Resolusi Kesehatan 2026 ‘Alert’ Ancaman Nyata Diabetes & Jantung lewat Penyakit Gusi!

Ki-ka : Prof.Dr. Amaliya, drg., M.Sc, Ph.D, Guru Besar Ilmu Periodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjadjaran, dr. Elvieda Sariwati, M.Epid, Direktur Promosi Kesehatan, dan Kesehatan Komunitas Kemenkes RI, drg.Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc., Personal Care Community Lead Unilever Indonesia, Uti Daniawati Mahanani, Penggagas Indonesia Hygiene Forum, dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, Ph.D., Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endrokrinologi, Metabolik, dan Diabetes, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. (Foto: Istimewa)

WANITAINDONESIA.CO – Pepsodent brand perawatan kesehatan Gigi & Mulut senantiasa menjadi yang terdepan lewat upaya promotif, dan preventif dalam membantu Pemerintah menjaga, serta merawat kesehatan gigi, dan mulut masyarakat Indonesia.

Terbaru lewat Indonesia Hygiene Forum (IHF) 2025 yang tahun ini telah memasuki penyelenggaraan ke delapan. Forum yang menjembatani kolaborasi antara seluruh pihak yang terkait dalam kesehatan, dan higienitas, berkomitmen untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya hidup bersih, dan higienis, lewat sejumlah topik yang relevan dengan kondisi terkini.

Tema acara tahun ini menjadi krusial “Risiko Penyakit Gusi Terhadap Produktivitas, dan Kesehatan Tubuh Secara Menyeluruh.”
Diskusi terinspirasi oleh jurnal medis yang memuat beragam fakta ilmiah, tentang korelasi kuat antara penyakit gusi terhadap meningkatnya risiko berbagai macam penyakit tak menular.

Penyakit gusi menjadi penyakit terbesar masyarakat dunia. WHO memperkirakan akan ada 1,5 Miliar orang yang akan mengalami penyakit gusi parah (Periodontitis), serta sekitar 660 juta orang akan kehilangan gigi mereka. Prediksi ini akan terjadi di tahun 2050.

Lantas bagaimana dengan Indonesia?
‘Alert’, Indonesia menjadi salah satu negara di Asia Tenggara selain Vietnam, dengan tingkat prevelansi Periodontitis tertinggi di dunia, terjadi 6,6 juta kasus baru.

Walau tingkat prevelansi kejadian luar biasa dari penyakit gusi tersebut terbilang masih lama, faktanya penyakit gigi, dan gusi merupakan penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat Indonesia.

Temuan Kemenkes tersebut lewat Program Cek Kesehatan Gratis, yang telah menjangkau 50 juta penduduk Indonesia. Dijelaskan penduduk berusia di atas 18 tahun telah mengalami gigi goyang, dan memiliki poket gigi.

Baca Juga :  Berkah Kebaikan Stevia Bagi Penderita Diabetes Mellitus

Seperti yang dipaparkan oleh Prof.Dr.Amaliya, drg.M.Sc.,Ph.D., Guru Besar Ilmu Periodonsia , dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran.
Prof. Amalia menerangkan berbagai faktor risiko yang mempengaruhi tingginya angka penyakit gusi di Indonesia antara lain, rendahnya literasi kesehatan gigi, dan mulut. Dari 287,6 juta jiwa populasi penduduk Indonesia di akhir tahun 2025 (Data BPS), hanya 6,2 persen yang menyikat giginya di waktu yang tepat.

Prof. Amaliya, masyarakat Indonesia paling banyak menderita penyakit Gigi, dan Mulut, waspadai penyakit gusi yang berdampak pada penyakit tidak menular. (Foto: Istimewa)

Ubah Lifestyle, Sikat Gigi di Waktu yang Tepat

Anjuran menyikat gigi sehari dua kali di pagi, dan malam hari aturannya harus ditegaskan kembali.
Menyikat gigi di pagi hari harus dilakukan setelah sarapan. Bukan ketika mandi, dan sebelum sarapan. Pun halnya pada malam hari sebelum tidur.

Lalu bagaimana dengan sebagian masyarakat yang mengalami gangguan sulit tidur?.
Bagi mereka yang insomnia tetap berlaku aturan untuk menggosok gigi setelah mengonsumsi makanan maupun minum kopi.
Namun ketika muncul keinginan untuk snacking setelah gosok gigi, tentu Anda wajib untuk menyikat gigi kembali.

