
WANITAINDONESIA.CO ā Di tengah gemuruh mesin dan sibuknya arus bongkar muat petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok, terselip sebuah cerita tentang kepedulian sosial yang hangat. PT Jakarta International Container Terminal (JICT), yang dikenal sebagai salah satu urat nadi logistik terbesar di Indonesia, memilih momen Idul Adha 1447 Hijriah untuk mempererat tali silaturahmi dengan melimpahkan kebahagiaan kepada warga di sekelilingnya melalui penyaluran 44 hewan kurban.
Bagi perusahaan pengelola terminal petikemas ini, langkah tersebut bukan sekadar menjalankan ritual tahunan yang menggugurkan kewajiban. JICT menempatkan tradisi berkurban sebagai jembatan kemanusiaan yang strategis untuk menjaga keharmonisan antara raksasa industri nasional dan masyarakat yang hidup berdampingan di wilayah lingkar utama pelabuhan.
Pendekatan humanis ini dirasakan langsung oleh masyarakat yang berada di zona terdekat perusahaan, komunitas sosial dan pendidikan binaan, kelompok pekerja, hingga berbagai lembaga yang menjadi bagian penting dari ekosistem pelabuhan. Seluruh proses pembagian hewan kurban pun dikelola secara apik dan tertib melalui koordinasi serta penyelesaian administrasi yang matang, agar bantuan tepat sasaran dan selaras dengan kebijakan induk kelompok usaha, Pelindo Group.
Direktur Utama PT Jakarta International Container Terminal, Ade Hartono, menegaskan bahwa keberlanjutan sebuah kawasan pelabuhan modern sangat bergantung pada fondasi sosial yang kokoh. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi dan aktivitas perdagangan internasional harus berjalan beriringan secara seimbang dengan kesejahteraan lingkungan sekitar.
“Pelabuhan dan masyarakat tumbuh dalam ruang yang sama. Karena itu, keberlangsungan kawasan logistik tidak hanya ditentukan oleh kelancaran operasional, tetapi juga oleh kualitas hubungan yang terbangun dengan masyarakat dan pemangku kepentingan (stakeholder) di sekitarnya,” tutur Ade Hartono saat ditemui di Jakarta, Rabu.
Lebih lanjut, Ade Hartono memaknai esensi berkurban sebagai momentum refleksi bagi dunia usaha untuk lebih peka terhadap kondisi sosial di wilayah operasionalnya. Nilai-nilai pengorbanan dan kepedulian yang diusung dalam hari raya keagamaan ini diterjemahkan ke dalam aksi nyata yang saling menguatkan.
“Idul Adha mengingatkan kita tentang nilai berbagi dan solidaritas. Dalam konteks kawasan pelabuhan, nilai itu diterjemahkan melalui hubungan yang saling menguatkan antara pelabuhan, masyarakat, dan seluruh unsur pendukung operasional,” tambahnya.
Sebagai pintu gerbang utama perdagangan internasional Indonesia, JICT menyadari penuh bahwa kelancaran arus barang dan keterhubungan (konektivitas) logistik tidak akan optimal tanpa adanya dukungan sosial yang kuat dan lingkungan yang stabil. Melalui puluhan hewan kurban yang dialirkan tahun ini, JICT tidak hanya sedang membagikan daging kurban, melainkan sedang menanam benih kedamaian dan kebersamaan yang berkelanjutan.
“Momentum Idul Adha tahun ini menjadi salah satu ruang bagi JICT untuk menjaga harmonisasi antara aktivitas pelabuhan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya,” ujar Ade Hartono berpesan. (gdi)




