
WANITAINDONESIA.CO – Ada lagu-lagu yang tak sekadar didengar, tetapi tumbuh bersama kenangan. “Seandainya” milik Vierratale adalah salah satunya. Kini, lagu yang sempat menjadi soundtrack patah hati generasi 2000-an itu hadir kembali dalam balutan baru—lebih megah, lebih emosional—melalui sentuhan Difki Khalif dan Prinsa Mandagie.
Kolaborasi manis ini lahir dari inisiatif lintas label antara Musica Studio’s dan Sony Music Entertainment Indonesia, membuka ruang kreatif bagi dua penyanyi muda dengan karakter vokal yang berbeda. Hasilnya? Sebuah interpretasi baru yang tetap setia pada jiwa aslinya, namun terasa lebih dewasa dan sinematik.
Bagi Prinsa, “Seandainya” bukan sekadar lagu. Karya ciptaan Kevin Aprilio itu adalah bagian dari perjalanan remajanya. “Banyak orang tumbuh bersama lagu ini, termasuk aku,” ungkapnya. Tak heran jika proyek ini terasa begitu personal dan penuh perasaan.
Namun membawakan ulang lagu ikonis tentu bukan perkara mudah. Tantangannya adalah menghadirkan identitas baru tanpa menghilangkan esensi yang sudah melekat di hati pendengar. Prinsa menyadari, versi terbaru ini harus tetap akrab, namun memiliki warna khas dirinya dan Difki.
Difki, dengan latar belakang anak band, membawa energi pop-rok yang kuat. Sementara Prinsa hadir dengan sentuhan vokal yang lembut dan emosional. Perbedaan ini justru menjadi kekuatan. Lewat workshop intensif, keduanya meramu pembagian suara agar harmonisasi terasa menyatu tanpa saling mendominasi.
Sentuhan orkestra menjadi elemen kunci yang membuat “Seandainya” terdengar seperti terlahir kembali. Aransemen yang lebih megah memberi ruang pada emosi untuk mengalun lebih dalam—dramatis, namun tetap elegan. Lagu ini terasa seperti gaun klasik yang dirancang ulang: siluetnya sama, tetapi detailnya lebih modern dan memesona.
Di balik harmonisasi indah tersebut, ada peran penting Barsena Bestandhi sebagai pengarah vokal. Ia menjadi “penjahit” yang menyatukan dua karakter suara kontras menjadi satu kesatuan yang padu dan berkelas.
“Ini bisa jadi versi yang berbeda, tapi tetap familiar,” ujar Prinsa. Dan memang, versi terbaru “Seandainya” bukan sekadar nostalgia—ia adalah perayaan rasa, tentang bagaimana kenangan bisa tumbuh dan berevolusi bersama waktu.
Sejak 18 Februari 2026, kolaborasi ini sudah dapat dinikmati di seluruh platform musik digital. Sebuah suguhan yang bukan hanya memanjakan telinga, tetapi juga mengajak hati kembali mengenang—dengan cara yang lebih indah. (imb)




