Riak Inflasi Mei Mulai Sentuh Kantong Belanja Masyarakat

Kendaraan tengah mengisi BBM non subsidi. Gdi/ AI

WANITAINDONESIA.CO – Dinamika ekonomi global perlahan tapi pasti mulai terasa dampaknya di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Memasuki pertengahan tahun, pergerakan harga sejumlah kebutuhan pokok dan biaya perjalanan mulai merangkak naik, memaksa setiap orang untuk kembali mengatur ulang prioritas pengeluaran mereka. Catatan terbaru menunjukkan bahwa fluktuasi harga di sektor energi dan pangan menjadi motor utama yang menggerakkan roda inflasi sepanjang bulan lalu.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi menjadi pemicu utama melonjaknya biaya di sektor transportasi sebesar 0,61 persen secara bulanan (month to month). Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa kenaikan ini disumbang oleh meroketnya harga bensin, tarif angkutan udara, pelumas (oli mesin), serta solar. Kondisi ini terjadi seiring dengan meningkatnya harga beberapa jenis bahan bakar nonsubsidi serta bahan bakar pesawat (avtur) di seluruh bandar udara domestik.

Baca Juga :  Brantas Abipraya Persiapkan Wajah Baru Pantai Marina, Labuan Bajo

Tidak hanya sektor perjalanan, efek domino dari kebijakan ekonomi sebelumnya juga masih membayangi pengeluaran rumah tangga. Keputusan PT Pertamina (Persero) yang mengatrol harga elpiji (liquefied petroleum gas) nonsubsidi sekitar 19 persen pada pertengahan April lalu ternyata masih menyisakan imbas yang berkepanjangan. Menurut pihak berwenang, dampak dari penyesuaian harga komoditas cair tersebut terbukti masih terus berlanjut dan membebani level harga konsumen hingga memasuki periode Mei.

“Ini terjadi seiring meningkatnya harga beberapa jenis BBM non-subsidi dan harga avtur,” kata Pudji Ismartini saat menyampaikan rilis resmi di Jakarta, Selasa.

Baca Juga :  Beri Uang Saku ke Pacar Bukan Standar Hubungan Ideal

Tantangan bagi isi dompet masyarakat semakin nyata ketika kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau ikut memberikan tekanan dengan tingkat inflasi sebesar 0,39 persen. Di dalam keranjang belanja harian, komoditas dapur seperti cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras tercatat menjadi penyumbang terbesar yang mendorong kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari angka 111,09 menjadi 111,40. Beruntung, laju kenaikan ini sedikit diredam oleh penurunan harga pada beberapa bahan pangan lain, seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang putih yang bergerak melandai.

Secara tahunan (year on year), potret perekonomian kita secara umum menunjukkan akumulasi inflasi sebesar 3,08 persen. Angka ini sebagian besar disokong oleh komponen harga bergejolak (volatile foods) serta komponen inti yang mencerminkan tren daya beli masyarakat yang masih dinamis. Di tengah situasi yang fluktuatif ini, pergerakan pasar internasional setidaknya membawa kabar baik dengan terkoreksinya harga minyak mentah dan penurunan harga minyak sawit setelah sempat menanjak tajam sejak awal tahun.

Baca Juga :  Dompet Dhuafa Perkuat Ekonomi Warga melalui Program Jantara Jelang Idul Adha

Menghadapi situasi ekonomi yang terus bergerak ini, kecermatan dalam mengelola anggaran keuangan menjadi kunci utama yang tidak boleh diabaikan. Memahami peta pergerakan harga komoditas mutakhir tentu akan sangat membantu kita semua dalam mengambil keputusan finansial yang lebih bijak, demi menjaga stabilitas dan kesejahteraan hidup di masa-masa mendatang. (gdi)