“Koko Saja Pa, Aku Bisa Kok!

Arandra Qias Lazuardy Putra Indra (Koko -4) bergaya jenaka lengkapi diri dengan APD, tas kerja, kacamata hitam yang kebesaran ketika membersihkan kipas angin. (Foto : Wanitaindonesia.co)

WANITAINDONESIA CO – Seiring dengan perkembangan kemampuan koordinasi tangan, kaki, dan mata, batita Koko memiliki kegemaran membantu pekerjaan rumah.

Ketika Indra, orang tua dengan anak yang perilakunya sangat menggemaskan sedang asyik menyapu halaman depan, Arandra Qias Lazuardy Putra Indra karib dipanggil Koko, (4) buru-buru menghampiri. “Papa sini, biar aku aja yang apu (menyapu), ” ujarnya dengan bahasa cadel.

Walau dilarang, serta dijelaskan bahwa pekerjaan tersebut berat, dan berisiko bagi tubuh mungilnya, anak laki-laki tersebut tetap kekeh. “Engga biar Koko aja, “tegasnya.

Pun ketika libur kantor, saat membersihkan kipas angin yang dipenuhi oleh kotoran, dan debu, Koko kembali menunjukkan antusiasnya. Dia buru-buru ingin ikut membantu. “Pa, sini, Koko bisa kok.”

“Eh, jangan nak, kamu belum bisa, “larang Indra. “Engga mau, Koko aja. Aku bisa kok, “ujarnya bersikeras.

Momen membersihkan kipas angin tersebut jadi berkesan, karena bungsu dari tiga orang bersaudara itu telah melengkapi diri dengan APD.

“Dia minta ke mamanya untuk dipakaikan masker, tas pinggang yang biasa saya gunakan untuk meletakkan peralatan seperti kuas, lap kecil. Tak lupa ia memakai kacamata hitamku yang kebesaran. “Wah melihat tingkah-polahnya itu, membuat keluarga besar kami geregetan, “ujar Indra.

Indra terkesan dengan sikap Koko yang selalu kepo, ingin ikut membantu, apapun yang dilakukannya. Hal ini dimulai ketika usianya 3 tahun.

“Waktu makan, ia mengambil sendiri nasi dari dalam magic com. Tak mau disuapi, makan dengan wajah belepotan nasi. Koko cenderung lebih sering berinteraksi denganku, dibandingkan dengan mamanya karena aku kerap bekerja, “terangnya.

Baca Juga :  Inilah Makanan Tang Baik Untuk Perkembangan Anak

“Pernah ketika sedang memindahkan air matang dari jar ke botol. Koko menjadi “pemaksa” yang sukses. Aku khawatir airnya tumpah, karena jar-nya besar, berat penuh air. Pekerjaan ini butuh feeling yang kuat ketika menuangkan ke dalam mulut botol yang sempit, “ungkapnya.

Karena bersikeras, Koko “sukses” membuat rumah mereka “banjir”. “Duh mau marah gimana ya, tak tega. Juga akan berdampak pada perkembangannya kelak, “tuturnya.

Sebagai orang tua milenial, pasutri Indra, dan Teti paham bahwa keinginan buah hati mereka tersebut wajar, dikarenakan di usianya tersebut, anak mereka sedang giat-giatnya beraktivitas.

Namun ada saja yang mengganggu pikiran mereka. Ihwal pola asuh, serta tumbuh kembang anak-anak mereka menjadi fokus utama.

Hal ini juga sempat menjadi perdebatan di lingkungan keluarga besar mereka.
Hingga pasutri tersebut harus menyempatkan diri, membawa buah hati mereka ke psikolog anak untuk berkonsultasi.

Psikolog yang memiliki banyak pasien kecil tersebut menjelaskan banyak hal, mengapa Koko bisa terlihat aktif. Utamanya dalam membantu pekerjaan rumah.

Menurutnya, di usia batita koordinasi antara kaki, tangan, dan mata anak akan semakin baik. Ditunjang dengan daya eksplorasi pada usia dini yang semakin besar.

Ketika dia melihat hal-hal baru terkait aktivitas di rumah, tentunya akan selalu menarik minat, serta keingintahuannya.

