
WANITAINDONESIA.CO – Mencintai negeri, mencintai budaya dengan membuka wawasan kebhinekaan berpikir menjadi kebijakan Mal Ciputra dalam mengakomodir kebutuhan pengunjung setia serta para pelakunya.
Setiap momen Imlek, Mal Ciputra Jakarta menjadi yang terdepan dalam menguri-uri budaya. Tradisi masyarakat Tionghoa yang lekat dengan budaya Tiongkok Selatan tepatnya di daerah Fujian, ditampilkan lewat pertunjukan Wayang Potehi selama perayaan.
Walau lekat sebagai budaya Tiongkok kuno namun alkulturisasi menjadikan produk budaya yang kerap disebut sebagai Wayang Kantung tersebut menjadi bagian dari budaya Indonesia, dan seni pertunjukan masyarakat.
Ferry Irianto, General Manager Mal Ciputra Jakarta di momen Imlek lalu mengatakan, “Mal Ciputra Jakarta terdepan ihwal menguri-uri budaya yang dikemas dalam seni pertunjukkan menarik, khususnya pada perayaan Tahun Baru Imlek.”
“Selain bentuk dukungan, Mal juga memiliki kepedulian tinggi terhadap upaya pelestarian ekosistem Wayang Potehi di mana hadir peran penting para Dalang, asisten serta UMKM pembuat Wayang Potehi, “tambahnya.
Ferry melanjutkan, “Pun upaya Mal Ciputra Jakarta lekat dengan DNA untuk memuliakan pengunjung, yakni generasi muda serta keluarga, agar mereka memiliki cara pandang baru dari perspektif budaya. Lebih mengenal serta mengapreasi budaya adiluhung bangsa, yang hadir lewat akulturasi beserta ekosistem pelakunya.”
Berkat suport dari PR Mal Ciputra Jakarta, Wanitaindonesia.co dapat melakukan wawancara dengan Dalang Wayang Potehi terkenal Indonesia, Sugiyo Waluyo kerap dipanggil Dalang Subur.
Persona pria Jawa ini bersinar berkat profesinya sebagai seorang Dalang yang diasah lewat ketekunan, disiplin serta passion.
Wanitaindonesia.co menanyakan banyak hal ihwal karir, masa depan, cerita serta proses kreatif yang terkait dengan atraksi Wayang yang memiliki nama asli Pou (kain), Te (kantung), dan Hi (wayang).
Wanitaindonesia.co:
Mengapa Anda rutin membuat pentas Wayang Potehi di sebuah Mal prestisius Ciputra Jakarta?
Dalang Subur:
“Awalnya saya sedang mendalang di sebuah tempat. Usai bertugas saya dihampiri oleh salah satu staf Mal Ciputra Jakarta yang saat itu sedang menonton performance saya.”
“Lewat perbincangan singkat, staf Mal tersebut menawarkan agar saya bersedia tampil di Mal Ciputra Jakarta, untuk memeriahkan perayaan Imlek.”
“Tawaran simpatik tersebut tak serta-merta saya terima. Saya mencari tahu profile mal tersebut, lanjut survei dengan berkunjung. Di sana saya melihat serta mengamati banyak hal seperti tipikal pengunjung yang datang dari kalangan generasi muda serta keluarga juga pekerja kantor. Setelah menimbang secara matang, saya kemudian bersedia untuk tampil.”
Wanitaindonesia.co:
“Anda tak memiliki darah tionghoa, mengapa bisa tertarik dan berkarir sebagai Dalang Wayang Potehi?
Dalang Subur:
“Sambil tersenyum bungah dia menceritakan jalan karirnya sebagai Dalang. Waktu kecil saya sudah terbiasa menonton pertunjukan Wayang Potehi di sejumlah klenteng di Jawa Timur.”
