampak nyata, kerja sama produktif dengan dunia industri, serta penguatan tata kelola pendidikan yang berkualitas.
Dengan menjadikan IKN sebagai model percontohan (role model), perguruan tinggi diharapkan dapat berkontribusi langsung dalam mewujudkan Indonesia yang lebih berkelanjutan.
Langkah transformatif ini mendapat dukungan penuh dari legislatif. Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menekankan betapa krusialnya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan institusi pendidikan.
Menurut srikandi parlemen ini, kejelasan peran masing-masing pihak adalah kunci untuk membangun ekosistem pendidikan yang mumpuni di Kalimantan.
“Tentu saja semua itu dapat dicapai melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi,” ungkapnya.
Hal ini sekaligus menegaskan bahwa percepatan SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045 tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri.
Harapan besar juga datang dari sisi Otorita IKN. Sekretaris Otorita IKN, Bimo Adi Nursanthyasto, bermimpi agar kolaborasi ini mampu melahirkan kurikulum yang dinamis dan sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.
IKN bukan sekadar membangun kota fisik, tetapi membangun sebuah masyarakat yang cerdas dan inovatif. Melalui kurikulum yang adaptif, IKN diharapkan sah menjadi pusat pengembangan talenta-talenta terbaik bangsa yang siap bersaing di kancah global. (Gdi)




