Theresia Mareta Advisor JF3 Tentang Urgenitas Pendidikan

Theresia Mareta, Advisor JF3, Penulis buku "Ode to Indonesian Culture" memiliki cita-cita besar untuk industri fesyen Indonesia bersinar di Tanah Air serta ranah global lewat platform JF3. Foto: Wanitaindonesia.co

WANITAINDONESIA.CO – Tak bisa dinafikan ada pemikiran bernas, kemampuan membaca zaman, kreativitas serta inovasi Wanita Indonesia, Theresia Mareta di balik kesuksesan perhelatan platform JF3.

Pendidikan, belajar, serta regenerasi merupakan kata kunci yang kerap diucapkan oleh peraih penghargaan tertinggi atas dedikasi di bidang mode, dan budaya “Knight of the Orde Des Arts et des Letters” dari Kementerian Kebudayaan Prancis.

Sebagai wanita di pusaran industri kreatif, Founder Lakon Indonesia ini kerap galau dengan arah industri. Setelah era generasi senior berlalu, lantas akan dibawa ke mana industri fesyen Indonesia? Siapkah generasi muda melanjutkan legacy yang telah dibangun sebelumnya?

Pengalamannya berpergian ke luar negeri guna memperluas jangkauan kolaborasi, pertukaran ilmu untuk meningkatkan bobot program platform JF3 serta mengikuti sejumlah event penting terkait dengan industri fesyen seperti Premiere Cllase, ia mengkhawatirkan masa depan industri fesyen Indonesia di masa depan.

Di sana ia melihat bagaimana sebuah industri yang menjadi bagian dari pilar utama estetika ini, bisa menjadi diplomasi budaya, penanda peradaban sebuah bangsa, SDM handal yang mampu beradaptasi dengan industri yang perkembangannya sangat dinamis, serta sumber pendapatan bagi negara.

Tentu saja menjadi sebuah negara yang dijadikan masyarakat dunia sebagai “kiblat” fesyen, karena mereka memiliki talenta-talenta mumpuni yang senantiasa bertransformasi terhadap perkembangan zaman.

“Selama di Paris mengikuti Premiere Cllase tahun lalu, saya melihat, mengamati langsung Desainer di sana memilih langsung model yang akan mempresentasikan koleksi mereka.”

“Para Desainer luar memiliki standar untuk model yang spesifik, yang menjadi bagian dari sebuah koleksi. Ini menjadi tantangan manakala model tersebut tak bisa tampil, karena sesuatu alasan.”

“Situasinya seketika menjadi sangat darurat. Pilihan utamanya adalah mencari model lain dengan kriteria yang sama, namun jika tidak, mereka harus mengganti looknya, dikarenakan tak semua model dapat merepresentasikan look yang sudah dipersiapkan.
Nah di Indonesia saya lihat belum seperti itu, kita belum sampai, “papar Thres.

“Oleh karenanya Model Search kami adakan, dikarenakan selain catwalk yang harus dikembangkan dengan mendorong atau menambahkan kemampuan para talen lewat sejumlah program dari platform JF3.
Karenanya presentasi sebuah koleksi membutuhkan model yang bagus, yang dapat membawakan koleksi dengan baik.”

Role model di industri kreatif Indonesia, Theresia Mareta, Founder LAKON Indonesia bertemu buyer di pameran dagang internasional di Paris, Prancis, di tengah kesibukan di dalam serta luar negeri, tetap bersemangat belajar cara eksekusi produk dari desainer Prancis. Foto: Dokumentasi PR JF3

Face Icon Pria Belajar dari Desainer Prancis

“Karenanya selain pagelaran di runway, pelaksanaan Program platform JF3, kami juga fokus menyelenggarakan Model Search. Tujuannya untuk memilih model yang dinilai memiliki potensi, profesionalitas, karakter serta kemampuan untuk merepresentasikan semangat JF3, “ungkapnya.

“Di tahun Ke-22 penyelenggaraan JF3 yang mengusung tema besar “Recrafted: Shaping the Future” kami merubah dominasi feminim untuk Face Icon. Kami bangga bisa menghadirkan sosok pria sebagai Face Ikon JF3 tahun ini, walau sebelumnya kami melihat, dan menilai beberapa kandidat wanita. Namun menyelaraskan dengan tema yang merefleksikan kekuatan, pilihannya jatuh pada model pria.”

