
WANITAINDONESIA.CO – Di tengah luka yang masih membekas akibat banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, Wahana Visi Indonesia (WVI) hadir membawa harapan. Selama hampir tiga pekan masa tanggap darurat, tim respons bencana WVI terus mendampingi anak-anak dan keluarga penyintas, memastikan kebutuhan dasar mereka tetap terpenuhi.
Sedikitnya 5.000 orang telah merasakan manfaat dari berbagai bantuan yang disalurkan WVI. Mulai dari penyediaan 24.000 liter air bersih, pemasangan 130 meter pipa untuk menunjang akses sanitasi, hingga pengoperasian dapur PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak) yang telah mendistribusikan 2.208 paket makanan bergizi bagi bayi dan balita.
Melihat kondisi di lapangan yang masih memprihatinkan, WVI memutuskan untuk memperpanjang masa tanggap bencana hingga Juni 2026. Tak hanya itu, organisasi kemanusiaan ini juga bersiap memperluas respons ke wilayah Aceh yang turut terdampak bencana.
“Setelah hampir tiga minggu melakukan respons, kami menyaksikan langsung bagaimana bencana ini melumpuhkan kehidupan anak-anak dan masyarakat Tapanuli Tengah,” ujar Yacobus Runtuwene, Technical Sectors Director WVI. Ia menegaskan komitmen WVI untuk terus mendampingi masyarakat hingga proses pemulihan berjalan lebih baik.
Saat ini, sebagian besar warga masih bertahan di lokasi pengungsian dengan fasilitas yang terbatas. Tantangan akses transportasi dan distribusi logistik turut memperberat upaya pemulihan, membuat banyak keluarga belum dapat kembali menjalani kehidupan seperti sebelum bencana.
Perhatian WVI terhadap anak-anak menjadi salah satu fokus utama dalam respons ini. Sebanyak 1.404 anak telah mendapatkan dukungan psikososial melalui Ruang Ramah Anak, tempat mereka bisa bermain, belajar, dan kembali tersenyum di tengah situasi sulit. Pendampingan ini menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk memulihkan diri dari trauma pascabencana.
Tak hanya itu, 687 balita telah menerima layanan kesehatan untuk mencegah risiko kurang gizi. Para ibu pun didampingi secara intensif melalui konseling PMBA agar tetap dapat memberikan ASI kepada buah hati mereka, meski berada di pengungsian.
Salah satu kisah yang menyentuh datang dari seorang bayi yang lahir di posko pengungsian dengan kondisi sulit menyusu. Dengan pendampingan staf kesehatan WVI, sang ibu dibimbing untuk memerah ASI dan memberikannya menggunakan sendok. “Saya tidak pernah terpikir sebelumnya kalau bisa perah dan kasih ASI pakai sendok. Berarti bayi saya tidak perlu susu formula,” tutur sang ibu dengan lega.
Harapan juga terucap dari Nia, seorang anak penyintas yang rumahnya rusak akibat banjir dan longsor. “Rumahku tidak bisa ditempati lagi. Kami sempat menginap di gereja, lalu pindah ke pengungsian. Bersyukur di sini banyak teman, banyak bantuan, makanannya cukup, tempatnya bersih, dan bisa ikut kegiatan dari kakak-kakak WVI,” ujarnya polos. Nia berharap semuanya segera membaik dan ia bisa kembali ke rumahnya.
Di tengah keterbatasan dan duka, kehadiran Wahana Visi Indonesia menjadi pengingat bahwa kepedulian dan pendampingan yang berkelanjutan mampu menumbuhkan kembali harapan, terutama bagi anak-anak yang menjadi masa depan bangsa. (ver)




