Hubungan Istimewa Indonesia-Yaman: Dari Jejak Sejarah, Diplomasi Budaya, Hingga Pesona Alam yang Menakjubkan

Duta Besar Republik Yaman untuk Republik Indonesia yang bertugas sejak 2025, H.E. Mr. Salem Ahmed Abdulrahman Balfakeeh, membagikan pandangan mendalam mengenai ikatan historis, kemajuan kerja sama ekonomi-pendidikan, diplomasi seni budaya, hingga harapan perdamaian di tanah Yaman. Foto: Desi

WANITAINDONESIA.CO – Hubungan diplomasi antara Republik Indonesia dan Republik Yaman bukanlah sekadar relasi formal antar-negara. Lebih dari itu, kedua bangsa ini terikat oleh jalinan sejarah, kebudayaan, dan kekeluargaan yang telah mengakar sangat kuat selama berabad-abad.

Dalam kesempatan ramah tamah dan wawancara khusus bersama media di Jakarta (14/8/2026), Duta Besar Republik Yaman untuk Republik Indonesia yang bertugas sejak 2025, H.E. Mr. Salem Ahmed Abdulrahman Balfakeeh, membagikan pandangan mendalam mengenai ikatan historis, kemajuan kerja sama ekonomi-pendidikan, diplomasi seni budaya, hingga harapan perdamaian di tanah Yaman.

Dubes Salem Ahmed Balfakeeh menegaskan bahwa ikatan antara Yaman dan Indonesia melampaui batas hubungan diplomatik pada umumnya. Persaudaraan ini terbentuk sejak gelombang migrasi awal masyarakat Yaman, khususnya dari wilayah Hadramaut ke Nusantara untuk berdagang sekaligus menyebarkan agama Islam secara damai.

Bahkan beliau mengungkapkan bahwa hampir tidak ada satu rumah pun di Hadramaut yang tidak memiliki ikatan atau hubungan kekeluargaan dengan Indonesia, di mana banyak warga di sana memiliki leluhur yang berasal dari Surabaya maupun kota-kota lainnya di Nusantara.

Tak sekadar berdagang, keturunan Yaman di Nusantara telah membaur, menjadi warga negara Indonesia, dan berkontribusi nyata sepanjang sejarah perjalanan bangsa. Pada masa perjuangan kemerdekaan, tokoh pahlawan nasional seperti Mr. Abdurrahman Baswedan bertaruh jiwa demi kemerdekaan RI, serta Syekh Faraj bin Marta yang secara sukarela menghibahkan rumahnya untuk digunakan oleh pemerintah awal Republik Indonesia setelah pembebasan. Dalam masa mengisi kemerdekaan pun, banyak putra-putri keturunan Yaman menduduki berbagai posisi strategis, termasuk mantan Menteri Luar Negeri Dr. Alwi Shihab serta mantan Menteri Keuangan Fuat Bawazier. Hingga saat ini, diperkirakan terdapat sekitar 12 juta warga negara Indonesia yang memiliki garis keturunan Yaman.

Baca Juga :  Diplomasi Budaya Mahasiswa UI Siap Mengguncang Panggung Eropa
Foto: Desi

Sejak memegang amanah diplomatik di Jakarta, Salem Ahmed Balfakeeh menjadikan penguatan kerja sama konkret di berbagai bidang sebagai prioritas utama. Di sektor perdagangan dan penjaminan halal, telah ditandatangani kerja sama (MoU) antara pihak Yaman dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) serta kemitraan antar Kamar Dagang guna mempermudah arus keluar-masuk produk halal berkualitas sesuai regulasi yang berlaku. Di bidang pendidikan, terdapat sekitar 250 mahasiswa Yaman yang menempuh studi di berbagai universitas di Indonesia, beriringan dengan upaya pengaktifan kembali beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB).

Sebaliknya, terdapat lebih dari 8.000 hingga 10.000 santri dan mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di Yaman, terutama di Hadramaut, guna mempelajari kurikulum pendidikan Islam moderat (wasathiyah) yang sangat selaras dengan nilai-nilai toleransi dan karakter masyarakat Indonesia.

Baca Juga :  Diplomasi Budaya Mahasiswa UI Siap Mengguncang Panggung Eropa

Salah satu terobosan diplomasi budaya yang paling menarik perhatian adalah rencana proyek seni berskala besar hasil kolaborasi dengan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. Kedua negara sepakat menggelar Proyek Orkestra Yaman-Indonesia, sebuah kolaborasi megah yang melibatkan 50 musisi asal Yaman dan 50 musisi Indonesia. Proyek ini mengangkat ragam persamaan seni yang sudah lama berakar, seperti tradisi Tari Zafin (yang di Yaman dikenal sebagai tarian Al-Zarbadi), serta alunan lagu-lagu tradisional Hadrami yang familier di telinga penikmat musik Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Dubes Salem turut memaparkan perkembangan situasi politik dan keamanan di Yaman. Beliau menjelaskan dinamika tantangan yang dihadapi pemerintah resmi Yaman akibat tindakan milisi Houthi, mulai dari pelanggaran wilayah udara, konflik bersenjata yang berdampak pada warga sipil dan pengungsi di Ma’rib dan Hadramaut, hingga gangguan navigasi maritim di Laut Merah dan sekitar Selat Bab el-Mandeb.

Pemerintah resmi Yaman menegaskan tetap membuka pintu dialog damai, namun tetap mengambil langkah tegas demi melindungi kedaulatan negara, memulihkan perekonomian, serta menjamin keselamatan warga sipil dan pelaut internasional. Beliau berharap dukungan moral dan sinergi diplomasi dari masyarakat internasional termasuk Indonesia terus mengalir demi terciptanya kedamaian yang berkelanjutan di Yaman.

Baca Juga :  Diplomasi Budaya Mahasiswa UI Siap Mengguncang Panggung Eropa

Di luar dinamika politiknya, Yaman menyimpan keajaiban alam dan warisan peradaban kuno yang menakjubkan bagi para pencinta jalan-jalan dan kebudayaan. Salah satunya adalah Pulau Socotra yang dijuluki “Galápagos-nya Timur Tengah”, terkenal dengan keanekaragaman hayati unik seperti Pohon Darah Naga (Dragon’s Blood Tree) yang berbentuk menyerupai payung terbalik. Selain itu, Yaman juga memiliki Kota Tua Sana’a sebagai kawasan Warisan Dunia UNESCO berusia lebih dari 2.500 tahun yang dipenuhi bangunan batu bata tanah liat dengan jendela kaca berwarna khas, serta kota Shibam di Hadramaut yang dijuluki “Manhattan di Padang Pasir” sebagai kompleks pencakar langit berbahan tanah liat tertua di dunia yang berdiri sejak abad ke-16. Through diplomasi yang inklusif mulai dari sektor perdagangan, pendidikan, seni budaya, hingga promosi keindahan alam hubungan persaudaraan Indonesia dan Yaman dipastikan akan terus mekar dan memberikan manfaat nyata bagi kedua bangsa. (Des)