“Sosok terpilih merefleksikan model pria Indonesia masa kini, selain cerdas, memiliki wawasan luas, pengalaman, profesionalitas serta karakter wajahnya juga harus mencerminkan tipikal pria Indonesia, “beber Thres.

Baca Juga :  Limpahan Energi Kreatif Thresia Mareta Advisor JF3 Hadirkan 'Pintu' Dua Dekade JF3

Thres panggilan untuk wanita yang merupakan role model di platform JF3, merupakan tipikal Wanita Indonesia masa kini. Dikenal hangat, lekat dengan pribadi yang ramah, suka tersenyum ketika berinteraksi dengan sahabat media, terutama ketika bertukar wawasan, dan pengalaman.

Dia juga mau mendengar setiap masukan, saran bahkan kritik yang membangun. Thres tak meragu dengan kemampuan para desainer Indonesia.

“Kita memiliki desainer-desainer yang kualitasnya sangat baik, ide bernas.
Kekayaan craftsmanship tak kalah memikat, dan dijadikan sumber inspirasi bagi bangsa asing, material berlimpah, pengetahuan serta identitas budaya yang sangat besar, “papar Thres.

“Tapi setelah melihat serta mengamati dalam waktu lama, saya menyadari sebagian besar kreator masih berkutat hanya di aspek potensi, hingga hari ini lho, “sesalnya.

“Selaras tema JF3 2026 “Recrafted: Shaping the Future”, kami selalu berbicara mengenai potensi Indonesia, kualitas desainer kita, namun kesemuanya ini tentu saja tak cukup.”

“Butuh upaya nyata untuk membuat mereka menjadi seorang desainer yang mumpuni, bersinar di pasar lokal serta diakui di industri fesyen global, “tambahnya.

Thres melanjutkan, “Potensi yang baik tersebut harus diolah, diarahkan serta dihubungkan dengan sistem yang tepat, dan kuat. Di JF3 kami ingin memberikan ruang bagi desainer untuk tak sekedar tampil, melainkan sebuah peluang untuk melangkah lebih jauh.”

Thres mengingatkan, kreator sejati tak boleh berpuas diri, kemudian terhenti hanya sebatas potensi. Kreator itu menjadi asa di industri, harus memiliki tanggung jawab kepada diri, bangsa serta negara untuk mengoptimalkan potensinya, dengan mengolah potensi tersebut, menjadi sebuah karya yang bisa diterima di Tanah Air serta dunia internasional.

“Saya selalu mendengar saran serta masukjan dari Chairman JF3, Soegianto Nagaria, bagaimana platform JF3 bisa mendukung industri dengan lebih nyata. Karenanya setiap program setelah diselenggarakan akan dievaluasi di mana letak kekurangannya, kemudian akan kami sempurnakan dengan format yang lebih baik lagi, “ungkap Thres.

“Di perhelatan JF3 Ke -22 ada banyak perbaikan yang akan kita lakukan, nanti hasilnya akan sama-sama kita lihat serta nilai setelah eventnya berjalan.”

Lewat terobosan inovatif Theresia Mareta, dan Soegianto Nagaria, JF3 bertransformasi menjadi platform terdepan ekosistem mode Indonesia, kerja nyata kerja cerdas beri panggung untuk Desainer muda mulai berbuah manis di Indonesia, dan tataran global. Foto: Wanitaindonesia.co

Ilmu, Pendidikan Suluh Kreator

“Seperti yang kita ketahui, standar di industri menurut hemat saya sama saja, di belahan dunia manapun. Pertanyaannya, apakah desainer Indonesia sudah mampu memenuhi standar tersebut? Jika belum, artinya kan kita masih berada di bawah standar internasional, “ucap Thres.

“Hal ini penting untuk kita analisa bersama, kemudian berlanjut melakukan karya nyata secara bersama-sama. Asanya agar fesyen Indonesia dapat berkembang, diperhitungkan di tingkat global.”

Karenanya kehadiran platform JF3 bertujuan agar ekosistem fesyen Indonesia berkembang dengan baik, memiliki standar yang sama. “Salah satu upaya yang kami lakukan dengan menghadirkan kolaborasi internasional dengan mengundang sejumlah talen internasional, “ungkap Thres.

