
WANITAINDONESIA.CO – dr. Dicky Levenus Tahapary Sp.PD-KEMD Ph.D., Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi Metabolik & Diabetes, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia melihat keunikan penyakit diabetes yakni berupa hubungan dua arah.
Peradangan pada gusi dikarenakan gangguan dari pembuluh darah dapat berimbas pada risiko terjadinya penyakit degeneratif. Penting untuk diwaspadai oleh penderita dengan riwayat obesitas.
Penyakit degeneratif seperti diabetes, jantung, stroke akan bertambah parah dengan terjadinya peradangan pada gigi, dan gusi. Hal ini bisa terjadi dikarenakan disfungsi endotel, dan terjadinya proses kerak pada pembuluh darah.
Selain infeksi pada rongga mulut, juga berkontribusi pada terjadinya peradangan kronis ringan penyakit metabolik, yang tak lagi dipengaruhi oleh kolesterol tinggi, gula darah. Infeksi juga bisa mengakibatkan benjolan pada leher.
Dokter Dicky menyinggung hubungan dua arah yang unik, ihwal penyakit diabetes yang akan meningkatkan risiko penyakit gusi.
Yang mana kadar gula darah tinggi, akan mendorong pertumbuhan bakteri. Sementara infeksi juga dapat mempersulit kontrol gula darah.
Pasien dengan keluhan pada gigi kerap terdeteksi mengalami masalah pada kadar gula darah yang tinggi.

Kolaborasi Dokter untuk Perawatan Holistik
“Penderita penyakit diabetes tipe 2, memiliki risiko 3 kali lipat lebih tinggi, untuk menderita keparahan penyakit gusi, di mana akan terjadi poket gusi (ruang antara gusi, dan gigi) yang lebih dalam. Selain terjadinya resesi gusi, dan kehilangan perlekatan yang lebih parah, dibandingkan dengan pasien non-diabetes, “jelasnya.
Karenanya penting untuk melakukan deteksi dini bagi Dokter Gigi, dan Mulut untuk evaluasi lebih lanjut, dikarenakan masalah kesehatan gusi menjadi pintu masuk dari beragam penyakit degeneratif.
“Sementara pada penyakit jantung, bakteri penyebab penyakit gusi dapat masuk ke dalam aliran darah, penyebab peradangan di jantung, dan pembuluh darah. Ini akan berkontribusi pada faktor risiko penyakit jantung yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah, “ucap Dokter Dicky .
“Juga berdampak pada penyakit arteri koroner, stroke, serta infeksi pada lapisan dalam jantung.
Serta beragam penyakit lainnya seperti infeksi pernapasan, dan komplikasi kehamilan.
Penyakit gusi yang menjadi penyebab terjadinya infeksi pernapasan, dikarenakan bakteri yang muncul dari infeksi gusi, akan menyebar ke sistem pernapasan. Dampak terburuk terjadinya pneumonia, penyakit paru obstruktif kronis, serta bronchitis.
Penyakit gusi yang berdampak pada gingivitis kehamilan (radang gusi) umum terjadi karena perubahan hormon, dan bisa berkembang menjadi periodontitis. Ini berpotensi untuk meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, seperti terjadinya kelahiran prematur, dan berat badan lahir rendah.
Karenanya Dokter Gigi, dan Mulut disarankan untuk melakukan deteksi dini sebagai bahan evaluasi lebih lanjut. Dikarenakan masalah kesehatan gusi menjadi pintu masuk, dari berbagai macam penyakit degeneratif seperti pada penyakit diabetes.
Dicky juga menyarankan penderita penyakit gusi yang memiliki riwayat penyakit metabolik, selain wajib mengendalikan faktor risiko, juga penting untuk menjaga kesehatan gigi, dan mulut, agar tidak terjadi peradangan. Karena dampaknya akan meningkatkan risiko penyakit degeneratif yang lebih parah.
Dokter Dicky pernah melakukan skrining kepada 10 pasiennya. Hasil skrining ditemukan hanya satu pasien yang terdiagnosis diabetes secara medis sebelumnya, dan sisanya 9 pasien lainnya baru teridentifikasi diabetes, setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan.
Karenanya ia menyarankan untuk melakukan terobosan layanan dengan melakukan kolaborasi antara Dokter Gigi, dan Mulut dengan Dokter Penyakit Dalam, guna memberikan perawatan holistik pada pasien. (*)