“Saat itu saya tertarik dengan tampilan wayang berbentuk boneka, berukuran mini, dan harus dimainkan dengan keterampilan jemari. Takjub dengan kemahiran dalangnya, karena setiap tokoh bisa dimainkan dengan apik seperti ekspresi yang berbeda, gaya bicara serta gerakannya. Kesemuanya terasa hidup, sangat indah, bermakna sekaligus menghibur.”
“Lewat ketertarikan tersebut, sayapun menberanikan diri untuk lebur, bekerja secara otodidak kepada sang Dalang. Mulai dari asisten seperti mempersiapkan Wayang Potehi, menatanya di dekat Dalang, dlsbnya.”
“Berkat kerja keras, dedikasi, selalu mau belajar dengan mengikuti instruksi Dalang, karir saya mengalami kemajuan. Saya kemudian dipercaya untuk memainkan beragam alat musik.
Di level tertinggi saya pun mulai belajar memainkan Wayang Potehi. Butuh waktu panjang ya, hingga kemudian saya memilih pekerjaan sebagai Dalang.”

Wanitaindonesia.co :
“Selama tampil di Mal Ciputra Jakarta sepanjang perayaan Imlek, apa yang bisa Anda ceritakan?
Dalang Subur:
Saya sangat antusias, dan berterima kasih atas kepedulian manajemen Mal Ciputra Jakarta yang telah memberi panggung, suport kepada saya. Manajemen sangat bermurah hati karena saya dikontrak selama lebih dari 20 hari.”
“Dalam sehari saya bisa tampil dalam tiga waktu berbeda pada momen sebelum, pada saat Imlek serta menjelang Perayaan Cap Go Meh.
“Tampil di mal terbaik di Jakarta Barat tentu saja membantu saya mendapatkan eksposur lebih, mengingat pengunjung mal datang dari berbagai latar belakang yang beragam, khususnya generasi muda, keluarga serta pekerja.”
“Tipikal penonton Wayang Potehi di Mal tentu saja berbeda dengan penonton di Kelenteng. Mereka melihat, mendengar sambil berlalu-lalang karena sedang melakukan aktivitas. Namun begitu saya merasa terharu, ada kelompok penonton setia. Mereka ini setiap hari bolak-balik ke mal untuk melihat, dan mendengar cerita serta wejangan dari kisah-kisah seperti shio serta cerita heroik Tiongkok kuno.”
Wanitaindonesia.co:
“Untuk materi cerita, Anda mengambil inspirasi dari mana? Apakah related dengan kehidupan sekarang seperti terkait dengan hal-hal yang sedang viral. Mengingat Anda sudah tampil cukup lama sejak tahun 2024, apakah ceritanya sama atau berganti-ganti?
Dalang Subur:
“Cerita yang saya tampilkan merujuk ke pakem Wayang Potehi, inspirasi dari kehidupan sehari-hari yang lekat dengan Shio yang menjadi lambang Tahun Baru Imlek diselingi cerita masyarakat kuno seperti Kisah Tiga Negara, Legenda Kera Sakti yang lekat akan keteladanan maupun perbuatan yang tak terpuji.”
“Untuk mengakselerasikan dengan kebutuhan pengunjung tentang hal-hal yang sedang viral, biasanya saya akan berimprovisasi dengan memasukkan hal tersebut di antara jalan cerita. Seperti di masa pandemi Covid-19 lalu.”
“Saya selipkan himbauan untuk pengunjung,agar disiplin untuk melakukan social distancing. Mematuhi protokol kesehatan ketat serta secara bersama-sama berperang melawan covid.”
Wanitaindonesia.co:
“Selama berkarir sebagai Dalang Wayang Potehi apakah Anda mendapat supprt Pemerintah. Jika iya bentuknya seperti apa?”
Dalang Subur:
“Selama ini saya harus berkata jujur, belum ada sedikitpun hadir suport yang Anda tanyakan tersebut. Tak seperti Dalang Wayang kulit yang kerap diajak berkolaborasi di sejumlah acara serta momen penting lainnya. Padahal saya juga merupakan anak bangsa yang butuh diperhatikan, diayomi karena tugas saya kan menguri-uri budaya.”