Selain memberi ruang bagi desainer luar, utamanya desainer Indonesia bisa belajar langsung mengenai cara kerja mereka. “Saya sendiri hingga saat ini masih terus belajar dengan desainer luar, yang terhubung dengan Platform JF3, khususnya ihwal standar eksekusi, “cetus Penulis buku “Ode to Indonesian Culture”.

Baca Juga :  Theresia Mareta: Ubah Sisa Produksi Jadi Karya Seni, Kunci Fashion Masa Depan

“Ada banyak sekali lho tahapan yang harus dilakukan. Sangat detil, dan panjang. Eksekusi tak identik dengan sekedar membuat sebuah koleksi, namun setelahnya masih ada banyak pekerjaan seperti tentang produksi, cara menghitung kuantiti produksi, kredit purchase order (yakni fasilitas pendanaan oleh Bank kepada pelaku usaha), atau siapa yang harus
stok barang kita, serta masih banyak lagi yang lainnya.”

“Nah tahapan eksekusi tersebut saya lihat di industri internasional, namun untuk kita belum terlaksana. Solusinya para desainer kita harus banyak belajar, dan mau mempraktikannya. Tapi saya percaya, kreator kita memahami itu, namun disayangkan mereka masih belum mau melaksanakan, mungkin saja karena terkendala.”

Senada dengan Chairman Jf3, Soegianto Nagaria, Thres menegaskan JF3 bukan sekedar ruang presentasi koleksi, DNA nya jauh lebih tinggi yakni sebagai platform, yang menghubungkan desainer dengan pengetahuan, pasar, jejaring serta peluang pengembangan yang lebih luas.

“Industri fesyen hari ini menuntut insan fesyen Tanah Air lebih dari sekedar kemampuan menciptakan karya menarik. Desainer, dan brand perlu memiliki identitas yang kuat, kualitas eksekusi yang konsisten, pemahaman pasar yang matang serta kemampuan untuk membangun bisnis berkelanjutan, “jelas Thres.

Selain pagelaran fesyen show spektakuler, platform JF3 memiliki beragam program seperti Model Search, Future Fashion Award.

PINTU yang telah memasuki tahun ke lima, terus memperkuat perannya sebagai ruang pengembangan, dan pertukaran antara desainer Indonesia dengan Prancis. Lewat program inkubasi serta kolaborasi kreatif, yang akan di presentasikan di JF3 2026.

Terbaru program Future Fashion Designer yang berkolaborasi dengan Susan Budihardjo, Fashion Forward Institute.

Asa pada desainer muda, tak hanya berkutat pada potensi namun memiliki paket lengkap desainer muda global. Foto: Wanitaindonesia.co

Jangan Terlewat Agenda Spesial!

Puncak penyelenggaraan JF3 Fashion Festival Ke-22 sesuai rencana akan dilaksanakan di Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading 23-29 Juli 3026.

Sebagai representasi dari perkembangan industri fesyen Indonesia dalam percakapan regional, dan global, JF3 Fashion Festival akan menghadirkan lebih dari 50 Desainer, dan brand Indonesia, Asia Tenggara, Asia Timur hingga Eropa.

Di ekosistem industri fesyen lokal akan hadir Desainer Titie Sapoetra, Hartono Gan, AMOTSYAMSURIMUDA, Adrie Basuki, Sofie, HOWARD LAURENT, Raegitazoro, dan LAKON Indonesia yang akan menampilkan sejumlah karya terbaik mereka khusus untuk JF3.

JF3 juga menjadi ruang bagi hadirnya talenta, dan perspektif baru dalam industri fesyen Indonesia lewat Desainer Billy Tjong, YASA, The Theme,dan Super Sentimental Secret Theory.

Kolaborasi bersama Indonesia Fashion Chamber (IFC) menghadirkan parade show yang akan menampilkan Rengganis, OPIE OVIE, dan XANDER.G.

Tak kalah menarik kolaborasi bersama Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) menghadirkan ZAHIRA by Koyko, AGA THANDY serta Haze Be Wear by Harry Hasibuan.

Pagelaran kian memesona dengan karya desainer internasional yang menjadi bukti bagaimana JF3 telah menjadi ruang pertukaran kreatif lintas negara.

