Transjakarta Akselerasi 500 Bus Listrik & Integrasi Antarmoda MRT-LRT, Hemat Cuma Rp10 Ribu

Transjakarta terus berupaya menghadirkan layanan yang mampu menjangkau lebih banyak wilayah sekaligus mempermudah perjalanan masyarakat melalui integrasi antarmoda. Foto : Dok Transjakarta

WANITAINDONESIA.CO – ​Kabar gembira bagi para ibu pekerja dan mobilitas keluarga urban di Jakarta. PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) semakin melesat dalam melakukan peremajaan armada dan integrasi moda transportasi perkotaan. Tak hanya ramah lingkungan lewat percepatan armada bus listrik, kini jaringan Transjakarta makin terhubung hingga ke titik permukiman warga.

​Melakukan perjalanan kerja sehari-hari maupun mengantar anak dan keluarga beraktivitas kini semakin praktis. Transjakarta terus memperkuat komitmennya dalam mengembangkan jaringan BRT (Bus Rapid Transit) maupun non-BRT, memperluas integrasi antarmoda, serta meningkatkan aksesibilitas publik di seantero Jakarta.

​Langkah strategis ini bukan sekadar perluasan rute, melainkan wujud nyata menghadirkan angkutan umum yang makin aman, nyaman, andal, dan bebas polusi udara bagi warga ibu kota.

​​Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Operasional dan Keselamatan Transjakarta, Mohamad Deddy Gamawan (Dega), saat menjadi narasumber dalam diskusi bertajuk “Advancing Sustainable Urban Mobility: Menelaah Peran BRT dan Non-BRT dalam Mendorong Mobilitas Perkotaan Berkelanjutan” di University Club Jakarta, Minggu (30/8/2026).

Baca Juga :  Era Baru Transportasi Ibu Kota, Transjakarta Bakal Layani Kepulauan Seribu Mulai 2027

​Dalam pemaparannya, Dega menyampaikan bahwa transportasi publik Jakarta dirancang agar terhubung dari pintu ke pintu (first-and-last-mile connectivity), memastikan perjalanan penumpang terakomodasi sejak keluar dari lingkungan rumah hingga tiba di tempat tujuan.

​”Transjakarta terus berupaya menghadirkan layanan yang mampu menjangkau lebih banyak wilayah sekaligus mempermudah perjalanan masyarakat melalui integrasi antarmoda. Dengan jaringan yang saling terhubung, saat ini coverage area Transjakarta sudah mencapai 92% area DKI Jakarta. Masyarakat dapat menikmati moda transportasi publik yang lebih praktis, nyaman, dan efisien,” ujar Dega.

​Hingga saat ini, Transjakarta telah mengoperasikan sebanyak 240 rute yang mencakup layanan bus koridor (BRT), bus pengumpan (feeder), Mikrotrans (angkot AC modern), Transjabodetabek, bus ke hunian rusunawa, Royaltrans, hingga armada khusus disabilitas.

​Perpindahan Moda Makin Mudah: Terkoneksi Langsung dengan MRT & LRT

​Bagi wanita pekerja yang mengandalkan keterhubungan antarmoda, titik transit Transjakarta kini dibuat semakin nyaman dan terintegrasi secara fisik di berbagai simpul utama transportasi Jakarta:

Baca Juga :  Komitmen Hadirkan Transportasi Berkelanjutan, Transjakarta Raih Transportasi Award 2026

​Stasiun MRT Jakarta: Integrasi langsung di titik strategis Bundaran HI, ASEAN, dan Lebak Bulus.

​Stasiun LRT Jabodebek: Keterhubungan seamless di stasiun Setia Budi, Rasuna Said, Cikoko, Cawang, Ciliwung, dan Kuningan.

​Selain integrasi fisik halte dan titik henti, kemudahan ini makin lengkap dengan adanya integrasi tarif hemat lintas moda. Penumpang hanya dikenakan tarif maksimum (plafon) sebesar Rp10.000 untuk durasi perjalanan hingga 180 menit (3 jam) saat mengombinasikan layanan Transjakarta, MRT, dan LRT.

​”Integrasi bukan sebatas keterhubungan halte atau rute, melainkan juga kemudahan perpindahan penumpang antar-moda. Oleh karena itu, penguatan integrasi fisik, keterhubungan rute, dan keterjangkauan tarif menjadi prioritas utama pengembangan Transjakarta,” tambah Dega.

Baca Juga :  Inovasi Keselamatan Transjakarta: Gandeng APKI dan PERDOKI Buat Standar Kesehatan dan Psikologi Pramudi Naik Kelas

​Tidak hanya efisien secara waktu dan biaya, Transjakarta juga terdepan dalam menjaga kualitas udara bersih bagi kesehatan keluarga ibu kota melalui percepatan elektrifikasi armada bus listrik.

​Langkah nyata ini mendukung penuh target Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menyediakan 50% angkutan umum bebas polusi pada 2027 dan mencapai 100% armada ramah lingkungan pada 2030 mendatang.

​”Untuk mencapai target tersebut, kami menerapkan strategi peremajaan armada, pengadaan bus listrik baru, serta program retrofit. Pada tahun 2030, sebanyak 96% kontrak operator eksisting ditargetkan telah bertransformasi menggunakan kendaraan listrik,” jelas Dega.

​Hingga akhir Agustus 2026 ini, Transjakarta telah mengoperasikan total 500 unit bus listrik ramah lingkungan di seluruh jaringan layanannya. Inisiatif hijau ini tak hanya mengurangi emisi karbon kota, tetapi juga menghadirkan pengalaman berkendara yang senyap, minim getaran, dan nyaman bagi seluruh penumpang. (Des)