Maggie Hutauruk Eddy di Balik 1 Dekade 2Madison: Ruang Bebas Bagi Setiap Perempuan

​Filosofi mendalam yang diusung Maggie terpancar dari caranya memandang keindahan perempuan. (Foto : Ratna)

​WANITAINDONESIA.CO — ​Dunia fashion sering kali dipenuhi gemerlap lampu sorot dan panggung megah. Namun di balik riuk panggung tersebut, Maggie Hutauruk Eddy memilih melangkah dengan tenang. Pendiri sekaligus Creative Director dari brand kenamaan 2 Madison Avenue (2Madison) ini membiarkan setiap helai buatannya yang berbicara.

​Nama Maggie tentu tak asing di kancah internasional usai membawa bangga Indonesia di New York Fashion Week (NYFW). Namun, sosok yang mengenyam pendidikan dan pengalaman selama 13 tahun di Amerika Serikat serta pernah menimba ilmu seni di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini menyimpan sisi lain yang begitu hangat. Bagi Maggie, perjalanan satu dekade berkarya bukanlah panggung pembuktian kehebatan diri, melainkan ruang dedikasi, kolaborasi, dan pemberdayaan perempuan.

​”You Are My Masterpiece”: Memeluk Keindahan Setiap Bentuk Tubuh

​Filosofi mendalam yang diusung Maggie terpancar dari caranya memandang keindahan perempuan. Ia enggan membatasi definisi cantik dalam sekat standar tertentu. Bagi Maggie, setiap wanita tanpa memandang usia maupun bentuk tubuh adalah karya seni yang bernilai.

​”Kalau pelukis berkarya di atas kanvas, saya berkarya dengan membuat wanita merasa cantik. Siapa pun dia, ukuran berapa pun, usia berapa pun. Pelanggan saya ada yang berusia 15 tahun hingga mendekati 70 tahun,” tutur Maggie penuh kehangatan.

Baca Juga :  Bhayangkara Tangguh Netty Rosdiana Siagian: Perempuan Harus Berani Melangkah Memberikan Manfaat Bagi Masyarakat

​Bagi Maggie, tugas utamanya sebagai desainer adalah menyalakan rasa percaya diri. Ia ingin siapa pun yang mengenakan buatannya merasa bersinar bagaikan bintang. Perhatiannya terhadap detail pun terasa begitu personal.

​”Saya ingin memastikan kalau baju itu dipakai, mereka merasa spesial. Kalau ada yang kedodoran, saya ambil dan betulin. Pelanggan yang memakai 2 Madison Avenue adalah karya masterpiece saya,” tambahnya.

​​Menandai perjalanan 10 tahun karyanya, Maggie merilis koleksi bertajuk “The Untitled” (Tak Berjudul). Konsep ini lahir dari kecemasannya melihat fenomena sosial yang kerap mengotak-ngotakkan masyarakat dalam gelar, status, maupun aturan rigid. Lewat The Untitled, ia menghadirkan ruang inklusif tanpa batas agar semua orang bisa berkumpul dan bersatu dalam karya.

​Koleksi ini juga melahirkan kolaborasi emosional bersama seniman asal Jawa Timur, Agus Wicaksono, lewat lukisannya yang berjudul “Songs of Freedom”.

​”Saya sangat tersentuh dengan karya itu. ‘Songs of Freedom’ adalah pesan tentang kebebasan wanita dari belenggu norma atau aturan adat yang membatasi. Lewat koleksi ini, kami ingin mencerminkan wanita-wanita yang bebas berekspresi menjadi diri mereka sendiri,” ungkap Maggie.

Baca Juga :  Agungkan Marwah Perempuan, Bluebird Terdepan Lewat Iniasi Berkelanjutan
(Foto : Desi)

​Rancangan siluet busananya pun diciptakan inklusif—mulai dari potongan untuk tubuh mungil, jenjang, hingga full figure. Pilihan gayanya beragam, dari yang mengeksplorasi estetika chic hingga potongan tertutup (full cover), memastikan setiap perempuan merasa diwakili di panggung peragaan.

​​Perpaduan warna-warni cerah (lots of color) yang menjadi signature style 2Madison terangkum elok dalam balutan material bubble crepe, katun Mikado, organza, hingga scuba berhiaskan detail payet sulam tangan. Menariknya, koleksi spektakuler ini dirampungkan hanya dalam waktu dua minggu.

​Sambil tertawa, Maggie menyebutnya sebagai “kerja gila”. Namun di balik proses serba cepat itu, terpancar nilai kebersamaan yang kokoh. Maggie menegaskan bahwa napas utama dari eksistensi 10 tahun 2Madison Avenue adalah kerja tim yang solid.

​”Di bisnis ini tidak ada kata ‘aku’, yang ada adalah ‘bersama’. Sukses saya adalah sukses tim saya juga. Saya tidak ada apa-apanya tanpa tim yang kuat,” puji Maggie.

Baca Juga :  Terobosan Bagi Pengusaha Perempuan Lewat Pelatihan Digital Gratis

​Untuk menjaga nilai keunikan serta kesesuaian pada bentuk tubuh tiap pelanggan, Maggie memilih sistem pre-order dan custom size alih-alih memproduksi massal secara berlebihan.

​​Langkah Maggie tak berhenti di sini. Ke depan, ia bermimpi terus mendobrak batas antar cabang seni. Setelah memadukan fashion dengan seni lukis dan seni tari, ia berencana mengawinkannya dengan seni pahat hingga harmoni musik tradisional seperti gamelan dan irama khas Aceh.

​Pesan mendalam juga disampaikannya bagi seluruh perempuan Indonesia agar berani melangkah keluar dari zona nyaman.

​”Tantangan terbesar kita sering kali adalah rasa takut untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan. Jangan memaksakan diri melakukan sesuatu yang tidak kamu suka, tapi kenalilah dirimu sendiri. Just know yourself,” tutupnya bijak.

​Lewat warna-warni karya dan ketulusan hatinya, Maggie Hutauruk Eddy membuktikan bahwa fashion bukan sekadar helai kain dan pakaian indah, melainkan medium emosional yang menyentuh jiwa, membebaskan ekspresi, dan merayakan keunikan setiap wanita. (Des)