Prof. Retno Pencipta Orkestrasi Pemasaran Digital Untuk Perkuat Ekonomi Bangsa

Prof. Retno Dewanti, S.Si., M.M., Ph.D sang maestro di bidang digitgal marketing. gdi

WANITAINDONESIA.CO – Gemuruh tepuk tangan dan haru menyelimuti ruang aula saat seorang akademisi tangguh melangkah mantap menuju mimbar kehormatan. Hari ini menjadi tonggak sejarah baru bagi dunia pendidikan tinggi saat Prof. Retno Dewanti, S.Si., M.M., Ph.D. secara resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Manajemen Pemasaran di Universitas Bina Nusantara (Binus) Alam Sutera. Lewat sebuah orasi ilmiah yang visioner dan menyentuh hati, sang profesor tidak hanya membedah cetak biru (blueprint) industri masa depan, tetapi juga merefleksikan sebuah perjalanan hidup yang penuh dengan ketahanan (resilience) dan kemandirian.

Dunia pemasaran saat ini telah bergeser dari sekadar adu pesan menjadi perlombaan menyajikan pengalaman yang mendalam bagi konsumen. Di tengah kepungan teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan dominasi raksasa teknologi global, industri hulu hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dituntut untuk tidak sekadar piawai menciptakan interaksi (engagement), melainkan harus mampu mengubahnya menjadi konversi nilai keuntungan yang terukur dan berkelanjutan.

Dalam pemaparannya yang memukau, Profesor Retno menganalogikan ekosistem pemasaran digital modern seperti sebuah pergelaran orkestra simfoni yang megah.

“Bayangkan ekosistem pemasaran digital sebagai sebuah orkestra simfoni. Setiap instrumen seperti optimalisasi mesin pencari (Search Engine Optimization/SEO), media sosial, hingga surat elektronik memiliki suara dan peran yang unik. Jika setiap musisi bermain sendiri-sendiri tanpa arahan (multisaluran/multichannel), hasilnya akan menjadi kebisingan yang kacau. Namun, ketika seorang konduktor memimpin dengan partitur yang jelas melalui strategi lintas saluran terpadu (omnichannel), menggabungkan suara setiap instrumen secara harmonis, hasilnya adalah sebuah karya musik yang indah dan menggugah emosi,” ujar Retno Dewanti di hadapan sidang terbuka senat akademis.

Baca Juga :  Tahun 2025, FIF Bukukan Laba Bersih Rp4,63 Triliun, Tumbuh Positif di Tengah Tantangan Ekonomi

Pondasi strategi yang kokoh tersebut dicontohkan melalui pertumbuhan pesat performa bisnis platform digital di tanah air. Berdasarkan data ekonomi nasional, nilai total transaksi pasar (Gross Merchandise Value/GMV) TikTok Shop Indonesia telah menembus angka fantastis Rp100,5 triliun dengan pertumbuhan tahunan mencapai 39 persen. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai penyumbang transaksi terbesar kedua di dunia. Fenomena tersebut membuktikan bahwa integrasi yang mulus antara media sosial dan perdagangan elektronik (e-commerce) mampu menciptakan kenyamanan berbelanja yang membuat konsumen tenggelam hingga lupa waktu.

Meski demikian, lompatan digital ini menyisakan celah kerentanan yang mengkhawatirkan. Indonesia menempati urutan kedua dari sepuluh negara yang paling rentan terhadap kasus penipuan digital (online scam). Praktik pengelabuan (phishing) telah menyebabkan kerugian masyarakat mencapai Rp9 triliun. Oleh karena itu, Profesor Retno mendesak pemerintah dan akademisi untuk menerapkan siklus manajemen perbaikan berkelanjutan atau PDCA (Plan-Do-Check-Action) guna mengantisipasi perubahan algoritma mendadak dari para penguasa teknologi global, sekaligus membangun tata kelola berbasis perlindungan data konsumen.

Baca Juga :  Otot Finansial Tetap Kekar di Tengah Badai Ekonomi Global

Di balik kecemerlangan pemikiran akademisnya, kisah hidup sang profesor adalah sebuah romansa perjuangan yang menggugah jiwa. Lahir di Ngawi dan sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Retno muda harus menghadapi titik balik kehidupan yang mahaberat pada tahun 1999 saat sang suami berpulang akibat sakit gagal ginjal. Menjadi orang tua tunggal bagi kedua anaknya, ia menolak untuk menyerah pada keadaan. Dari seorang agen sukses di perusahaan asuransi, ia memantapkan langkah mengabdi di dunia pendidikan sebagai dosen Binus sejak tahun 2001, hingga berhasil meraih gelar doktor dari Universitas Sains Malaysia.

Kontribusi keilmuannya pun diakui secara luas, mulai dari pelopor instruktur promosi wisata berbasis digital di Kementerian Pariwisata hingga keaktifannya dalam program pemberdayaan masyarakat desa. Hal ini selaras dengan pandangan Guru Besar Tamu Universitas Dian Nuswantoro, Profesor Vincent Didiek Wiet Aryanto, MBA, Ph.D., yang turut menyoroti pentingnya penguatan literasi digital dan pengamanan jaringan internet nasional dalam menghadapi tekanan geopolitik dunia. Dukungan serupa juga mengalir dari Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Ir. Martini Mohamad Paham, MBA, yang mengapresiasi sumbangsih nyata sang profesor dalam mendampingi digitalisasi pelaku industri kreatif.

Baca Juga :  Beri Uang Saku ke Pacar Bukan Standar Hubungan Ideal

Menutup orasi ilmiahnya yang sarat akan makna, Profesor Retno Dewanti mengajak seluruh elemen masyarakat, universitas, dan pembuat kebijakan untuk bersinergi demi mewujudkan cita-cita besar bangsa.

“Kekayaan Indonesia yang berlimpah menjadi modal utama untuk dikembangkan sehingga konversi nilainya lebih tinggi tatkala proses penyampaiannya tepat dengan menggunakan media yang tepat. Penguasaan digital marketing menjadi fondasi agar bisnis tetap relevan, adaptif, dan bertumbuh berkelanjutan. Mari bersama-sama berkontribusi membangun dari bawah untuk pemerataan ekonomi, mengawal visi menuju Indonesia Emas 2045,” tutur Retno penuh semangat.

Pengukuhan ini menjadi bukti sahih bahwa ilmu pengetahuan tertinggi tidak akan pernah kehilangan arah ketika ia diabdikan untuk kemaslahatan masyarakat luas. Dari ruang-ruang kelas hingga ke pelosok desa wisata, strategi digital yang humanis dan berbasis data yang dicanangkan hari ini diharapkan mampu menjadi pemantik api optimisme baru bagi ketahanan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Sudahkah kita siap mengambil peran dan melangkah bersama menuju era baru yang penuh peluang ini? (Gdi)