WANITAINDONESIA.CO – Gunungan sampah yang selama ini menjadi momok lingkungan di berbagai pelosok negeri bersiap menghadapi akhir riwayatnya. Langkah nyata itu dimulai dari Pulau Dewata melalui peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bali di Denpasar. Proyek ambisius ini bukan sekadar urusan membakar limbah, melainkan sebuah awal dari peta jalan besar untuk merevolusi tata kelola sampah di puluhan wilayah aglomerasi (pengumpulan atau pemusatan tempat) di seluruh Indonesia.
Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat memastikan bahwa adopsi teknologi mutakhir ini tidak akan berhenti di Bali semata. Pemerintah telah memetakan rencana jangka panjang yang menyasar puluhan titik krusial lainnya di tanah air. Tercatat, setidaknya ada 34 aglomerasi yang mencakup sekitar 60 hingga 70 kabupaten serta kota di seantero Indonesia yang masuk dalam daftar pembangunan fasilitas serupa di masa depan.
Khusus di Bali, fasilitas PSEL ini dirancang untuk menuntaskan persoalan akut limbah di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Saat megaproyek ini rampung pada akhir tahun 2027 dan resmi beroperasi pada semester pertama 2028, mesin-mesin raksasanya diproyeksikan mampu melahap sekaligus mengolah hingga 1.500 ton sampah setiap harinya.
Kendati demikian, pendekatan yang diambil pemerintah untuk puluhan daerah lain dipastikan akan lebih fleksibel. Moh Jumhur Hidayat menjelaskan bahwa potensi pemanfaatan sampah di setiap wilayah akan terus digali secara spesifik karena tidak semua daerah harus menghasilkan listrik. Di beberapa tempat, sampah bisa dikonversi menjadi bentuk lain seperti bahan bakar alternatif berupa refuse-derived fuel atau RDF (bahan bakar dari hasil pemilahan sampah) maupun pelletizing (pembuatan pelet sampah) yang memiliki nilai kalor lebih tinggi dari batu bara. Untuk mewujudkan hal tersebut, kementerian membuka ruang kolaborasi yang luas dengan pendanaan daerah maupun pihak swasta yang tertarik pada konsep circular economy (ekonomi sirkular).
Bagi kementerian, esensi utama dari kehadiran teknologi ini di tingkat daerah adalah tuntasnya persoalan lingkungan, sedangkan keuntungan finansial hanyalah sebuah hadiah tambahan. Di kawasan-kawasan tertentu, termasuk pulau-pulau kecil, proyek ini bahkan tetap harus berjalan meski tanpa memberikan bonus ekonomi atau justru memerlukan biaya operasional. Tujuan akhirnya adalah memastikan sampah habis tak bersisa di tempat asal.
Tantangan besar memang masih membentang di depan mata, mengingat masih ada sekitar 480 kabupaten dan kota lain di Indonesia yang membutuhkan sentuhan teknologi penanganan limbah ini. Jumhur mengakui jumlah total fasilitas nantinya tidak akan sampai menyentuh angka seribu unit karena proyek ini melibatkan tanggung jawab besar dari pemerintah daerah dan kementerian secara nasional. Karena itu, langkah awal yang mampu mengamankan penanganan sampah di puluhan kota ini dinilai sebagai kontribusi yang sangat signifikan.
Sejalan dengan visi tersebut, Kepala Eksekutif Tertinggi (Chief Executive Officer/CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani selaku penggagas proyek, mengungkapkan bahwa gerak cepat sedang dilakukan untuk merealisasikan komitmen ini. Setelah fondasi di Bali tertanam, dalam waktu dekat pembangunan delapan fasilitas PSEL baru di wilayah lain akan segera diluncurkan secara bertahap.
Meski akselerasi proyek berjalan sangat cepat sejak pertama kali direncanakan, Danantara menjamin bahwa seluruh proses pengerjaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian yang tinggi. Penggunaan teknologi yang terjamin mutunya menjadi harga mati agar fasilitas ini benar-benar menjadi solusi jangka panjang yang andal. Menurut Rosan Roeslani, misi utama gerakan ini adalah memitigasi risiko lingkungan, meningkatkan kualitas kesehatan, menjaga keselamatan warga, serta menegakkan tata kelola wilayah yang baik dan benar.
Melihat transformasi sampah yang kini mulai bertransisi dari limbah tak berharga menjadi sumber daya baru, Indonesia tengah berada di ambang era baru tata kelola lingkungan. Keberhasilan proyek di Bali dan puluhan kota yang menyusul nanti akan menjadi penentu: apakah kita akan terus tenggelam dalam tumpukan sisa konsumsi, atau bangkit memimpin kemandirian energi hijau yang berkelanjutan. Masa depan bumi nusantara yang bersih kini bukan lagi sekadar impian di atas kertas, melainkan sebuah kerja nyata yang sedang digulirkan.





