Menghadapi Beban Alzheimer, Kemenkes Siapkan Strategi Multi Dimensi

Konsumsi makanan bergizi berupa ikan dan sayur dapat mencegah Alzheimer. gdi

WANITAINDONESIA.CO – Menua dengan sehat dan tetap produktif merupakan impian setiap individu. Namun, di balik proses penuaan populasi, bayang-bayang gangguan kesehatan otak kini menjadi tantangan nyata yang kian membesar di Indonesia. Penyakit Alzheimer, sebagai bentuk paling dominan dari penurunan fungsi kognitif, tidak lagi sekadar urusan medis personal, melainkan sebuah beban multidimensi yang menyentuh aspek sosial, ekonomi, hingga kebijakan publik.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan bahwa lonjakan kasus ini memerlukan penanganan yang terintegrasi dan menyeluruh demi menjaga kualitas hidup para lanjut usia (lansia).

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, memaparkan data yang cukup mencengangkan mengenai kondisi gangguan saraf (neurologis) secara global maupun nasional. Berdasarkan perkiraan, saat ini terdapat jutaan masyarakat yang hidup dengan kondisi penurunan fungsi mental (demensia) di seluruh dunia, di mana sebagian besar di antaranya disebabkan oleh Alzheimer.

Baca Juga :  Pertama di Indonesia, PrimaFit Hadirkan Portable Infra-Red Sauna Cegah Diabetes, Obesitas, Alzheimer dan Dimensia

“Di Indonesia, penuaan populasi memperbesar jumlah lansia rentan. Pada 2025 jumlah lansia usia 60 tahun ke atas diperkirakan mencapai 34 juta (11,9 persen dari total populasi). Estimasi menunjukkan lebih dari 2 juta kasus demensia pada 2025, dengan Alzheimer menjadi bentuk dominan dan menyumbang lebih dari 60 persen dari total kasus demensia nasional,” ujar Imran Pambudi di Jakarta.

Dampak dari penyakit ini pun tidak main-main karena turut menguras stabilitas finansial. Secara global, beban ekonomi akibat kondisi ini ditaksir mencapai angka yang sangat fantastis setiap tahunnya, mencakup biaya pengobatan langsung, hilangnya produktivitas, hingga beban berat bagi para perawat pendamping (caregiver).

Kondisi tersebut diperparah oleh penyebaran tenaga kesehatan spesialis yang masih berpusat di kota-kota besar. Akibatnya, masyarakat di daerah terpencil kerap terlambat mendapatkan diagnosis dini serta penanganan medis yang optimal.

Baca Juga :  Persiapan Haji 2026: Jangan Sampai Penyakit 'Kambuh' di Tanah Suci, Ini Tips Kemenkes!

Menurut penjelasan Imran Pambudi, kemunduran fungsi otak pada lansia umumnya dipicu oleh kombinasi faktor biologis, penyakit kronis, dan faktor lingkungan sosial. Masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), kencing manis (diabetes), kegemukan (obesitas), serta riwayat sumbatan pembuluh darah otak (stroke) menjadi pemicu utama kerusakan organ otak. Selain itu, tingkat pendidikan yang rendah, kemiskinan, serta isolasi sosial juga terbukti mempercepat penurunan daya ingat ini.

Meski demikian, terdapat langkah perlindungan (protektif) yang dapat diupayakan sejak dini untuk memperlambat proses penurunan fungsi tersebut. Pendekatan komprehensif untuk mewujudkan penuaan yang sehat (healthy aging) wajib menggabungkan pilar edukasi (promotif), pencegahan (preventif), dan pemulihan (restoratif). Hal ini bisa dimulai dari penerapan pola hidup aktif, konsumsi makanan bergizi, hingga senam otak yang teratur.

Baca Juga :  Kemenkes Mulai Terapkan Label Nutri-Grade di Kedai Kopi, Dorong Konsumen Lebih Sadar Gula

“Program exercise medicine yang menekankan latihan kekuatan, keseimbangan, dan aerobik membantu mencegah frailty (kerapuhan) dan mempertahankan mobilitas,” kata Imran Pambudi menambahkan mengenai pentingnya latihan fisik yang terukur.

Pemerintah melalui Kemenkes berkomitmen untuk memperkuat layanan kesehatan di tingkat dasar (primer), mulai dari penajaman sistem penyaringan (skrining) demensia, pemanfaatan teknologi digital, hingga pemerataan tenaga rehabilitasi medis seperti fisioterapi dan terapi wicara. Di samping itu, dukungan penuh berupa pendanaan riset serta edukasi di tingkat komunitas terus digenjot guna menghapus cap buruk (stigma) sosial dan memperkuat jaringan kepedulian di masyarakat.

Kesehatan otak di masa tua adalah investasi berharga yang harus kita bangun bersama-sama sejak detik ini. Mari mulai terapkan pola hidup sehat dan lebih peduli pada lingkungan sekitar demi menghadirkan masa senja yang bahagia dan bebas dari pikun! (Gdi)