
WANITAINDONESIA.CO – Kasus dugaan keracunan massal kembali mengguncang Jakarta. Sebanyak 72 siswa dari empat sekolah di Jakarta Timur (SMAN 91, SDN Pondok Kelapa 01, 07, dan 09) terpaksa dilarikan ke rumah sakit setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Sabtu (4/4/2026).
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengonfirmasi bahwa rata-rata siswa mengalami gejala klasik keracunan: demam tinggi, mual, muntah, hingga diare. Dugaan kuat mengarah pada menu spageti yang disajikan saat itu.
Belajar dari insiden ini, kita dituntut untuk lebih “rewel” sebelum menyantap makanan. Keracunan sering kali terjadi karena bakteri atau kontaminasi yang sebenarnya bisa kita deteksi melalui panca indra.
Cara Cepat Deteksi Makanan Tidak Layak Konsumsi
Jangan hanya asal kenyang, pastikan makanan Anda aman dengan langkah Lihat, Cium, dan Rasakan:
1. Perubahan Warna (Visual)
- Warna Kusam: Daging atau saus yang warnanya berubah menjadi lebih gelap, keabu-abuan, atau kehijauan adalah tanda pertumbuhan bakteri atau jamur.
- Lendir: Pada menu seperti spageti atau mi, munculnya lapisan lendir bening di permukaan adalah tanda pasti makanan sudah mulai membusuk.
2. Aroma yang Menyengat (Olfaktori)
- Bau Asam/Apek: Jika makanan beraroma asam yang tajam (padahal bukan masakan asam) atau bau apek, segera buang. Aroma ini muncul akibat proses fermentasi bakteri.
- Bau Amis Tak Wajar: Terutama pada olahan protein (daging/telur/susu), bau amis yang menusuk menandakan kerusakan sel protein.
3. Tekstur dan Rasa
- Rasa “Nyegrak” atau Berbuih: Jika saat dicicipi ada rasa pedas aneh (bukan cabai), rasa pahit yang tertinggal, atau muncul buih kecil di saus, itu adalah tanda gas hasil aktivitas mikroba.
- Lembek/Benyek: Sayuran atau pasta yang kehilangan tekstur aslinya dan menjadi sangat lunak/hancur patut dicurigai.
Catatan penting, bakteri penyebab keracunan seperti Salmonella atau E. coli terkadang tidak mengubah rasa secara drastis, namun suhu penyimpanan yang salah (dibiarkan di ruang terbuka lebih dari 2 jam) adalah pemicu utama.
Jika Anda atau anak Anda terlanjur mengonsumsi dan mengalami mual dan diare setelah makan, maka upaya yang harus segera dilakukan adalah:
- Hidrasi naksimal dengan minum air putih atau oralit untuk mengganti cairan yang hilang.
- Jangan langsung minum obat penghenti diare. Biarkan tubuh mengeluarkan racun secara alami, kecuali atas saran dokter.
- Segera ke medis jika mengalami demam tinggi dan lemas tak tertahankan, segera ke rumah sakit terdekat seperti langkah cepat yang dilakukan terhadap 72 siswa Jaktim tersebut.
Patut diperhatikan lebih baik membuang makanan yang mencurigakan daripada harus masuk ke ruang IGD. (Gdi)




