Sinyal Bahaya Bumi: Menghitung Mundur Detik-Detik Kenaikan Suhu Global Lewati Batas Kritis

Dampak dari kemarau terjadi kebakaran hutan. Kemenhut

WANITAINDONESIA.CO – Dunia kini tengah berdiri di tepi jurang krisis iklim yang semakin nyata. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa bidang Program Lingkungan (UNEP) baru saja mengeluarkan peringatan keras bahwa suhu global diproyeksikan bakal menembus ambang batas 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri dalam beberapa tahun mendatang. Ambruknya pertahanan iklim ini mengancam akan memicu rentetan bencana alam dahsyat serta melipatgandakan risiko kesehatan bagi jutaan manusia di berbagai belahan bumi.

Kondisi darurat ini kian terasa ironis mengingat November 2026 mendatang genap menandai 10 tahun perjalanan Perjanjian Paris. Kesepakatan bersejarah yang diusung oleh sekitar 190 negara dan wilayah tersebut awalnya digadang-gadang menjadi benteng utama dunia untuk menahan laju pemanasan global. Namun, alih-alih mereda, realitas di lapangan justru menunjukkan bahwa bumi sedang mengarah pada skenario yang jauh lebih memprihatinkan.

Gelombang panas yang menyengat, kebakaran hutan yang berkobar, dan banjir mematikan pada musim panas ini merupakan peringatan tentang apa yang akan terjadi. Manusia harus membuat pelampauan suhu 1,5 derajat Celsius sekecil dan sesingkat mungkin. Pernyataan tegas tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, saat menyerukan agar dunia memiliki keberanian besar untuk melampaui batas ambisi yang ada saat ini.

Laporan UNEP memproyeksikan bahwa jika seluruh negara hanya mengandalkan kebijakan yang berjalan saat ini, pemanasan global akan melonjak hingga sekitar 2,6 derajat Celsius pada tahun 2100. Bahkan skenario paling optimistis—ketika seluruh negara berhasil memenuhi target pemangkasan emisi dan mencapai kondisi emisi nol bersih melalui penyerapan karbon oleh hutan—tetap menunjukkan potensi kenaikan suhu sekitar 1,8 derajat Celsius.

Kenaikan suhu yang tak terkendali ini membawa dampak berantai yang sangat merusak. Cuaca ekstrem akan semakin sering terjadi, ekosistem penting bertumbangan, dan negara-negara kepulauan kecil berada di bawah ancaman nyata untuk tenggelam. Dampak buruk ini merambat cepat menekan ketahanan pangan, memperkering pasokan air bersih, merusak infrastruktur Vital, hingga mengancam keselamatan jiwa manusia.

Skenario terburuk memprediksi jika suhu bumi sampai melonjak 3 derajat Celsius pada abad ini, gletser di seluruh dunia akan kehilangan lebih dari seperempat massanya pada tahun 2100. Kondisi mellehnya es abadi ini diperkirakan mendongkrak kenaikan permukaan air laut hingga 9 sampai 13 sentimeter, sebuah ancaman nyata bagi kawasan pesisir di seluruh dunia.

Profesor Richard Betts dari Universitas Exeter, salah satu pakar yang turut menyusun laporan tersebut, menggarisbawahi bahwa peningkatan suhu membuat petaka lingkungan makin sering terjadi. Beliau menegaskan bahwa lonjakan suhu global merupakan alasan utama mengapa bencana seperti banjir bandang di Nepal dan China pada Agustus lalu menjadi jauh lebih mungkin berulang. Namun, beliau menekankan bahwa manusia masih memiliki kesempatan untuk mencegah kondisi menjadi jauh lebih buruk dengan cara memangkas emisi dan membatasi tingkat pemanasan secara agresif.

Satu-satunya jalan untuk menurunkan kembali suhu bumi setelah melewati ambang 1,5 derajat Celsius adalah dengan memastikan jumlah karbon dioksida yang diserap atau dihilangkan jauh lebih besar daripada emisi yang dilepaskan ke udara. Meski demikian, laporan UNEP menegaskan bahwa teknologi penyerapan karbon hanyalah langkah tambahan, bukan alasan untuk mengendurkan upaya utama dalam memotong sumber emisi secara langsung.

Waktu untuk berspekulasi telah habis dan bumi tidak lagi mampu menampung penundaan. Keberhasilan menjaga kelangsungan hidup di planet ini sangat bergantung pada keberanian setiap negara untuk mengambil tindakan nyata saat ini juga, sebelum batas aman yang tersisa benar-benar tertutup rapat. (Gdi)