
WANITAINDONESIA.CO – Ancaman diabetes melitus di Indonesia kian nyata dan tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Bayangkan saja, negeri ini kini menduduki peringkat kelima di dunia dengan jumlah penyandang diabetes dewasa mencapai 20,4 juta jiwa. Angka yang fantastis ini diproyeksikan akan terus membengkak hingga menyentuh 28,6 juta orang pada tahun 2050. Mirisnya, dari sekian banyak kasus, diperkirakan ada sekitar 15 juta jiwa yang hidup dengan diabetes tanpa pernah terdiagnosis. Di tengah alarm kewaspadaan yang terus berbunyi, sebuah angin segar berembus dari dunia medis melalui peluncuran sebuah terapi inovatif yang siap memperluas pilihan pengobatan di tanah air.
Senjata baru dalam menghadapi penyakit metabolik ini bernama Enavogliflozin, sebuah obat antidiabetes golongan penghambat kotransporter natrium-glukosa 2 (SGLT-2 inhibitor). Obat yang dikembangkan secara mandiri oleh Daewoong Pharmaceutical Indonesia ini resmi diperkenalkan dalam rangkaian simposium ilmiah Forum Endokrinologi Nasional Ke-14 di Bandung. Kehadiran terapi ini menjadi krusial mengingat karakteristik pasien diabetes di Asia yang terbilang unik. Pasien di kawasan ini kerap memiliki faktor risiko metabolik seperti resistensi insulin dan obesitas abdominal (abdominal obesity atau penumpukan lemak di perut), meskipun indeks massa tubuh (body mass index) mereka relatif lebih rendah dibanding warga di belahan dunia barat.
Menanggapi urgensi tersebut, Ketua Umum Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD, K-EMD, menegaskan bahwa kehadiran obat ini membawa arti yang sangat penting bagi lanskap medis nasional. Menurutnya, Indonesia saat ini sedang menghadapi beban penyakit diabetes yang terus meningkat secara signifikan. Oleh karena itu, kolaborasi erat yang melibatkan tenaga kesehatan, organisasi profesi, akademisi, hingga sektor industri mutlak diperlukan untuk mendongkrak kualitas terapi serta hasil akhir pengobatan jangka panjang bagi para pasien.
Gayung bersambut, efektivitas pengobatan baru ini juga didukung oleh data klinis yang kuat. Prof. Yong-ho Lee dari Division of Endocrinology and Metabolism, Yonsei University Severance Hospital, Korea Selatan, memaparkan bahwa terapi mutakhir ini memegang bukti klinis yang secara khusus menyasar pasien Asia dengan diabetes melitus tipe dua. Ia menekankan bahwa dalam menangani karakteristik pasien di Asia, pemilihan terapi tidak boleh sembarangan. Dokter tidak hanya harus mempertimbangkan seberapa ampuh obat tersebut dalam menurunkan kadar glukosa darah, melainkan juga harus melihat dampaknya terhadap parameter metabolik lain, seperti penurunan berat badan dan perbaikan resistensi insulin.
Langkah inovatif ini tidak berhenti pada peluncuran produk semata. Demi memperkuat benteng pertahanan melawan diabetes, sebuah kerja sama strategis internasional dijalin melalui penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara PERKENI dengan Korean Diabetes Association (KDA). Ketua KDA, Prof. Sung-rae Kim, menyatakan bahwa kesepakatan ini akan menjadi jembatan kokoh untuk melakukan penelitian bersama dan pendidikan medis. Upaya ini diakui oleh Chief Executive Officer (CEO) Daewoong Pharmaceutical, Seong-soo Park, sebagai komitmen jangka panjang perusahaannya untuk terus berkontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas tata laksana penyakit gula di Indonesia.
Melalui sinergi global dan kehadiran inovasi medis yang adaptif terhadap genetik masyarakat Asia, harapan untuk mengendalikan laju diabetes kini terbuka lebih lebar. Di tengah bayang-bayang komplikasi mematikan seperti gangguan ginjal dan penyakit kardiovaskular (cardiovascular disease atau penyakit jantung), langkah preventif dan pilihan terapi yang tepat akan menjadi penentu masa depan kesehatan bangsa. Menjaga pola hidup sehat dan tanggap terhadap sinyal tubuh adalah langkah awal, karena setiap detik yang diselamatkan dari diabetes adalah investasi berharga untuk generasi masa depan yang lebih produktif. (Gdi)




