
WANITAINDONESIA.CO — Menempati rumah baru selalu membawa gelora kebahagiaan, mulai dari menata interior hingga merencanakan dapur impian, namun di balik itu semua ada anggaran tersembunyi yang kerap luput dari perhitungan.
Banyak pemilik rumah mengira bahwa pengeluaran bulanan sudah selesai setelah melunasi cicilan KPR atau KPA. Padahal, urusan merawat hunian baru justru baru saja dimulai dengan deretan biaya perbaikan yang datang tanpa diundang. Berdasarkan laporan terbaru dari platform layanan perbaikan rumah Angi, yang melibatkan seribu pemilik rumah, masalah atau kecelakaan kecil di rumah hampir pasti terjadi dan menelan biaya perbaikan yang tidak sedikit.
Angka yang harus disiapkan pun cukup fantastis. Sebanyak 78 persen pemilik rumah melaporkan setidaknya mengalami satu proyek kesalahan, baik berupa proyek mandiri yang gagal (Do It Yourself atau DIY), masalah tersembunyi dari pemilik lama, maupun kerusakan mendadak. Rata-rata pemilik rumah menghabiskan dana hingga Rp50.000.000 selama tiga tahun untuk membereskan masalah tersebut, di mana lebih dari separuhnya terpaksa memanggil tenaga ahli profesional untuk turun tangan.
Pentingnya melakukan pemeriksaan menyeluruh atau inspeksi rumah sebelum transaksi jual beli terbukti sangat menentukan. Sebanyak 28 persen pemilik rumah harus berurusan dengan warisan masalah dari pemilik sebelumnya yang membahayakan keselamatan. Masalah pipa ledeng menempati urutan teratas dengan persentase 52 persen, disusul gangguan kelistrikan sebesar 38 persen, serta kerusakan akibat air atau jamur mencapai 33 persen.
Tidak hanya itu, faktor alam dan lingkungan juga turut menyumbang pengeluaran ekstra. Sebanyak sepertiga pemilik rumah mengeluhkan perbaikan darurat akibat cuaca ekstrem, sementara gangguan dari hewan liar menyumbang 20 persen masalah lainnya. Ironisnya, banyak orang mencoba berhemat dengan menunda perbaikan, padahal keputusan tersebut justru menjadi bumerang. Penundaan penanganan masalah, terutama pada bagian atap dan pipa ledeng, justru berimbas pada pembengkakan biaya tambahan rata-rata sebesar Rp26 juta karena kerusakan yang telanjur meluas.
Menanggapi fenomena ini, Direktur Riset Konsumen Angi, Sarah Jenkins, menjelaskan bahwa kunci utama menghadapi rumah baru adalah kesiapan mental dan finansial.
“Pemilik rumah sering kali terjebak dalam euforia estetika hunian tanpa mencadangkan dana mitigasi risiko, padahal rumah adalah organisme hidup yang memerlukan perawatan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kedisiplinan dalam melakukan pemeriksaan berkala jauh lebih menghemat anggaran ketimbang harus memadamkan krisis ketika kerusakan sudah parah.
Agar anggaran keuangan keluarga tetap aman dari terjangan biaya darurat, ada beberapa langkah antisipasi yang bisa diterapkan. Pertama, jangan pernah melewatkan tahap pemeriksaan rumah oleh tenaga profesional sebelum memutuskan pembelian agar potensi kerusakan bisa dipetakan sejak dini. Kedua, ukur kemampuan diri secara jujur saat hendak melakukan proyek perbaikan mandiri di rumah agar tidak berujung pada kegagalan konstruksi yang mahal. Ketiga, jadwalkan peninjauan rutin setiap bulan untuk mendeteksi dini tanda-tanda kerusakan kecil seperti retakan dinding atau rembesan air. Terakhir, pastikan pos dana darurat khusus hunian selalu terisi demi mengantisipasi segala kejutan yang mungkin terjadi di masa mendatang.
Jangan biarkan impian memiliki hunian yang nyaman berubah menjadi beban finansial yang melelahkan hanya karena lalai memperhitungkan biaya perawatan sejak hari pertama Anda melangkah masuk ke rumah baru. (Gdi)




