Spesial 5 Tahun PINTU Incubator, Inovasi, Capaian, Apreasiasi Talenta Muda Berkilau di Kancah Global

Theresia Mareta, Co-Initiator PINTU Incubator, Founder LAKON Indonesia, "Selain kreativitas pelaku usaha mode membutuhkan struktur penentu keberlanjutan. Peran pintu unggul sebagai inkubator selektif, berbasis standar untuk menghadapi realitas industri mode global," (ki-ka: Carol Meyer, Atase Kebudayaan IFI-Kedubes Prancis untuk Indonesia, ASEAN, & Timor Leste, Theresia Mareta didampingi incubees PINTU Incubator. Foto: Wanitaindonesia.co

WANITAINDONESIA.CO – Torehan perjalanan ke -5 PINTU Incubator yang diinisiasi JF3 Fashion Festival, LAKON Indonesia berkerja sama dengan Kedutaan Besar Prancis melalui IFI, terlihat nyata serta senantiasa berprogres.

Selama lima tahun perjalanan PINTU Incubator, demikian banyak yang telah mereka jejak, yang mencetak sejumlah momen tak terlupakan diantaranya apreasiasi Presiden Prancis, Emmanuel Macron, secara khusus memberikan apresiasi tinggi terhadap program PINTU Incubator. Apreasiasi istimewa ini ditujukan kepada Presiden RI, Prabowo Soebianto yang dilakukan dalam pidato saat kunjungan kenegaraan di Candi Borobudur.

Macron menyebut program PINTU Incubator sebagai wujud nyata keberhasilan diplomasi budaya serta kemitraan strategis bilateral di bidang mode, dan industri kreatif antara Indonesia dengan Prancis.

PINTU merupakan program inkubasi fesyen yang lahir di tahun 2022. Program memiliki keunikan serta berbeda dari kompetensi atau fesyen show. PINTU dirancang sebagai ekosistem kreatif jangka panjang. Ada 3 fokus utama, yakni pengembangan desain, dan identitas kreatif, penguatan fondasi bisnis, dan kesiapan ekspor, diplomasi budaya melalui wastra, dan craftsmanship.

Adapun visi besar yang diusungnya adalah dengan mengembangkan, talenta-talenta muda Prancis, dan Indonesia yang menjanjikan di bidang desain, dan kerajinan mode serta menjadikan brand mereka sebagai merek yang berkelanjutan, dan terintegrasi di pasar internasional.

Rangkaian program PINTU Incubator berperan strategis dalam memperkuat hubungan budaya Indonesia, dan Prancis lewat kolaborasi fesyen show kontemporer 4 desainer, ki-ka: Arron Bryan pemenang Future Fashion Designer & lulusan Ecole Duperre Paris, Maurine Willebein, Aurelien Voegelin, Paul Vidal. Foto: Wanitaindonesia.co

Program PINTU dirancang untuk membantu mencapai tingkat kreativitas, produktivitas, dan visibilitas yang tinggi melalui pelatihan, dan pertukaran bilateral. Program ditransformasikan oleh para professional berpengalaman kedua negara kolaborator.

Program inkubasi telah berkembang menjadi lebih dari sekedar rangkaian kegiatan. Melainkan menjadi semacam ruang yang mempertemukan berbagai pihak, dan membuka peluang lahirnya ide juga kerja sama baru.

Pembahasan mengenai masa depan fesyen juga tidak lepas dari kekayaan budaya, dan keahlian tradisional

Tentu saja keberadaan PINTU Incubator tak terlepas oleh kiprah Summarecon Group yang sukses menyelenggarakan event bergengsi JF3 Fashion Festival.

Yang mana setelah digawangi oleh insan-insan kreatif, JF3 terus berkembang, dan sukses menjadi ekosistem fesyen terintegrasi yang berjalan sepanjang tahun. Platformnya hidup, berkembang dengan beragam terobosan inovatif salah satunya melalui PINTU Incubator.

Sejak kehadiran PINTU lima tahun yang lalu, terbukti nyata sebagai ruang seleksi, dan pendampingan yang telah terbukti menghantarkan brand Indonesia ke Premiere Cllase Paris Trade Show serta ke berbagai platform internasional lainnya.

Lewat kurasi yang ketat, rangkaian mentoring, masteclass, focus week hingga kesempatan showcase di panggung nasional, dan internasional, PINTU membantu desainer muda tumbuh secara berkelanjutan tanpa melepaskan akar budaya Nusantara.

