WANITAINDONESIA.CO – Ketahanan energi nasional bukan lagi sekadar urusan mesin dan pabrik besar, melainkan tentang bagaimana pemenuhan kebutuhan hidup generasi masa depan tetap terjaga tanpa merusak alam.
Di sektor transportasi darat, Pertamina kini tengah membangun pabrik bioetanol terintegrasi di wilayah Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur.
Proyek yang menyatu dengan kawasan perkebunan tebu lokal ini tidak hanya memperkuat pasokan energi domestik, tetapi juga memberi napas baru bagi kesejahteraan para petani tebu dan keluarganya di daerah.
Tak hanya di darat melalui penguatan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) bersama Indonesia Battery Corporation (IBC), sentuhan inovasi hijau ini juga berlayar hingga ke lautan.
Guna mendukung mobilitas laut yang ramah lingkungan, Pertamina mendorong efisiensi energi armada kapalnya lewat pemanfaatan bahan bakar ganda (dual fuel), pengembangan amonia hijau (green ammonia), hingga pemasangan panel surya di atas dek kapal untuk memenuhi kebutuhan listrik secara mandiri.
Guru Besar dari University of Southern California (USC) Sol Price, Prof. Marlon Boarnet, yang hadir sebagai pembicara utama mengingatkan bahwa dunia saat ini sedang berada di fase awal transformasi mobilitas hijau.
Menurutnya, komoditas seperti bahan bakar hayati (biofuel) memegang peran sangat krusial sebagai jembatan transisi.
Melalui kolaborasi yang erat, setiap inovasi ini dipersiapkan agar anak-cucu kita kelak tetap dapat menikmati udara yang bersih dan laut yang sehat. (gdi)