Masyarakat juga harus terus didorong untuk merubah lifestyle yakni jarang ke Dokter Gigi, untuk periksa sembari berkonsultasi selama setahun terakhir. Jumlahnya sangat tinggi sekitar 91,2 persen!.

Peringatan bagi para perokok aktif, merokok dipercaya dapat meningkatkan kerusakkan jaringan periodontal, serta kemampuan yang berkurang dalam penyembuhan luka periodontal.

Baca Juga :  Cara Mengatasi Dan Penyebab Diabetes

Penting untuk mengubah pola makan yang buruk diantaranya defisiensi vitamin E, vitamin C, dan Zinc. Vitamin E bersifat antioksidan, dan anti-inflamasi yang berguna untuk mengurangi peradangan, melindungi jaringan gusi dari kerusakkan, serta mempercepat penyembuhan.

Vitamin C berguna untuk membantu produksi kolagen yang akan memperkuat jaringan gusi. Memiliki sifat antioksidan guna melawan radikal bebas, serta mencegah peradangan.

Yang istimewa Zinc, membantu melawan bakteri penyebab plak, sebagai salah satu pemicu utama penyakit gusi.

Dan yang juga harus diwaspadai, konsumsi gula berlebih. Masyarakat Indonesia penggemar makanan, dan minuman manis. Tak hirau dengan anjuran WHO yang membatasi konsumsi harian gula sebesar 50 gram. Faktanya rata-rata orang Indonesia mengonsumsi gula 3 kali lebih banyak, yakni 160 gram gula perhari!.

Konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan risiko penyakit gusi. Karena bakteri di mulut akan menghasilkan asam yang akan merusak jaringan gusi, dan tulang pendukung gigi.

Penyebab lainnya ihwal masalah kesehatan gusi yang harus segera dicarikan solusi secepatnya, yakni tantangan sistem kesehatan. Ini menyangkut jumlah tenaga ahli di Indonesia yang masih sangat terbatas.

Bayangkan, Indonesia saat ini hanya memiliki 43.925 Dokter Gigi, dan Tenaga Ahli Periodontis hanya sekitar 667 orang. Ini-pun masih terkendala dengan jumlah persebaran yang belum merata. Sebanyak 50 persen terfokus di Pulau Jawa.

Tahapan penyakit gusi. (Foto: Istimewa)

Merawat Sembari Rutin Periksa Gusi

“Penyakit Gusi sering disebut Silent Killer. Pada tahap awal berupa peradangan gusi (gingivitis) yang sering tak disadari bahkan dianggap sepele penderita. Umumnya gejala muncul secara samar, dan tidak menimbulkan rasa sakit, “tambahnya.

Baca Juga :  Drg. Ratu Mirah Afifah "Lho Kok Hanya Satu Dolar Amerika?

“Namun pada tahap lanjutan, peradangan pada jaringan pendukung gigi yang lebih parah (peridontitis) bersifat irreversible (tak bisa lagi dipulihkan kondisinya seperti sediakala), yang mana terjadi kerusakkan hingga ke bagian tulang. Gigi menjadi goyang kemudian tanggal, “cetus Prof. Amaliya.

Lebih lanjut Prof. Amaliya menjelaskan, ” Dikarenakan kesadaran yang masih sangat rendah, sebagian besar penderita penyakit gusi akan datang ke dokter gigi dalam tahapan peridontitis. Hal ini tentunya membutuhkan perawatan yang lebih kompleks, dan sudah pasti biayanya menjadi sangat mahal.”

“Selain itu penyakit gusi yang memasuki tahap peridontitis akan berdampak pada produktivitas penderita, terutama pada usia produktif. Muaranya akan terjadi kerugian ekonomi yang sangat masif, “cetusnya.

Seperti yang telah diperhitungkan oleh WHO beban kerugian akibat masalah kesehatan gigi, dan mulut mencapai 53,3 Triliun per tahun. Adapun total pengeluaran negara untuk pelayanan kesehatan gigi, dan mulut tercatat sudah mencapai Rp.4,46 Triliun per tahun!.

Angka pengeluaran yang fantastis, yang seharusnya bisa dihindarkan bila masyarakat memiliki kesadaran, ihwal menjaga, serta merawat kesehatan gigi, dan mulut.

Selain mempengaruhi produktivitas, penyakit gusi juga akan berdampak pada kondisi kesehatan yang sangat serius. Berpengaruh pada kesehatan tubuh secara menyeluruh, dengan risiko penyakit tak menular seperti Diabetes, dan Penyakit Jantung. (*)