PINTU Residensi sukses menghadirkan ruang pertemuan yang lebih intim antara dua desainer muda Indonesia dengan dua desainer Prancis, terlihat desainer Indonesia, Gabriel Marcella (berkolaborasi dengan desainer Prancis Risa Rayar) mengeksplorasi batik Mojokerto yang terinspirasi dari budaya maritim Prancis dengan komunitas Pesisir Utara Jawa. Foto: Wanitaindonesia.co

Mantra Sakti Industri “Konsistensi & Relevansi

Sosok Theresia Mareta, Co-Initiator PINTU, dan Founder LAKON Indonesia, Soegianto Nagaria, Co-Initiator PINTU Incubator, Chairman JF3 bersama Kedutaan Besar Prancis di Indonesia lewat peran IFI membuktikan kemitraan strategis bilateral Indonesia dengan Prancis di bidang mode, dan industri kreatif.

Thres yang memiliki kecintaan sejati terhadap seni budaya Indonesia khususnya wastra batik merupakan talenta di industri fesyen yang analitis dengan visi pemikiran yang tak terduga.

Ia berpikir bagaimana regenerasi bisa berlangsung secara alami, dan untuk itu harus dipersiapkan sebaik mungkin. Dia melihat desainer muda memiliki kreativitas serta potensi mumpuni. Tentunya sebagai persona yang memiliki kepedulian, dirinya akan mengingatkan bahwa hal tersebut tak seharusnya membuat mereka merasa cukup serta terhenti dalam kebanggaan semu.”

Baca Juga :  Kemendikdasmen Kirim 79 Talenta Muda ke Ajang Internasional

“Dalam ekonomi mode yang berkembang pesat saat ini, kreativitas mungkin menarik perhatian, tapi ada faktor penting lainnya yang menentukan keberlanjutan yakni struktur.”

“Ketika brand Indonesia mendapatkan visibilitas serta bercita-cita gi global, ujian sesungguhnya dimulai setelah mereka mendapatkan eksposur.”

“Di sinilah, PINTU membedakan perannya. Bukan sebagai akselerator jangka pendek melainkan inkubator selektif, dan berbasis standar yang dirancang untuk mempersiapkan merek menghadapi realitas industri mode global.”

“Visibilitas bukanlah jaminan keberlanjutan. Sebuah brand mungkin menjadi tren, mampu mengumpulkan pesanan, dan membangun momentum digital, namun runtuh dalam tekanan operasional.”

“Produksi yang tak konsisten, logika penetapan harga yang tidak jelas, kerangka hukum yang rapuh serta strategi pertumbuhan yang reaktif merupakan faktor tersembunyi yang mampu menggoyahkan brand.”

“Tentu saja PINTU tidak bertujuan untuk mengoreksi kreativitas, melainkan menambatkannya ke dalam kerangka Program PINTU mengintegrasikan pendampingan terstruktur dalam strategi bisnis, literasi keuangan, kerangka hukum, dan ekspor, pemasaran, dan positioning pasar internasional.”

“Kesemuanya merupakan pengetahuan terapan yang disampaikan oleh para praktisi, yang beroperasi dengan standar global.”

Soegianto Nagaria, Co-Initiator PINTU Incubator & Chairman JF3, bungah di perjalanan ke -5 tahun PINTU Incubator, “Sebagai langkah untuk memperkuat keberlanjutan program, PINTU Incubator memulai pembentukan Yayasan PINTU Incubator Indonesia. Foto: Wanitaindonesia.co

Spirit Program untuk Kedigdayaan Fesyen Indonesia

“Program inkubasi berfokus pada penguatan identitas merek, disiplin operasional, dan konsistensi produksi. Gongnya saat merek dikurasi JF3 Fashion Festival. Evaluasi akan dilakukan dari segi estetika, eksekusi, kejelasan posisi hingga kesiapan struktural. Tahap ini untuk memastikan bahwa arahan kreatif didukung oleh fondasi bisnis.”

“Bagi merek yang menunjukkan kesiapan di luar level ini, perjalanan berlanjut ke Program Akselerasi. Yang mana fokus akan bergeser ke daya saing internasional, penyempurnaan sistem ekspor, arsitektur penetapan harga, komunikasi pembeli serta koordinasi lintas.”

“Tujuannya adalah partisipasi dalam platform global seperti Pameran Dagang Paris, di mana keandalan produksi beserta posisi strategis akan menentukan peluang jangka panjang.”

Founder LAKON Indonesia menjelaskan, “perubahan industri fesyen telah terjadi selama lebih dari dua dekade. Perubahan pasar serta teknologi turut memengaruhi cara publik melihat serta mengapreasi produk fesyen.”

“Pasar telah berubah, teknologi kian berkembang serta cara orang menghargai produk. Namun satu hal yang pasti, industri fesyen Indonesia yang kuat, tidak bisa mengandalkan kreativitas semata.”

“Penting dibutuhkan pengetahuan, kesejahteraan, pengertian bisnis, ekosistem yang kuat yang memungkinkan para talenta berkembang.”

