Strategi Baru Bukalapak Lepas Produk Fisik Demi Laba Berkelanjutan

Seseorang sedang membuka aplikasi Lapakgaming melalui laptop (Gdi)

WANITAINDONESIA.CO – Di tengah riuhnya panggung kompetisi industri digital yang kian sengit, keputusan berani PT Bukalapak.com Tbk untuk menghentikan total penjualan produk fisik justru menjadi titik balik yang mengantarkan raksasa teknologi ini meraup pendapatan fantastis hingga triliunan rupiah.

Perubahan besar ini dimulai ketika perusahaan berkode saham BUKA tersebut memilih melangkah keluar dari zona nyaman bisnis ritel konvensional di aplikasi dan situs web mereka. Langkah kalibrasi ulang ini diambil demi memperkuat fundamental inti dan memprioritaskan jalur keuntungan yang jauh lebih terukur dan berkelanjutan untuk jangka panjang. Alih-alih mempertahankan model lama, arah kemudi bisnis kini difokuskan penuh pada akselerasi empat pilar utama, yaitu kemitraan, permainan digital (gaming), instrumen investasi, serta lini ritel gaya hidup.

Langkah merombak haluan bisnis ini bukanlah sebuah keputusan gegabah, melainkan strategi matang untuk merespons dinamika pasar yang terus bergerak cepat. Sekretaris Perusahaan PT Bukalapak.com Tbk, Cut Fika Lutfi, menegaskan bahwa transformasi ini merupakan komitmen manajemen untuk memastikan setiap lini bisnis tetap relevan dan mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata.

Baca Juga :  Mantan CEO Bukalapak Resmi Bergabung Menjadi Kemenko Marves

“Transformasi ini mencerminkan upaya manajemen untuk memastikan bahwa setiap segmen bisnis tetap relevan dengan dinamika pasar yang terus berkembang, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih kuat,” ujar Cut Fika Lutfi dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu.

Buah dari keberanian melepaskan model bisnis lama tersebut langsung terbayar tunai pada lembar laporan keuangan perusahaan. Sepanjang tahun 2025, Bukalapak sukses membukukan pendapatan sebesar Rp6,5 triliun, sebuah lonjakan performa yang mengesankan sekitar 46 persen secara tahunan (year-on-year) dibandingkan tahun sebelumnya yang tertahan di angka Rp4,5 triliun.

Momentum pertumbuhan ini bahkan melesat semakin kencang saat memasuki awal tahun 2026. Pada kuartal pertama tahun 2026, pendapatan mereka melejit hingga 63 persen menjadi Rp2,4 triliun dari kuartal pertama tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,5 triliun. Yang paling monumental, perusahaan akhirnya berhasil mencatatkan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi yang disesuaikan (adjusted EBITDA) positif sebesar Rp4 miliar, membalikkan keadaan dari posisi minus Rp20 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga :  Menghadapi Beban Alzheimer, Kemenkes Siapkan Strategi Multi Dimensi

Keberhasilan membalikkan keadaan ini tidak lepas dari sinergi kokoh keempat lini bisnis baru mereka yang digarap dengan pendekatan lebih modern. Melalui jaringan luring ke daring (online-to-offline) Mitra Bukalapak, perusahaan fokus memberdayakan warung tradisional lewat solusi niaga ke niaga ke konsumen (business-to-business-to-consumer) yang menyediakan aneka produk virtual seperti pulsa hingga token listrik. Sementara itu, lini permainan digital yang dikelola entitas induk (holding) Multi Realm Games menjelma sebagai penyumbang pendapatan terbesar berkat ekosistem transaksi instan dan pasar jaminan pihak ketiga (escrow system) yang aman lewat Lapakgaming dan itemku.

Baca Juga :  Begini Strategi Kemenkes Wujudkan 'Zero' Kematian Akibat DBD di 2030

Di sisi lain, inklusi keuangan digenjot melalui platform investasi BMoney yang telah berizin OJK dengan mencatatkan pengelolaan dana nasabah (asset under management) mencapai Rp6 triliun bagi satu juta penggunanya. Menutup ekosistem tersebut, lini ritel modern dikembangkan lewat kerja sama dengan berbagai merek fesyen internasional dan pengembangan jenama internal (in-house brands) yang mengedepankan kreativitas serta keberlanjutan lingkungan.

Transformasi radikal Bukalapak menjadi bukti nyata bahwa dalam dunia bisnis digital yang dinamis, mempertahankan skala besar tidak lagi cukup jika tanpa arah laba yang jelas. Keberanian untuk merelakan satu lini demi memperkuat pilar-pilar masa depan terbukti mampu membangun fondasi perusahaan yang jauh lebih tangguh, kompetitif, dan adaptif menghadapi masa depan. (Gdi)