Revitalisasi Budaya di Era Modern: Mengubah Jamu Pahit dan Aksara Kuno Jadi Gaya Hidup Kekinian ala Acaraki

Acaraki berupaya mengikis stigma bahwa jamu adalah minuman pahit jadul, sekaligus menghadirkan cara baru dalam mencintai warisan budaya Indonesia. Foto : IG Acaraki Terrace

WANITAINDONESIA.CO – ​Minuman tradisional jamu dan aksara Nusantara kerap dipandang sebagai bagian dari masa lalu yang kian berjarak dengan keseharian generasi muda. Di tengah gempuran tren boba, kopi kekinian, hingga matcha impor yang digandrungi dengan harga tak murah, Acaraki Jamu hadir membawa terobosan kreatif. Melalui pendekatan yang relevan dan segar, Acaraki berupaya mengikis stigma bahwa jamu adalah minuman pahit jadul, sekaligus menghadirkan cara baru dalam mencintai warisan budaya Indonesia.

​Langkah inovatif ini tercermin dalam gelaran acara Acaraki Fun Brewing yang berlangsung di Atrium Lantai 5 AEON MALL Tanjung Barat pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Dalam kegiatan tersebut, para pengunjung diajak menyelami pengalaman interaktif menyeduh jamu modern, menikmati Moringacha Experience, hingga mengenal kembali seni penulisan aksara daerah.

​Filosofi di balik nama brand ini pun menyimpan nilai sejarah yang mendalam. Secara etimologi, kata jamu berakar dari bahasa Jawa kuno “Jampi Usodo”. Jampi yang berarti doa atau obat, dan Usodo yang bermakna kesehatan atau penyembuhan. Sementara itu, istilah Acaraki diambil dari Prasasti Madhawapura, sebuah catatan sejarah yang merekam beragam profesi masa lalu.

Baca Juga :  Gaya Hidup Ramah Lingkungan Kian Hits! Intip Keseruan Ratusan Riders Motor Listrik Bareng PLN di Bintaro

Di dalam prasasti tersebut tercatat istilah Abhasana untuk pembuat pakaian, Angawari untuk pembuat kuali, dan Acaraki sebagai sebutan khusus bagi peracik jamu. Berangkat dari semangat melestarikan profesi bersejarah tersebut, kedai pertama Acaraki Jamu resmi dibuka pada pertengahan tahun 2018 di Gedung Kerta Niaga 3, kawasan Kota Tua Jakarta.

Foto : IG Acaraki Terrace

​Berbeda dari imaji ibu jamu gendong konvensional, Acaraki membawa seni meracik bahan tradisional ke tingkat baru dengan mengadopsi teknik penyeduhan kopi modern. Menggunakan alat-alat manual brew seperti French Press hingga Rokk Presso, Acaraki mengolah rempah-rempah yang telah dikeringkan terlebih dahulu. Proses pengeringan bahan seperti kunyit dan jahe ini tidak hanya mempermudah penyimpanan agar rempah tidak cepat membusuk atau bertunas, tetapi juga memungkinkan penyeduhan dilakukan secara presisi untuk porsi tunggal.

Baca Juga :  Ralali.com Hadirkan Sweet Bus Tour BTS Hangeul Message Chocolate Keliling 6 Kota

Hasilnya, cita rasa jamu yang dihasilkan menjadi lebih halus, konsisten, dan fleksibel untuk dinikmati oleh lidah anak muda masa kini.

​Komitmen Acaraki tidak berhenti pada inovasi rasa, tetapi juga menyentuh aspek pelestarian aksara Nusantara yang kini berada di ambang kepunahan. Puji Sulistyowati selaku Senior Marketing Manager PT Acaraki Nusantara Persada mengungkapkan bahwa gerakan ini merupakan langkah kecil untuk mengenalkan kembali keindahan aksara daerah melalui pendekatan seni visual. Sama halnya seperti estetika kaligrafi Mandarin atau Jepang yang kerap dijadikan dekorasi interior, aksara Nusantara juga memiliki pesona artistik yang tinggi saat dipadukan dengan nama diri maupun pesan-pesan bijak.

Baca Juga :  Gaya Hidup Aktif Makin Stylish, Kolaborasi Wardah A.M Club 2026 dan HOKA Ajak Perempuan Berani Berlari

​Guna menjaga keberlanjutan edukasi budaya ini, Acaraki secara konsisten membuka kelas workshop setiap hari Sabtu di kedai Kota Tua Jakarta. Pada sesi pagi melalui program Acaraki Journey, para peserta diajak mendalami sejarah rempah dan teknik racik modern. Sementara pada sesi siang dalam program Acaraki Experience, pengunjung diajak mengeksplorasi seni lokal seperti shading batik menggunakan cap batik museum serta teknik menatah kertas ala pembuatan wayang kulit. Lewat perpaduan harmonis antara eksplorasi rasa dan seni budaya, Acaraki sukses membuktikan bahwa gaya hidup sehat berakar tradisi bisa tampil elegan, keren, dan membanggakan di era modern. (Des)