Upaya Bank Indonesia Menjaga Isi Dompet dari Efek Domino Harga Bahan Bakar

Ilustrasi kenaikan harga BBM yang berdampak terhadap kenaikan inflasi. gdi

WANITAINDONESIA.CO – Langkah kaki menuju stasiun pengisian bahan bakar umum kini kerap kali diiringi dengan helaan napas pendek. Dinamika politik di belahan dunia yang jauh di sana diam-diam telah mengetuk pintu dapur kita, memicu fluktuasi harga bahan bakar minyak nonsubsidi yang bergerak bak ombak di lautan. Mulai dari jenis Pertamax hingga Pertamax Turbo yang mengalami lonjakan harga hingga Rp4.000 per liter, dinamika ini memicu kekhawatiran masyarakat akan merembetnya kenaikan harga barang kebutuhan pokok sehari-hari.

Namun, di tengah kecemasan tersebut, otoritas moneter tertinggi negara bergerak cepat memberikan sinyal ketenangan. Bank Indonesia memprediksi bahwa meskipun lonjakan harga bahan bakar minyak nonsubsidi ini akan menyumbang angka inflasi (kemerosotan nilai uang) sebesar 0,25 persen, laju pergerakannya secara nasional diyakini akan tetap aman dan terkendali.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik global memang menjadi dalang utama di balik naik turunnya harga komoditas energi dan pangan saat ini. Selain harga bahan bakar yang tidak menentu, potensi inflasi dari luar negeri (imported inflation) akibat melambungnya harga komoditas global seperti pupuk juga terus dipantau dengan ketat.

Baca Juga :  Gubernur BI Meyakinkan Perekonomian Indonesia Akan Naik pada 2022

“Tentunya harga bahan bakar minyak nonsubsidi ini akan berfluktuasi tergantung dari harga global tadi. Untuk sementara, hitungan kami lebih kurang dia berkontribusi sekitar 0,25 persen kepada inflasi. Dengan hal itu semua, memang proyeksi inflasi ini mulai mengalami peningkatan, tetapi semuanya masih dalam target 2,5 plus minus 1 persen. Jadi paling tinggi inflasi kita di level 3,5 persen, ini masih dalam target-target tersebut,” ujar Aida S. Budiman dalam konferensi pers daring hasil Rapat Dewan Gubernur di Jakarta.

Tantangan di dalam negeri nyatanya tidak hanya datang dari sektor energi. Datangnya musim kemarau tahun ini turut memberi tekanan tersendiri bagi pergerakan harga komoditas pangan bergejolak (volatile food). Sebagai dampaknya, andil inflasi terbesar di pasar domestik saat ini disumbang oleh kelompok hortikultura (budidaya kebun) seperti cabai merah, bawang merah, hingga cabai rawit yang harganya mulai merangkak naik akibat faktor cuaca.

Baca Juga :  Astra UD Trucks Hadirkan Quester Euro 5 Berbahan Bakar BioSolar

Kondisi tersebut diamini oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, yang memaparkan bahwa inflasi kelompok pangan bergejolak pada bulan lalu sempat melonjak ke angka 6,24 persen secara tahunan (year-on-year). Dampak lonjakan harga pangan ini pun dirasakan secara tidak merata di berbagai wilayah Indonesia. Jika sebanyak 25 provinsi tercatat masih aman di dalam rentang sasaran, terdapat 13 provinsi lain yang laju inflasinya sudah mulai melewati batas aman koordinasi.

“Seperti di Papua Barat tingkat inflasi sebesar 5,94 persen, kemudian di Aceh 5,12 persen, kemudian di Kalimantan Tengah juga 4,55 persen. Sinergi bersama 46 kantor perwakilan Bank Indonesia terus diperkuat dengan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah, serta Program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera. Upaya ini adalah untuk menjaga ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta stabilitas harga pangan di berbagai daerah,” kata Ricky P. Gozali menerangkan langkah taktis di lapangan.

Baca Juga :  Solusi Cerdas BRIN Sulap Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Nelayan

Melalui jaringan pengawasan yang ketat dari hulu hingga ke hilir, pemerintah dan bank sentral berkomitmen penuh untuk menahan agar efek domino gejolak global ini tidak sampai merusak daya beli masyarakat. Pasokan pupuk dalam negeri pun dipastikan masih mencukupi kebutuhan para petani sehingga produktivitas sektor pertanian diharapkan tetap terjaga dengan baik hingga akhir tahun.

Menghadapi situasi ekonomi yang dinamis ini, kesiapan dan kebijakan dalam mengelola keuangan menjadi kunci utama di setiap rumah tangga. Ketika stabilitas harga pangan dan pasokan energi terus dikawal ketat oleh negara, optimisme baru pun terbangun bahwa roda perekonomian nasional akan tetap berputar dengan tangguh. Bagaimana dengan Anda, strategi apa yang sudah Anda siapkan untuk tetap cerdas mengatur anggaran belanja keluarga di bulan ini?