“Pemerintah serta masyarakat perlu tahu bahwa ekosistem Wayang Potehi Indonesia, merupakan pekerja-pekerja yang hampir 90 persen adalah warga masyarakat biasa, sebagian beragama Islam.”
“Saya menyadari mungkin faktor mindset sebagian orang, yang menganggap Wayang Potehi menjadi bagian dari ritual saudara-saudara kita masyarakat Tionghoa. Padahal anggapan ini tidak semuanya tepat. Hanya pemaparan sejarah serta ketika manggung, saya tak melakukan ritual khusus.”
“Jika ada perhatian kepada ekosistem Wayang Potehi, perhatian tersebut justru datang dari pihak Mal Ciputra Jakarta yang telah dengan sepenuh hati mendukung saya beserta ekosistem Wayang Potehi sejak tampil perdana hingga sekarang. Selain saya juga bahagia karena mendapat dukungan dari sahabat Media, yang banyak melakukan eksposur terhadap upaya kami.”

Wanitaindonesia.co:
“Tampilan panggung Wayang Potehi tak terlalu catchy. Desain panggung kecil, obyek wayangpun demikian serta beragam ornamen warna-warni yang terlihat ramai, kerap mengabaikan fokus pandang pengunjung.”
“Pun tak didukung oleh lighting yang baik seperti pada pertunjukan Wayang Kulit. Apakah menurut Anda konsep desain tersebut bisa diubah, tanpa meninggalkan jati diri Wayang Potehi guna menarik minat pengunjung khususnya generasi muda?
Dalang Subur:
“Perlu dipahami ihwal Wayang Potehi yang kerap diartikan sebagai “Wayang Saku” dikarenakan wujudnya yang kecil, cara memainkannya harus dimasukan ke dalam tangan. Menggunakan keterampilan jari-jemari agar penonton dapat melihat ekspresi, gerakan ketika Dalang beraksi.”
“Karenanya panggung dibuat kecil agar tercipta harmoni dengan wayang. Memang butuh upaya lebih agar panggung terlihat catchy. Selama ini posisi panggung selalu berada di bawah panggung utama, sehingga terkesan “tenggelam”.
“Mungkin ke depan bisa dibuatkan panggung Wayang Potehi di atas panggung utama atau bisa dihadirkan Videotron agar penonton dapat melihat pertunjukkan dengan jelas.
“Ihwal warna, kami berpedoman ke pakem, lekat dengan warna merah, kuning, putih serta hijau yang masing-masing warna memiliki arti perlambang.”
Wanitaindonesia.co :
“Apakah Anda pernah terkendala saat tampil? Bagaimana dengan penghasilan mendalang?, mengingat pamor Wayang Potehi tak seperti Wayang Kulit?
Dalang Subur:
“Saya pernah mengalami kejadian yang membuat perasaan saya masygul. Ketika hendak berangkat, mendadak asisten saya berhalangan hadir. Khawatir karena performance jadi tak maksimal. Walau bisa cari pengganti, tapi kan butuh waktu serta harus dipastikan bahwa orang tersebut paham dengan pekerjaannya.”
“Sebagai Dalang, saya butuh fokus tinggi saat melakukan pekerjaan, agar tampilannya maksimal.”
“Soal penghasilan, alhamdulillah ketika saya konsisten untuk menjalankan frugal living, penghasilan mendalang mencukupi untuk kebutuhan keluarga serta membayar honor para asisten.”
“Diibaratkan kerja beberapa jam dalam sehari, hasilnya bisa untuk hidup selama 5 hingga 7 hari.”
“Terlebih atas berkat suport Mal Ciputra Jakarta, saya bisa dapat job dalam rentang waktu serta hari yang panjang. Terima kasih.”

Wanitaindonesia.co:
Dibandingkan dengan negara Jiran seperti Malaysia maupun Tiongkok, apa keunggulan Wayang Potehi Indonesia?
