
WANITAINDONESIA.CO – Tumpukan barang impor yang terbengkalai lama kini tidak lagi menjadi beban di sudut Pelabuhan Tanjung Priok. PT Jakarta International Container Terminal (JICT) mengambil langkah tegas dengan membersihkan tumpukan kontainer yang telah menginap terlalu lama (longstay). Langkah strategis ini dilakukan melalui sinergi ketat bersama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai guna mengembalikan fungsi optimal ruang penumpukan sekaligus mempercepat transformasi logistik nasional yang selama ini kerap terhambat oleh kepadatan pelabuhan.
Pembersihan ini bukan sekadar urusan membuang barang usang, melainkan sebuah momentum krusial untuk mendongkrak daya saing perdagangan Indonesia. Di tengah tuntutan global yang serbacepat, keberadaan kontainer yang tertahan berbulan-bulan jelas menjadi sumbatan dalam urat nadi perekonomian. Oleh karena itu, pengosongan lahan penumpukan ini menjadi prioritas utama demi menciptakan ekosistem pelabuhan yang lebih sehat dan efisien.
Direktur Utama JICT, Ade Hartono, menegaskan bahwa ukuran keberhasilan sebuah pelabuhan modern kini telah bergeser. Menurutnya, indikator utama tidak lagi hanya bertumpu pada kecepatan bongkar muat kapal, melainkan pada kemampuan menjaga kelancaran siklus logistik secara menyeluruh. Hal tersebut hanya bisa dicapai melalui kolaborasi yang erat antara regulator, operator terminal, perusahaan pelayaran, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Penyelesaian kontainer longstay merupakan bagian dari upaya bersama menciptakan ekosistem logistik yang semakin efisien, tertib, dan berdaya saing. Ketika ruang penumpukan dapat dimanfaatkan kembali secara optimal, kapasitas pelayanan terminal meningkat, perputaran peti kemas menjadi lebih baik, dan pada akhirnya memberikan manfaat bagi seluruh pengguna jasa serta mendukung kelancaran perdagangan nasional,” ujar Ade Hartono saat memberikan keterangan di Jakarta Utara, Selasa.
Aksi nyata penataan ini diawali di area teluk tunggu (waiting bay) JICT sebagai titik awal sebelum barang-barang tersebut dimusnahkan di fasilitas PT Sinergi Prima Sejahtera yang berlokasi di Kabupaten Tangerang. Komoditas yang terpaksa dieliminasi dari pelabuhan ini meliputi Barang yang Dikuasai Negara (BDN) berupa tanaman bunga potong dan pussy willow (dedalu berbulu), serta Barang yang Dinyatakan Tidak Dikuasai (BTD) yang terdiri atas ribuan karung bawang putih segar. Berdasarkan hasil pemeriksaan ketat dari Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan DKI Jakarta, seluruh komoditas tersebut telah dinyatakan membusuk dan tidak layak konsumsi sehingga pemusnahan menjadi jalur hukum mutlak yang harus ditempuh.
Melalui tindakan tegas ini, JICT berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Pelindo, maskapai pelayaran, serta instansi karantina. Kepastian bahwa setiap proses operasional berjalan cepat, aman, transparan, dan patuh pada regulasi menjadi modal utama JICT dalam meningkatkan kepercayaan pasar internasional.
Ade Hartono meyakini bahwa daya saing logistik Indonesia hanya bisa dibangun melalui gerak bersama yang selaras. Ketika regulator dan operator bergerak dalam satu arah, efisiensi otomatis akan meningkat, pemanfaatan (utilisasi) aset menjadi lebih optimal, biaya logistik dapat ditekan, dan kepercayaan pelaku usaha terhadap pelabuhan nasional akan semakin kuat.
Dampak positif dari pengosongan kontainer usang ini langsung terasa pada kelancaran arus barang harian. Kepadatan di Tempat Penimbunan Sementara (TPS) kini berkurang drastis, yang diikuti dengan percepatan perputaran ruang penumpukan dan optimalisasi penggunaan peti kemas milik perusahaan pelayaran. Pada akhirnya, wajah baru pelabuhan yang bersih dan efisien ini akan bermuara pada peningkatan kualitas pelayanan yang jauh lebih prima bagi seluruh pengguna jasa pelabuhan.
Menyaksikan pelabuhan nasional bergerak lebih lincah tanpa beban masa lalu membawa harapan baru bagi efisiensi ekonomi kita. Keberhasilan JICT mengurai benang kusut kontainer penumpukan ini menjadi bukti bahwa ketegasan yang dibalut kolaborasi mampu mengubah hambatan menjadi peluang pertumbuhan yang menjanjikan. (Gdi)




