WANITAINDONESIA.CO – Siapa sangka tempat yang dulunya penuh tumpukan sampah kini bisa jadi spot healing favorit warga? Taman Harmoni Surabaya sukses membuktikan bahwa lahan bekas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) bisa disulap menjadi paru-paru kota yang asri.
Namun, mengubah “gunung sampah” menjadi taman bunga bukan sekadar menanam pohon di atas tanah. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), proses ini memerlukan standar keamanan yang sangat ketat.
Kepala Bidang Wilayah III Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa, Gatut Panggah Prasetyo, menjelaskan bahwa Taman Harmoni melalui proses pembersihan intensif selama tiga tahun, mulai dari 2011 hingga 2014. Tujuannya jelas: mengembalikan area TPA menjadi lingkungan sehat dengan iklim mikro yang lebih sejuk.
Tahapan yang harus dipastikan sebelum jadi lokasi wisata:
1. Struktur tanah harus sudah stabil dan tidak amblas.
2. Gas metana bawah tanah dari sisa sampah sudah dikelola agar tidak berbahaya.
3. Tidak ada lagi kontaminasi pada air dan udara sekitar.
Taman yang berdiri di atas eks-TPA Sukolilo ini telah diresmikan kembali pada Agustus 2025 setelah menjalani revitalisasi besar-besaran oleh Pemkot Surabaya.
Mengintip Negara Yang Sukses Ubah TPA
Indonesia tidak sendirian, beberapa negara maju sudah lebih dulu sukses mengubah “sampah” menjadi “emas” pariwisata:
- Moerenuma Park (Jepang): Terletak di Sapporo, taman seluas 189 hektare ini dulunya adalah lahan pembuangan sampah. Di tangan arsitek Isamu Noguchi, tempat ini berubah menjadi taman seni futuristik dengan piramida kaca ikonik.
- Mount Trashmore Park (Amerika Serikat): Terletak di Virginia Beach, taman ini adalah contoh pionir dunia. Bekas TPA setinggi 18 meter ini kini menjadi bukit hijau untuk piknik, lari, dan festival layang-layang.
- Flushing Meadows-Corona Park (New York): Salah satu taman terbesar di New York ini dulunya merupakan tempat pembuangan abu dan sampah. Kini, tempat ini menjadi pusat olahraga dan rekreasi kelas dunia.
Masalah sampah di kota besar seperti Surabaya memang tidak main-main. Dengan produksi mencapai 1.500 ton per hari, pemerintah kini beralih ke teknologi PSEL (Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik).
Saat ini, Surabaya telah memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo. Ke depannya, rencana pembangunan PSEL akan diperluas ke wilayah aglomerasi Surabaya Raya, mencakup Gresik, Sidoarjo, hingga Lamongan.
Transformasi ini adalah bukti bahwa dengan teknologi dan tata kelola yang tepat, sisa-sisa konsumsi kita tidak harus menjadi beban, melainkan bisa diwariskan menjadi ruang publik yang indah. (Gdi)





