Menolak Jadi Beban di Hari Tua, Indonesia Harus Belajar Dari Jepang

Salah satu restoran di Jakarta yang masih memperkerjakan lansia. gdi

WANITAINDONESIA.CO – Menjadi tua adalah kepastian yang alamiah, namun tetap berdaya dan bahagia di usia senja adalah sebuah pilihan yang harus dipersiapkan sejak dini. Indonesia saat ini tidak sekadar sedang berjalan, melainkan tengah berlari menuju era masyarakat menua. Fenomena ini bukan lagi sekadar prediksi di atas kertas, melainkan sebuah realitas yang menuntut kesiapan kebijakan jangka panjang agar populasi senior tidak menjadi beban, melainkan penggerak roda ekonomi bangsa.

Perwakilan Dana Penduduk Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Population Fund/UNFPA) untuk Indonesia, Hassan Mohtashami, menegaskan bahwa Indonesia harus mulai berkaca pada negara-negara yang telah sukses mengelola populasi lanjut usia (lansia) produktif dalam skala besar. Menurutnya, Indonesia perlu memetik pelajaran berharga dari negara dengan status populasi sangat tua (super-aged population), terutama mengenai sistem perawatan lansia, skema pensiun, ekonomi lansia (silver economy), serta pemberdayaan mereka agar tetap produktif.

Baca Juga :  Krakow Menanti, Timnas Panjat Tebing Indonesia Incar Podium Juara

Hassan mengingatkan agar perhatian pemerintah tidak hanya tersedot pada isu-isu sekilas yang sedang ramai diperbincangkan hari ini. Hal yang jauh lebih krusial adalah merumuskan kebijakan visioner yang dampaknya benar-benar bisa dirasakan oleh generasi baru dalam dua hingga tiga dekade mendatang.

“Indonesia dinilai masih memiliki satu sampai dua dekade bonus demografi, yang jika dimanfaatkan secara optimal, Indonesia berpotensi menjadi negara berpendapatan tinggi, bahkan menjadi ekonomi terbesar ketiga atau keempat di dunia,” ujar Hassan Mohtashami dalam taklimat media menuju Hari Kependudukan Sedunia di Jakarta.

Demi mewujudkan mimpi besar tersebut, UNFPA kini aktif berkolaborasi dengan pemerintah Indonesia untuk mendukung berbagai penelitian dan analisis data. Langkah ini penting guna memetakan dampak perubahan demografi terhadap berbagai sektor vital, mulai dari keuangan, sistem pensiun, perlindungan sosial, hingga industri asuransi. Hassan menekankan bahwa perubahan demografi adalah fenomena alamiah yang tidak bisa dihindari, sehingga satu-satunya jalan keluar adalah mempersiapkannya melalui kebijakan jangka panjang yang matang.

Baca Juga :  Fenny Sariajani Generasi Muda Menggemari Produk Natural dari Bumi Indonesia

Langkah estafet ini pun disambut baik oleh pemerintah. Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Wakil Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Wamendukbangga/Wakil Kepala BKKBN), Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, memaparkan data dari Badan Pusat Statistik tahun 2025 yang menunjukkan bahwa persentase penduduk usia 60 tahun ke atas di Indonesia telah menyentuh angka 11,7 persen. Peningkatan angka ini menjadi fondasi kuat mengapa pemerintah meluncurkan Program Lansia Berdaya sebagai salah satu agenda prioritas, mengingat jumlah populasi senior dipastikan terus melonjak seiring meningkatnya angka harapan hidup.

Saat ini, angka kelahiran total (total fertility rate/TFR) di Indonesia berada di kisaran 2,13. Kombinasi antara angka kelahiran yang terkendali dan usia harapan hidup yang memanjang membuat pemerintah harus bergerak cepat menyusun strategi intervensi yang tepat.

Baca Juga :  Biodiesel B50 Siap Meluncur, Indonesia Menuju Swasembada Energi

“Salah satu program utamanya adalah Lansia Berdaya, yang fokus pada peningkatan kualitas hidup lansia. Selain itu, Kemendukbangga/BKKBN juga menjalankan Sekolah Lansia yang tujuannya menjaga lansia tetap aktif, hidup sehat dan bahagia, serta memperoleh pengetahuan dan pelayanan sesuai kebutuhan mereka,” tutur Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka optimis.

Menyiapkan masa tua yang berkualitas jelas bukan urusan mereka yang sudah berambut perak saja, melainkan investasi kolektif kita yang hari ini masih berada di usia produktif. Melalui kebijakan yang tepat, masa tua di Indonesia tidak lagi identik dengan kesunyian dan penurunan daya, melainkan menjadi babak baru kehidupan yang penuh warna, mandiri, dan tetap bermakna bagi bangsa. Bagaimanapun, kualitas masa depan sebuah negara tercermin dari bagaimana mereka memuliakan dan memberdayakan generasi manusianya hingga usia senja. (Gdi)