WANITAINDONESIA.CO – Di balik deru peti kemas yang berangkat dari pelabuhan-pelabuhan besar Indonesia, terselip cerita ketangguhan jemari perempuan. Bagi Fajarini Puntodewi, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan RI, Hari Kartini bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan momentum merayakan realitas baru: bahwa dapur rumah tangga dan pasar internasional kini hanya dibatasi oleh semangat untuk melangkah.
Data berbicara dengan lugas mengenai pergeseran ini. Dari 64,5 juta UMKM di Indonesia, sebanyak 64,5% dikelola oleh tangan-tangan perempuan. Namun, kiprah mereka kini tak lagi sebatas pasar lokal. Puntodewi melihat perempuan Indonesia mulai memimpin di sektor-sektor strategis seperti makanan dan minuman, fesyen, kerajinan, hingga kosmetik dan ekonomi kreatif. Mereka bukan hanya pengelola, melainkan motor penggerak ekspor nasional yang tangguh dan adaptif.
Antusiasme ini terekam jelas dalam setiap program pendampingan. Sepanjang tahun 2025, program seperti Business Matching UMKM BISA Ekspor mencatat ratusan pelaku usaha perempuan yang berbondong-bondong menjemput peluang. Mulai dari pasar Hungaria, Inggris, hingga penetrasi ke pasar Amerika Serikat di awal tahun 2026, produk karya perempuan Indonesia terbukti mampu berdiri sejajar di panggung dunia.
“Ketika perempuan diberi ruang dan kesempatan, mereka membuktikan bahwa karya Indonesia memiliki karakter dan daya saing yang kuat,” ujar Puntodewi.
Narasi keberhasilan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan kisah nyata yang menginspirasi. Puntodewi mengisahkan sosok seperti Anddys Firstanty dengan inovasi ‘bobupot’-nya yang menembus ketatnya standar pasar Jepang, atau Leoni dari Kainratu Tenun yang wastra nusantaranya kini dipesan hingga ke London.
Ada pula cerita Sri Suhartini yang membawa ‘Opak Telo’ ke Australia, serta Ika Dewi yang sukses memasarkan gula kelapa organik hingga ke Jerman dan Kanada dengan transaksi ratusan ribu dolar. Kisah-kisah ini menjadi bukti bahwa keterbatasan ruang bukanlah penghalang bagi perempuan untuk mengharumkan nama bangsa.
Memaknai perjuangan Kartini di era modern, Puntodewi memandangnya sebagai fondasi kesetaraan yang kian nyata. Jika dulu Kartini berjuang untuk akses pendidikan, kini perempuan Indonesia telah menikmati hasilnya melalui proses karier yang transparan dan bebas diskriminasi. Namun, perjuangan belum usai; akses terhadap pembiayaan dan teknologi harus terus diperluas agar kemandirian ekonomi perempuan semakin merata.
Satu hal yang menjadi catatan penting bagi Puntodewi adalah harmoni peran. Baginya, setinggi apa pun sayap seorang perempuan mengepak di pasar dunia, keluarga tetap menjadi tempat berpijak yang utama. Kemampuan mengelola rumah tangga justru dianggapnya sebagai sumber kekuatan sejati. Dengan dukungan teknologi dan manajemen waktu, menjadi eksportir tidaklah mengganggu fungsi domestik, melainkan justru memperkuat fondasi ekonomi keluarga.
Keberhasilan perempuan, menurutnya, diukur dari dua sisi: capaian di ruang publik dan kehangatan yang tetap terjaga di rumah. Melalui semangat Kartini, Fajarini Puntodewi mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk berani berkarya dan membawa produk-produk terbaik Indonesia bersinar di mata dunia. (Gdi)