“Kesemuanya itu menjadi salah satu spirit dari kehadiran PINTU Incubator yang menggabungkan kekuatan, dan perspektif Indonesia, dan Prancis untuk membuka ruang bagi para desainer untuk belajar serta bertukar ide.”

“PINTU telah membawa kekuatan, dan perspektif yang berbeda dari Indonesia, dan Prancis. Menciptakan ruang bagi desainer untuk saling belajar, bertukar ide, serta melihat kerja mereka pada konteks perbatasan.”

“Kolaborasi lintas negara tersebut juga telah berperan membuka kesempatan bagi desainer, mentor, institusi, para mitra yang tak hanya berbagi pengetahuan, melainkan juga menciptakan karya serta gagasan secara bersama-sama.”

Baca Juga :  Lima Tahun BMoney, Kelola Dana Rp6 Triliun Lewat Inovasi

“Capaian yang membanggakan melihat kian banyaknya kolaborasi, dan proses co-creation yang tumbuh alami dari program PINTU.”

“Bagi saya ini merupakan perkembangan yang sangat menggembirakan, bahwa program PINTU lebih dari sekedar kegiatan. Dari hubungan yang terbangun melalui PINTU, telah lahir banyak ide-ide baru, peluang kerja sama serta menghadirkan kemungkinan baru.”

“Pembahasan mengenai masa depan fesyen juga tidak lepas dari kekayaan budaya, dan keahlian tradisional. Indonesia banyak memiliki warisan kerajinan, dan pengetahuan.”

“Melalui pertukaran pengetahuan serta kolaborasi antara Indonesia, dan Prancis, PINTU Incubator menunjukkan bahwa perubahan dalam industri kreatif dapat dimulai dari sebuah ruang dialog.”

“Dari sini, para kolaborator dapat saling belajar, mengembangkan dan ide sembari menjaga warisan sekaligus menciptakan sesuatu yang relevan dengan masa depan.”

Dari awal program PINTU Incubator diadakan hingga sekarang ketika memasuki tahun ke lima, program PINTU telah banyak menginspirasi kreator muda. Para incubees sangat merasakan dampak nyata berkelanjutan, dari profesi yang hendak mereka tekuni sebagai profesional di industri mode Indonesia, dan global.

Mickael Nana (kiri), desainer Prancis berkolaborasi dengan desainer Indonesia, Beatrice Angelica mengembangkan koleksi Garuda terinspirasi keindahan serta aspek craftsmanship tenun, dan songket Lombok. Program Residensi mengajak peserta untuk melakukan penelitian bersama, mengeksplorasi teknik tekstil tradisional, bekerja langsung dengan komunitas pengrajin serta mengembangkan koleksi melalui pertukaran pengetahuan, dan budaya. Foto: Wanitaindonesia.co

Enigma, salah satu incubees, alumni program PINTU Incubator menjelaskan, “Program dirancang sangat detail menyelaraskan dengan kebutuhan industri mode internasional, dengan memberikan dukungan yang komprehensif, mulai dari bisnis hingga membuka saluran ke pasar global.”

“Hal ini berdampak signifikan pada wawasan, pengetahuan serta perkembangan yang tak ternilai seperti branding, dan pengembangan produk.”

“Kami diarahkan menuju pintu kemudian membukanya, dan untuk selanjutnya bersiap masuk ke industri global. Dengan dukungan sepenuh hati para mentor, pakar industri serta menjalin kolaborasi dengan dengan berbagai institusi global, tentunya kami optimis untuk terus melaju mencapai apa yang dicita-citakan, “ujar Elizabeth Selly, pendiri brand Enigma.

Thres melanjutkan, “Konsistensi, dan relevansi menjadi kunci penting bagi desainer yang ingin sukses di industri mode. Karir serta capaian seorang desainer tidak hanya berfokus agar dapat menghasilkan karya yang baik, tapi di dalamnya ada proses kreatif, ini seyogyanya harus dipahami oleh mereka.”

“Kami percaya bahwa talenta tidak selalu tumbuh karena diberi lebih banyak jawaban. Seringkali justru mereka akan berkembang ketika dipertemukan dengan pengalaman, sudut pandang serta pertanyaan yang tepat.”

“PINTU dirancang sebagai tempat yang menawarkan ruang bagi setiap kreator untuk mengenali kekuatan, mengevaluasi proses yang telah mereka jalani kemudian harus menentukan sendiri arah perkembangan brand mereka.”

Tak kalah antusias dalam memaparkan capaian PINTU, Soegianto Nagaria, Co-Initiator PINTU, dan Chairman JF3, “Setiap tahun PINTU Incubator terus bertumbuh berkembang dengan beragama terobosan inovatif, ini menjadi pembuktian program akan komitmen awal guna mendukung pertumbuhan industri fesyen Indonesia ke tataran global.”