Dalang Subur:
“Wah ini pertanyaan menarik. Indonesia unggul karena semboyan Bhineka Tunggal Ika yang benar -benar dipraktikkan dalam keseharian masyarakatnya. Bila diamati, ekosistem Wayang Potehi di Indonesia justru didominasi oleh masyarakat lokal, yang beragama Islam.”
“Walau masih kalah pamor dengan Wayang Kulit, penggemar Wayang Potehi jumlahnya lumayan banyak. Ini terbukti ketika momen Imlek di Mal Ciputra Jakarta, saya bisa tampil selama lebih dari 20 hari.”
“Juga ketika performance di Kelenteng, saya diminta beberapa pengurus Kelenteng untuk mendalang selama 5 bulan!”
“Para pengrajin Wayang Potehi didominasi oleh masyarakat lokal di Jawa Timur. Mereka mumpuni sebagai pengrajin karena untuk menghasilkan sebuah wayang berukuran kecil, dibutuhkan banyak ahli seperti pemahat, orang yang mengecat, pembuat kostum serta pembuat aksesoris seperti topi. Kesemua elemen pendukung produksi tersebut merupakan keunggulan Wayang Potehi Indonesia.
Wanitaindonesia.co:
“Anda tak memiliki darah Tionghoa, kok bisa jadi Dalang Wayang Potehi? Bagaimana ceritanya?
Dalang Subur:
“Semasa kecil ketika tinggal di Surabaya, saya sering menonton pertunjukkan Wayang Potehi di Kelenteng. Karena menjadi penonton fanatik, didukung rasa ingin tahu kanak-kanak seusia saya, saya kemudian diajak untuk menjadi bagian ekosistem Wayang Potehi. Itu terjadi di tahun 1974.”
Karena rajin serta cepat menyerap ilmu, karir saya cepat melejit. Dari asisten lanjut pegang tambur, memainkan genderang hingga terompet. Dan di tahun1994 saya berprofesi sebagai Dalang hingga sekarang.”
Wanitaindonesia.co:
“Apa pengalaman menarik yang Anda alami sepanjang jadi Dalang Wayang Potehi?
Dalang Subur:
Karena sejak lama menekuni profesi Dalang serta passion saya di sini, tentu saja banyak sekali pengalaman berkesan. Utamanya ketika bertemu dengan orang-orang yang memiliki vibes positif, salah satunya pihak Mal Ciputra Jakarta.”
“Di saat industri mati suri di masa pandemi, atas berkat kepercayaan, dorongan Mal Ciputra Jakarta dalam menguri-uri budaya, saya bisa tampil, dan beroleh penghasilan.”
“Pun pengalaman tampil di Jepang serta Pulau Pinang, Malaysia yang menjadi capaian tertinggi sepanjang karir. Berpikir bila tak menjadi Dalang Wayang Potehi, rasanya mustahil saya bisa berkunjung ke sana.”
Wanitaindonesia.co:
“Ihwal regenerasi Dalang Wayang Potehi, upaya serta kerja-kerja apa sajakah yang sudah Anda lakukan?
Dalang Subur :
“Pertanyaan yang tak kalah menarik dari sebelumnya. Regenerasi itu keniscayaan, dan wajib dipikirkan serta harus diupayakan di awal karir. Tak boleh menunggu karena kehidupan selalu berganti.”
“Regenerasi menjadi kata kunci agar suatu profesi dapat berkelanjutan. Saya berpedoman ke guru saya ihwal regenerasi, dengan mendidik para asisten untuk lebur dengan pekerjaan. Setelahnya, saya akan melihat potensi masing-masing, apakah ada yang tepat untuk meneruskan legacy sebagai pedalang, karena walaupun merupakan keniscayaan, legacy itu harus diteruskan oleh persona-persona yang berbakat serta memiliki passion sesuai bidangnya.”
“Saya sudah mulai melihat, dan mendapatkan sosok penerus yang tepat, untuk melanjutkan menguri-uri budaya seperti tekad serta perjuangan kita bersama, “tutup Dalang Subur. (*)




