
WANITAINDONESIA.CO – Tidak semua kisah sukses lahir dari sorotan. Sebagian justru tumbuh diam-diam, melalui proses panjang yang ditempa kesabaran dan ketulusan. Itulah jejak perjalanan Dr. Dra. Hj. Sitti Ma’ani Nina, M.Si., CGCAE, seorang perempuan yang membangun kariernya dari bawah hingga kini mengemban amanah sebagai Inspektur Daerah Provinsi Banten.
Di tengah peringatan Hari Kartini, kisah hidupnya terasa relevan. Ia bukan hanya simbol keberhasilan perempuan di birokrasi, tetapi juga cerminan bahwa perjuangan dapat hadir dalam bentuk kerja sunyi yang konsisten.
Langkah awal Nina berangkat dari mimpi sederhana: menuntut ilmu, bekerja dengan baik, dan memberi manfaat. Tekad itu mulai ia tanamkan sejak masa sekolah di SMAN 15 Bandung, sebelum akhirnya membawanya masuk ke Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN), pintu awal pengabdiannya sebagai aparatur negara.
Namun, jalannya tidak instan. Awal 1990-an, ia memulai dari posisi paling dasar sebagai staf di Kelurahan Kota Baru, Kabupaten Serang. Saat pekerjaan masih serba manual, ia belajar arti ketelitian, disiplin, dan tanggung jawab. Di ruang kerja yang sederhana, ia menyadari satu hal penting: kepemimpinan tidak lahir dari jabatan, melainkan dari proses panjang yang dijalani dengan sungguh-sungguh.
Kariernya kemudian bergerak perlahan namun pasti. Berbagai posisi ia jalani, mulai dari urusan analisis perlengkapan hingga pengelolaan keuangan daerah. Ketika Provinsi Banten berdiri, ia turut melanjutkan pengabdian di level provinsi, membuka babak baru dalam perjalanan profesionalnya.
Di lingkungan Pemerintah Provinsi Banten, Nina mengasah diri melalui beragam peran strategis. Ia pernah memegang tanggung jawab di bidang protokol, dokumentasi, hingga memimpin biro humas, pemerintahan, dan umum. Setiap posisi menjadi ruang pembelajaran yang memperkaya kemampuannya dalam komunikasi, koordinasi, dan manajemen birokrasi yang kompleks.
Baginya, jabatan bukan tujuan akhir, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Perjalanan itu mencapai titik penting saat ia dipercaya memimpin Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Provinsi Banten selama hampir satu dekade. Di sana, ia tidak hanya bekerja dengan angka dan program, tetapi juga dengan empati, menyentuh langsung isu-isu perempuan dan keluarga, sekaligus menghidupkan nilai-nilai Kartini dalam kebijakan nyata.
Kariernya terus berlanjut hingga pada 2025 ia dipercaya menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Inspektur Daerah, sebelum akhirnya resmi dilantik sebagai Inspektur pada 2026.
Di posisi ini, tanggung jawabnya semakin besar. Ia berada di garda depan pengawasan pemerintahan, memastikan sistem berjalan transparan, akuntabel, dan berintegritas. Komitmennya terhadap profesionalisme juga diperkuat dengan sertifikasi Certified Government Chief Audit Executive (CGCAE), yang menegaskan kompetensinya di bidang audit dan pengawasan.
Bagi Nina, menjadi ASN bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk pengabdian seumur hidup. Ia memegang prinsip sederhana: setiap hari harus lebih baik dari sebelumnya. Prinsip itulah yang membuatnya terus belajar, beradaptasi, dan tidak mudah menyerah.
Di balik perannya sebagai pejabat publik, ia tetap menjalani kehidupan sebagai seorang istri dan ibu. Di tengah kesibukan, keluarga menjadi sumber energi yang menjaga keseimbangannya. Ia percaya, harmoni bukan soal membagi waktu secara sempurna, tetapi tentang memberikan yang terbaik dalam setiap peran.
Di luar tugas pemerintahan, ia juga aktif dalam kegiatan sosial, termasuk memimpin organisasi Indonesia Line Dance di tingkat provinsi. Aktivitas ini menjadi ruang baginya untuk berbagi semangat positif dan mempererat hubungan dengan masyarakat.
Perjalanan panjangnya juga melewati perubahan zaman—dari era mesin ketik hingga digitalisasi sistem pemerintahan. Namun alih-alih tertinggal, ia memilih untuk terus belajar dan beradaptasi.

Baginya, tantangan terbesar bukan hanya teknologi, melainkan menjaga nilai kemanusiaan di tengah dunia yang semakin cepat.
Di situlah makna Kartini menurutnya menemukan bentuk paling nyata: membuka ruang, memperjuangkan kesetaraan, dan menghadirkan keadilan, terutama bagi perempuan dan anak.
Sebagai Inspektur, ia berupaya memastikan setiap kebijakan berjalan adil dan memberi ruang yang setara. Ia percaya perubahan tidak selalu datang dari suara lantang, tetapi dari kerja konsisten, integritas yang dijaga, dan niat yang tulus.
Ke depan, ia berharap dapat memperkuat sistem pengawasan pemerintahan sekaligus membangun budaya kerja yang bersih. Ia juga ingin mendorong lahirnya generasi ASN muda—khususnya perempuan—yang siap menjadi pemimpin masa depan.
Ia tidak mengejar dikenang karena jabatan. Baginya, yang terpenting adalah nilai yang ditinggalkan.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa tinggi posisi yang diraih, melainkan seberapa besar makna yang bisa diberikan.
Dan melalui perjalanan panjangnya, Sitti Ma’ani Nina telah menunjukkan bahwa semangat Kartini tidak pernah padam—ia hidup dalam ketulusan, keteguhan, dan integritas yang terus dijaga. (Yas)