Pria kharismatik ini menegaskan bahwa runway merupakan bagian terkecil dari perjalanan panjang seorang desainer. “Sejak hadir mendukung ekosistem mode Indonesia, JF3 tak hanya menyediakan panggung, melainkan juga menjadi bagian dari proses pertumbuhan para pelaku industri. Kami membangun ekosistem melalui akses terhadap mentor, jejaring, dan kolaborasi.”

Baca Juga :  Era Baru Pengobatan Presisi dan Inovasi Bagi Pasien Kanker Paru di Indonesia

“Sebagai langkah untuk memperkuat keberlanjutan program, PINTU Incubator memulai pembentukan Yayasan PINTU Incubator Indonesia. Lewat kiprah yayasan diharapkan dapat menjadi wadah guna memperluas kolaborasi Indonesia dengan Prancis, sekaligus mendukung serta memperkuat ekosistem mode nasional secara berkelanjutan, “ujarnya.

Program Pintu Residensi telah memperkuat kiprah jenawa lokal Indonesia Lil Public di pertunjukan tahunan Ecole Duperre Paris, terlihat aksesoris monster tiga dimensi di koleksi “Tendo Series” untuk JF3 Fashion Festival 2026. Foto: Wanitaindonesia.co

Carol Meyer, Optimis Kala Profesional Mode Saling Terhubung

Turut berbagi pendapat Carol Meyer, Atase Kebudayaan IFI-Kedubes Prancis untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste, “Perjalanan awal PINTU berangkat dari sebuah gagasan untuk membuka pintu bagi kreator di antara dua negara. Langkah yang dilakukan dengan membantu para profesional Indonesia mengenal serta dapat mengakses pasar Prancis, sekaligus memberikan kesempatan bagi para profesional Prancis untuk menemukan kekayaan, gaya hidup, tradisi serta keahlian pengrajin Indonesia.”

“Memasuki usia yang ke lima tahun, program telah melibatkan lebih dari 160 profesional dari berbagai negara. Koneksi yang terbangun semakin kuat yang telah mempertemukan dua mode ekosistem melalui program inkubasi, akselerasi, residensi pertukaran jaringan serta berbagai kolaborasi.”

“Gagasan awalnya untuk menciptakan jembatan jangka panjang antara kedua ekosistem mode Prancis, dan Indonesia. Namun kemudian jembatan tersebut semakin menguat antara kedua negara beserta komunitas mode.”

“Fondasi dibangun lewat program inkubasi selama tujuh bulan, dengan mempertemukan para talenta muda bersama mentor serta profesional industri antara Prancis dengan Indonesia, melalui sesi pengembangan, pertukaran pengetahuan serta jejaring.”

“Seiring waktu, PINTU semakin berkembang dari inkubasi menuju akselerasi dengan menghadirkan mentoring jangka panjang serta membuka hubungan berkelanjutan dengan jenawa, dan mitra industri.”

“Berbagai delegasi, pertukaran jejaring, pertemuan profesional, seminar, dan kolaborasi dengan institusi dari kedua negara turut memperluas capaian.”

“Lima tahun perjalanan PINTU bukan hanya tentang komunikasi, melainkan juga tentang pertukaran budaya, dan kolaborasi yang telah mempertemukan para profesional untuk saling belajar, berbagi perspektif serta menemukan kemungkinan baru, secara bersama -sama.”

“Tentu saja keberadaan serta peran PINTU berdampak nyata, dengan semakin terbukanya kesempatan bagi para desainer Indonesia untuk hadir di panggung internasional, termasuk menyatukan karya di Paris, bersamaan dengan rangkaian Paris Fashion Week. Di saat yang sama koneksi baru akan terus terbentuk antara desainer, profesional dari kedua negara.”

“Capaian nyata program PINTU salah satunya dengan semakin berkembangnya kolaborasi serta berbagai proyek antara talenta Indonesia dengan internasional lewat program Inkubasi.”

“Saya semakin optimis melihat ke bagaimana para desainer, dan profesional mode mulai saling terhubung melalui berbagai kesempatan yang telah diinisiasi oleh PINTU.”

“Kini PINTU tak lagi sekedar pintu, melainkan sebagai jembatan akses yang semakin dibuka lebar, membawa asa baru bukan hanya bagi mode, tapi bagi pelaku kreatif lainnya.”

“Di saat yang sama, PINTU mulai membangun sebuah platform kolaboratif jangka panjang, yang memungkinkan terjalinnya lebih banyak koneksi tumbuh secara mandiri, khususnya diantara talenta-talenta muda Prancis, dan Indonesia, “pungkas Carol Meyer. (*)