​Asap Karhutla Ancam Kesehatan Anak & Ibu Hamil, Kemenkes Siagakan 848 Nakes dan Ratusan Ribu Masker

Kemenkes bersama pemerintah daerah mengerahkan 848 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, sanitarian, ahli farmasi, hingga epidemiolog. Foto: Dok Kemenkes RI

WANITAINDONESIA.CO – ​Kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali mengancam keselamatan keluarga di sejumlah wilayah Indonesia. Menanggapi situasi siaga ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bergerak cepat memobilisasi 848 tenaga kesehatan dan menyiagakan ribuan fasilitas kesehatan untuk melindungi masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, balita, serta ibu hamil.

​Paparan asap Karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga membawa dampak serius bagi saluran pernapasan. Hingga akhir Agustus 2026, lebih dari 10,6 juta jiwa terdampak di tujuh provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.

​​Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dante Saksono Harbuwono menyampaikan bahwa dampak kesehatan yang dominan adalah gangguan pernapasan. Berdasarkan Situation Report Kemenkes per 27 Agustus 2026, tercatat 4.082 kasus baru ISPA dalam sehari, sehingga total kumulatif mencapai 13.449 kasus di 63 kabupaten/kota.

Baca Juga :  Rahasia Sehat dari Timun Suri: Cegah Anemia hingga Perkuat Imun Tubuh

​Selain ISPA, asap pekat berisiko memicu batuk, sesak napas, asma, iritasi mata, radang tenggorokan, hingga memperberat kondisi penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan penyakit jantung.

​”Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan,” tegas Prof. Dante saat media briefing di Kantor Kemenkes Jakarta, Jumat (28/8/2026).

​Pantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menunjukkan kondisi udara berada pada tingkat sangat tidak sehat hingga berbahaya akibat tingginya partikel halus PM2.5. Pontianak (Kalbar) mencatat ISPU tertinggi sebesar 328 (kategori berbahaya), disusul Kabupaten Tebo Jambi (287), Barito Selatan Kalteng (274), Katingan (258), dan Pali Sumsel (255).

​Menanggapi krisis kualitas udara ini, Kemenkes bersama pemerintah daerah mengerahkan 848 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, sanitarian, ahli farmasi, hingga epidemiolog.

Baca Juga :  Buah Kiwi, Si Kecil Kaya Manfaat: Dari Jantung Sehat hingga Kulit Glowing

Dukungan logistik medis disalurkan secara masif, meliputi:

​Distribusi Kemenkes Pusat: 432.000 masker, 169 unit oxygen concentrator, 40.000 pasang sarung tangan medis, 4.900 APD, dan 3 unit air purifier.

​Dukungan Pemda: 394.385 masker, 56 oxygen concentrator, 103 tabung Oxycan, serta Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dan ibu hamil.

​Kesiapan Faskes: 1.691 Puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, 87 Labkesmas, serta kesiapsiagaan Public Safety Center (PSC) 119.

​Di Provinsi Riau, kabut asap telah meluas ke 12 kabupaten/kota dengan 3.293 kasus ISPA. Kota Pekanbaru mencatat angka tertinggi (sekitar 900 kasus), disusul Pelalawan (600 kasus) dan Kampar.

​Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengaktifkan Emergency Medical Team (EMT) di 244 Puskesmas dan membagikan 69.000 masker.

Baca Juga :  Manfaat Jeruk Nipis untuk Diet: Segar, Sehat, dan Efektif?

​”Kami membagikan bantuan makanan tambahan bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, dan balita. Kami mengimbau masyarakat untuk meminimalkan aktivitas luar rumah dan selalu memakai masker,” jelas Zulkifli.

​Untuk menjaga kesehatan keluarga selama kualitas udara memburuk, Kemenkes menyarankan langkah antisipasi berikut:

​Batasi Aktivitas Luar: Kurangi aktivitas luar ruangan, terutama bagi balita, anak-anak, dan ibu hamil.

​Gunakan Proteksi Diri: Gunakan masker efisiensi tinggi (seperti N95 atau masker medis) dan kacamata pelindung jika terpaksa keluar rumah.

​Jaga Hidrasi: Pastikan keluarga cukup minum air putih untuk membantu mengeluarkan racun dari saluran pernapasan.

​Filter Udara Indoor: Tutup pintu dan jendela serta gunakan air purifier di dalam rumah jika memungkinkan.

​Segera ke Faskes: Jika anggota keluarga mengalami keluhan batuk berat, sesak napas, atau iritasi mata, segera akses layanan medis terdekat. (Des)