
WANITAINDONESIA.CO — Upaya membawa musik dangdut menuju pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO membutuhkan lebih dari sekadar pelestarian. Regenerasi menjadi salah satu hal penting agar musik dangdut tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Hal tersebut disampaikan pedangdut senior Rhoma Irama dalam diskusi bertajuk “Kelas Literasi Sinema Jadi Ruang Promosi Dangdut Menuju UNESCO” yang digelar di Auditorium Perpustakaan Nasional, Gambir, Jakarta Pusat.
Dalam kesempatan tersebut, pedangdut senior H. Mansyur S meminta pandangan Rhoma Irama mengenai cara menjaga eksistensi dangdut di tengah perubahan selera musik generasi muda.
“Ji, kita kan sudah sama-sama tua. Makanya ane minta Haji memberikan petuah atau masukan agar musik dangdut bisa terus eksis dan berkembang di kalangan generasi muda?” kata Mansyur S.
Menjawab pertanyaan tersebut, Rhoma menekankan pentingnya memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk meneruskan perjalanan musik dangdut. Menurutnya, generasi senior tidak seharusnya khawatir jika bentuk dangdut mengalami perubahan.
“Kita harus legowo menerima estafet. Setiap masa ada orangnya. Jadi jangan pernah takut dangdut ditinggal generasi muda,” ujar Rhoma.
Menurut Rhoma, dangdut tidak harus selalu dipertahankan dalam bentuk yang sama seperti pada era sebelumnya. Perkembangan musik justru dapat terjadi ketika generasi muda menemukan cara mereka sendiri dalam mengekspresikan kecintaan terhadap dangdut.
Ia juga mengingatkan para pelaku dangdut dari generasi senior agar tidak memaksakan selera mereka kepada anak muda.
“Sebagai pedangdut senior, kita tidak boleh terlalu ego. Jangan memaksakan kehendak agar anak muda menerima dangdut sesuai harapan kita yang senior,” tegasnya.

Rhoma menilai generasi muda perlu diberi ruang untuk berkreasi, termasuk ketika mereka memadukan dangdut dengan genre musik lain maupun memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana memperkenalkannya.
Meski demikian, kebebasan berekspresi tersebut tetap perlu berjalan dengan menjaga nilai yang dianggap penting dalam kehidupan dan budaya masyarakat.
“Biarkan anak muda mengekspresikan kecintaannya kepada musik dangdut dengan caranya. Yang penting tetap menjaga norma agama dan akhlak mulia,” kata Rhoma.
Menurutnya, generasi senior memiliki peran untuk mengawal nilai dan akar budaya dangdut. Sementara itu, generasi muda dapat melanjutkan perjalanan musik tersebut dengan bentuk ekspresi yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Perkembangan teknologi dan media digital juga membuka semakin banyak ruang bagi generasi muda untuk memperkenalkan dangdut. Media sosial, platform digital, pertunjukan musik, film, hingga kolaborasi lintas genre dapat menjadi sarana untuk membawa dangdut menjangkau pendengar yang lebih luas.
Dalam konteks pengajuan dangdut sebagai Warisan Budaya Takbenda, regenerasi menjadi bagian penting karena keberadaan sebuah tradisi tidak hanya bergantung pada dokumentasi dan pengakuan, tetapi juga keberlanjutan praktiknya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Rhoma kemudian merangkum pandangannya mengenai pembagian peran tersebut dalam satu kalimat.
“Kita yang tua mengawal, yang muda meneruskan,” ucapnya.
Pesan Rhoma menunjukkan pentingnya keterlibatan lintas generasi dalam menjaga perjalanan musik dangdut. Generasi senior tetap memiliki ruang untuk menjaga akar dan nilai dangdut, sementara generasi muda diberikan kesempatan untuk membawa musik tersebut ke ruang ekspresi baru. (GIE)