Diusia tersebut, anak-anak akan selalu tertarik untuk mencoba, tak peduli bersih atau tidak. Juga bahaya yang mengintai dari aktivitasnya tersebut.

Baca Juga :  Cara Tingkatkan Rasa Mau Tahu Anak

Orang tua sebaiknya tak melarang, biarkan anak untuk memuaskan keingintahuan mereka, kemampuannya, serta eksplorasi. Tentu saja pekerjaan rumah yang dapat dilakukan harus disesuaikan dengan usia, serta kemampuan anak.

“Dan selama anak beraktivitas harus didampingi, agar ketika ada hal-hal yang tak diinginkan, dapat dicegah, “ujar Indra mengingat pesan psikolog anak tersebut.

Tak hanya orang tua zaman now, para orang tua generasi senior juga telah melibatkan anak mereka, dalam pekerjaan rumah tangga. Karena mereka paham ada banyak manfaat bagi anak, terutama dalam membangun karakter diri anak.

Indra melanjutkan, “Selain itu, melibatkan anak dalam pekerjaan di rumah juga menjadi sarana belajar, serta bermain. Karena aktivitas tersebut, anak bisa mengeksplorasi banyak hal. Melatih keterampilan, dan menanamkan nilai-nilai hidup dalam jiwanya.”

“Patut dipahami, ketika anak membantu melakukan pekerjaan rumah, orang tua telah melatih, dan memberikan banyak hal untuk kebaikan saat ini, dan masa depan anak mereka nanti, “pungkasnya.

Psikolog anak ingatkan orang tua agar tak melarang, ketika batita mereka membantu pekerjaan rumah. (Foto : Wanitaindonesia.co)

Pahami Manfaatnya

Universitas Harvard, Amerika telah mengeluarkan penelitian ihwal anak-anak yang dibiasakan untuk melakukan pekerjaan rumah secara rutin.

Hasil penelitian yang dilakukan kepada masyarakat, serta tokoh besar di sana menunjukkan bukti, bahwa anak-anak yang terbiasa membantu pekerjaan rumah tangga, berpeluang besar untuk sukses, dan hidup bahagia ketika dewasa.

Melatih anak melakukan pekerjaan rumah, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Memiliki keterampilan sosial yang baik, serta mampu menghadapi tantangan hidup dengan percaya diri yang tinggi.

Baca Juga :  17 Tahun Menanti, AHY dan Annisa Pohan Dikaruniai Anak Kedua

Ada banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh anak, dan orang tua ketika rutin melakukan pekerjaan rumah tangga.

  1. Melatih Tanggung Jawab
    Biarkan saja anak ikut melakukan pekerjaan rumah. Tak harus selalu bergantung kepada asisten rumah tangga maupun keluarga inti. Karena ini merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan sikap tanggung jawab dalam diri anak.
  2. Membuat Anak Pede
    Saat ia berhasil melakukan pekerjaannya dengan baik, muncul perasaan puas, dan senang pada anak. Ini akan mendorong kepercayaan diri anak yang lebih tinggi. Lewat pekerjaan rumah, orang tua akan mengetahui potensi pada diri anak mereka.
  3. Melatih Skills Berkomunikasi
    Memiliki arti luas, selain berbicara anak diajak untuk melatih kemampuannya dalam menyampaikan, mencerna, serta menerima pesan secara tepat. Hal ini akan membuat mereka mampu bersosialisasi, serta menjadi bagian dari sebuah team work handal.
  4. Bonding Berkualitas
    Dengan melakukan pekerjaan rumah bersama, akan tercipta bonding berkualitas orang tua dengan anak mereka. Pekerjaan yang awalnya rutinitas, jika dilakukan bersama anak akan menghadirkan energi baru. Membuat senang, dan dapat meningkatkan kesehatan mental orang tua.
  5. Menumbuhkan Jiwa Empati
    Anak yang memiliki empati tentunya akan memahami, serta menghargai orang di sekitarnya. Ia akan tumbuh menjadi sosok yang pandai membawa diri, dan mampu mengelola emosinya dengan baik.

Pertanyaannya sekarang, “Sudahkah Anda melakukannya untuk buah hati Anda? (*)