
WANITAINDONESIA.CO – Festival gastronomi dua negara “Rende-Vouz Rasa 2026 lekat dengan terobosan serta sharing ilmu oleh para ahli Prancis.
Sebagai pusat Gastronomi dunia, Prancis dikenal memiliki banyak talenta-talenta kreatif yang unggul lewat teknik memasak. Mampu menghasilkan kreasi sajian bercita rasa lezat otentik, prestisius, sulit dicari di tempat lain.
Ekosistem Gastronomi Indonesia sudah tentu akan merasa tersanjung lewat gawe Rende-Vouz Rasa 2026, yang sukses terselenggara berkat hubungan harmonis serta berkelanjutan antara Prancis, dan Indonesia.
Inisiatif selaras zaman ini merupakan kolaborasi antara Kedutaan Besar Francis untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor – Leste melalui IFI bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia melalui program unggulan Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG), dan Jaringan
Gastronomi Indonesia.
Acara semakin menyala dengan kehadiran peraih
dua bintang Michelin, dan Michelin Green Star, Chef Stephane Carrade, dan Chef Fabrice Danniel yang telah mendedikasikan diri sebagai pengajar, dan menjabat sebagai Wakil Direktur untuk Culinary Arts di Le Cordon Bleu, Paris.
Le Cordon Bleu merupakan jaringan internasional seni kuliner, dan institut perhotelan berpusat di Paris.
Karirnya di lembaga pendidikan kuliner Prancis yang tersohor itu terbilang sangat panjang lekat dengan pencapaian yang membanggakan!
Parisian berpembawaan hangat ini memiliki andil dalam menginisiasi hadirnya perwakilan Le Cordon Bleu Bangkok.
Di Prancis, Chef Danniel dikenal sebagai persona dengan rekam jejak membanggakan, karena memiliki karir sebagai Chef profesional di sejumlah hotel mewah. Pun di luar negeri seperti di Swiss, dan Lebanon ia menduduki posisi prestisius dalam hirarki industri f&b.
Walau memiliki karir gemilang, Parisian flamboyan ini selalu terobsesi untuk menimba ilmu melalui sejumlah pelatihan. Sosok pria kharismatik yang ulet dalam mengembangkan sejumlah tehnik baru, berhasil memetik buah manis dari dedikasinya itu.
Dia dianugerahi penghargaan Diploma Lanjutan di bidang kue kering, makanan kecil, es krim serta katering profesional.
Persinggahan akhir karirnya (karena terbilang cukup lama) bermuara di Le Cordon Bleu, Paris. Selain memiliki loyalitas, Chef Danniel juga menorehkan prestasi dengan menginisiasi hadirnya perwakilan sekolah kuliner terkenal di dunia itu, di negara seribu kuil Bangkok.
Bersama tim Instruktur Chef Le Cordon Bleu, Paris, mereka membuka perwakilan Le Cordon Bleu, Bangkok, Dusit Culinary School. Tentunya upayanya tersebut menjadi jembatan bagi para anak-anak muda di Asia yang tertarik untuk mempelajari gastronomi, dan perhotelan berstandar Prancis dengan lokasi yang lebih dekat.

Tak Cukup Kata, Gastronomi Indonesia Potensinya Luar Biasa
Pada program Rendez-Vous Rasa, Chef Danniel telah menyambangi berbagai kota di Indonesia. Ia merasa senang, dan bangga dapat melakukan transfer ilmu kepada para siswa Sekolah Menengah Kejuruan, dan Politeknik.
Menurutnya transfer ilmu yang telah dilakukannya itu lekat dengan sejumlah tantangan menarik, ihwal akar rumput dari tradisi kuliner Prancis dengan Indonesia yang sangat berbeda.
Chef Danniel mengaku telah terbiasa beradaptasi dengan siswa Indonesia di Le Cordon Bleu, Paris.
Lewat interaksi timbal balik tersebut, dia banyak mengulik seputar kuliner, teknik serta gastronomi Indonesia.
Sebagian kuliner Nusantara pernah dicicipi dari olahan siswanya tersebut.
“Dari sini saya bisa melihat, merasakan serta mencecap beragam kuliner eksotis Indonesia.
Terkait dengan kuliner Prancis, para siswa saya yang berasal dari Indonesia, tentunya akan mempraktikkan teknik masak yang diajarkan di Le Cordon Bleu.
Hal ini sangat berguna untuk membangun fondasi lanskap gastronomi Indonesia, dengan merumuskan kembali resep masakan Indonesia.”
“Patut diingat Le Cordon Blue tidak akan menghilangkan akar rumput fondasi kuliner Indonesia, namun kami hendak meng-up-gradenya dengan hasil yang lebih baik, “imbuh Chef Danniel.

Saat ditanya ihwal cita rasa masakan Indonesia, Chef Danniel
menatap penanya dengan sorot mata lembut, dia tersenyum sembari berkata, “Kuliner Indonesia terbilang eksotis, lekat dengan keberagaman serta kompleksitas rasa.”
“Menakjubkan, karena hadir beragam bahan dengan varian bumbu berlimpah. Genrenya terbagi dari beragam peruntukan seperti kuliner masyarakat, masakan untuk kalangan bangsawan, selain diciptakan kuliner untuk acara ritual.”
“Pengaruh Tiongkok terbilang dominan yang kemudian berakulturasi dengan kuliner Nusantara, yang menghasilkan kuliner peranakan. Pengaruh bangsa lain juga terlihat dari Belanda, Portugis, juga Arab.”
“Chef Danniel melanjutkan, “Street food tak kalah beragam dari yang otentik tradisi, fusion hingga berasal dari luar.
Saya pastikan kuliner Indonesia senantiasa tersaji lezat. Namun entah kenapa rasanya terlalu asin bagi lidah Prancis. Mungkin terlalu banyak bumbu sehingga Chef membutuhkan garam yang lebih banyak di bandingkan kuliner Prancis.”
“Kuliner Indonesia didominasi oleh penggunaan rempah yang sangat kuat, kaya serta kompleks. Anda tahu kan kuliner Prancis, lebih menonjolkan kualitas, dari rasa alami bahan yang dimasak. Unggul lewat teknik masak yang menonjolkan saus, dan kaldu, “terangnya.
Chef Danniel menambahkan, “Masakan Indonesia memiliki paduan aromatik, lekat dengan rasa gurih, pedas, manis. Sedangkan kuliner Prancis itu terstruktur, dengan menjunjung tinggi pada keseimbangan rasa khas lembut serta klasik tanpa hadir rasa rempah yang tajam.”
“Karenanya lidah kami kaget bila menikmati kuliner bercita rasa manis maupun asin yang kuat. Atau kombinasi dari kedua rasa tersebut, “tutup Chef Danniel. (rp)




