
WANITAINDONESIA.CO – Momentum Iduladha bukan sekadar ritual ibadah personal, melainkan sebuah kekuatan ekonomi besar yang mampu menggerakkan kesejahteraan umat jika dikelola dengan sinergi yang apik. Menyadari hal tersebut, Kementerian Agama Republik Indonesia mendorong adanya kolaborasi yang lebih erat antara lembaga pengelola zakat dengan para ujung tombak di lapangan untuk memastikan pesan keagamaan dan manfaat ekonomi kurban tersampaikan hingga pelosok.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama RI, Abu Rokhmad, menekankan betapa pentingnya penguatan kerja sama antara Lembaga Amil Zakat (LAZ) dengan para penyuluh agama. Menurut beliau, keterlibatan penyuluh agama sangat krusial dalam memperluas jangkauan layanan serta mengedukasi masyarakat mengenai esensi kurban yang berdampak nyata.
“Kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam memperkuat syiar kurban agar mampu memberikan dampak sosial yang lebih luas bagi kesejahteraan umat,” tutur Abu Rokhmad dalam pesannya di Jakarta, Selasa.
Ambisi besar ini didukung dengan target yang cukup fantastis pada tahun ini. Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI memproyeksikan penyembelihan satu juta ekor hewan ternak yang setara dengan domba atau kambing. Secara nilai ekonomi, angka tersebut diperkirakan menembus Rp2,5 triliun pada momentum Iduladha atau Idul Kurban 1447 Hijriah yang jatuh pada tahun 2026 ini.
Target tersebut bukanlah tanpa dasar. Jika menilik catatan tahun 2025, realisasi kurban yang dikelola secara kolektif oleh Baznas dan berbagai LAZ mencapai angka Rp2,3 triliun, atau setara dengan 790.554 ekor domba dan kambing. Hal ini menunjukkan kepercayaan masyarakat yang terus bertumbuh untuk menyalurkan kurban mereka melalui lembaga resmi yang profesional dan transparan.
Lebih mengagumkan lagi, semangat kemandirian masyarakat Indonesia dalam berkurban secara swadaya (mandiri) pada tahun lalu mencapai angka yang sangat signifikan, yakni sebesar Rp18,8 triliun. Jika dikonversikan, jumlah tersebut setara dengan hampir dua juta ekor hewan ternak. Dengan demikian, total capaian kurban secara nasional pada tahun 2025 menyentuh angka Rp21,1 triliun—sebuah potensi ekonomi kerakyatan yang luar biasa besar.
Peningkatan target di tahun 2026 ini diharapkan tidak hanya menjadi angka statistik semata, tetapi benar-benar bertransformasi menjadi protein hewani yang menguatkan fisik kaum duafa serta modal ekonomi yang menyejahterakan para peternak di desa-desa.
Setiap transaksi kurban yang terjadi adalah untaian doa dan harapan yang terwujud dalam bentuk nyata. Saat seorang pekurban berjabat tangan dengan amil, di situ pulalah terjalin ikatan persaudaraan yang melintasi sekat-sekat sosial. Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, melainkan tentang memotong ego pribadi untuk memberi ruang bagi kebahagiaan orang lain, memastikan bahwa di hari raya nanti, tidak ada satu pun dapur yang berhenti mengepulkan aroma syukur. (gdi)