Skala Asia Tenggara akan tampil ASEAN Fashion Designers (AFDS) yang akan menghadirkan beberapa brand diantaranya Erjohn dela Serna, House of Designs, dari Filipina, KINNALY dari Laos, dan Indra Murak dari Singapura. Kerja sama regional ini akan memperluas dialog JF3 di Asia Tenggara, sekaligus membuka ruang pertukaran desainer regional, dan ekosistem fesyen Indonesia.

Baca Juga :  Kolaborasi Bakti Bagi Negeri, JF3 Hadirkan CODE. STRT by DRP "AYO Beli Karya Streetwear Terbaik Anak Negeri!

Sebagian dari penguatan kolaborasi JF3, akan hadir Busan Fashion Week. Sejumlah nama besar nama besar di industri fesyen Korea Selatan yang mendunia. Temui karya-karya apik darieStudio di Perla, OHGYO, dan CONSTELLER D.L. Ini menjadi bukti upaya JF3 untuk memperluas jejaring regional, dan menghadirkan perspektif baru dalam perkembangan fesyen Asia.

Dari Prancis akan hadir 30%70 brand dari Fengyuan DAI yang pernah berkolaborasi dengan desainer ternama Jean-Paul Gaultier, Le 19M, Sandrine Phillippe & Stephane Ashpool, yang mana di tahun 2023 dia terpilih sebagai finalis di Festival Internasional Mode, Fotografi, dan Aksesori, Hyeres.

Tak kalah memukau nantinya ekosistem fesyen Indonesia dapat menyaksikan kembali kreativitas dari ROHAN MIRZA STUDIO. Label yang mengeksplorasi teknologi, material, fan teknik fabrikasi eksperimental seperti cetak 3D, dan silikon.

Pendekatan ini turut memperkaya percakapan JF3 mengenai masa depan fesyen, khususnya dalam hubungan antara craft, teknologi serta ekspresi desain kontemporer.

Last but not least akan hadir TAREET, brand milik Etienne yang karyanya pernah dikenakan oleh Playboi Carti, dan ENHYPEN yang juga dipercaya untuk merancang jersey Olympique de Marseille bersama Puma Untuk JF3 2026, TAREET berkolaborasi dengan DENIMITUP. Demikian halnya dengan peserta Program PINTU, merupakan kolaborasi penanda bagaimana JF3 membuka ruang pertemuan antara desainer internasional, dan brand Indonesia lewat proses kreatif yang nyata.

Louise Marcaud yang tahun lalu tampil gemilang, dia hadir kembali lewat koleksi terbarunya, yang terinspirasi oleh tenun lurik. Rancangannya ini hasil eksplorasi serta pendalaman kreatifnya, setelah berpartisipasi di JF3, dan PINTU Cultural Visit tahun lalu.

Ini contoh nyata bagaimana JF3 mengakomodir ruang pertukaran budaya, yang tidak berhenti pada pengalaman melainkan berkembang menjadi proses kreatif, dan karya nyata.

Kolaborasi bersama negara Prancis semakin diperkuat lewat keterlibatan Ecole Duperre Paris yang akan melakukan presentasi kolaboratif bersama para incubees PINTU serta finalis Future Fashion Designer 2026.

Kehadiran para desainer, dan brand dari berbagai negara tak hanya memperkaya panggung megah JF3, tetapi juga membuka ruang pertukaran perspektif, jejaring profesional serta peluang kolaborasi yang lebih luas bagi industri fesyen Indonesia.

Untuk menggairahkan minat serta kecintaan masyarakat terhadap karya kreatif anak negeri, dan produk pilihan dari brand luar sambangilah Fashion Village & CODE.STRT/CODE.

Program merupakan penguatan akses antara brand dengan konsumen. Fashion Village merupakan eksibisi produk fesyen terkurasi yang berlangsung di Summarecon Mall Kelapa Gading (22 Juli – 2 Agustus) yang akan menghadirkan lebih dari 50 brand, dari berbagai kategori termasuk ethnic apparel, modern apparel serta perhiasan.

Sedangkan CODE STRT yang merupakan festival wear, dan budaya urban yang memasuki edisi ke -3 akan diselenggarakan di Summarecon Mall Serpong (30 Juli-9 Agustus).

Program menjadi upaya berkelanjutan platform JF3 untuk menjangkau spektrum fesyen yang lebih luas, sekaligus membuka ruang bagi perkembangan budaya urban, dan komunitas kreatif muda.

Info Platform JF3 & Program: www.jf3.co.id
IG: @jf3_info. (*)