
WANITAINDONESIA.CO – Indonesia di bawah ancaman penyakit gusi yang berdampak pada produktivitas, perekonomian negara, serta ancaman penyakit tak menular penyebab kematian.
Temuan Kemenkes, masalah kesehatan gigi, dan mulut masuk ke dalam lima penyakit tertinggi pada seluruh kelompok usia. Sementara WHO memperkirakan di tahun 2050 sebanyak 1,5 Miliar orang akan mengalami Penyakit Gusi Parah (Periodontitis). Akan ada 660 juta orang akan kehilangan gigi mereka. Indonesia, dan Vietnam menjadi negara dengan prevalensi Periodontitis tertinggi di dunia, dengan temuan 6,6 juta kasus baru.
Untuk mengatasi penyakit yang dijuluki Silent Killer, Pemerintah telah menggelontorkan dana sebesar 4 1/2 triliun per tahun guna perawatan gigi, dan mulut. Disayangkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan giginya ke Dokter Gigi masih sangat kurang.
Sebanyak 91 persen mengaku belum pernah datang ke dokter gigi setahun belakangan (SKI 2023). Selain kesadaran yang minim, faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu. Faktor pencetus lainnya berupa tantangan sistem kesehatan seperti minimnya faskes Klinik, dan Dokter Gigi. Itupun dengan penyebaran yang tidak merata di setiap daerah.
Menyikapi temuan tersebut, sebagai perusahaan yang konsisten, dan berkomitmen untuk melindungi kesehatan masyarakat, Unilever Indonesia melalui brand Pepsodent kembali menyelenggarakan Indonesia Hygiene Forum yang ke -8 “Risiko Penyakit Gusi Terhadap Produktivitas & Kesehatan Tubuh Secara Menyeluruh”.
Diskusi berangkat dari jurnal medis yang memuat berbagai fakta ilmiah tentang korelasi kuat antara penyakit gusi dengan beban ekonomi negara akibat produktivitas masyarakat yang menurun, serta dampak penyakit gusi terhadap meningkatnya sejumlah penyakit yang tidak menular.
Indonesia Hygiene Forum merupakan ruang diskusi yang mengangkat sejumlah isu krusial, yang mempertemukan para ahli di bidang kesehatan, Para Pengambil Kebijakan untuk berdiskusi, sembari mencari solusi yang komprehensif dalam menghadapi tantangan kesehatan di masyarakat.
Lewat Roundtable Discussion yang melibatkan para ahli Kedokteran Gigi & Mulut, Kedokteran Penyakit Dalam, dan Pakar Kesehatan masyarakat terkemuka dari Inggris, Vietnam, dan Indonesia dibahas lebih dalam tentang Penyakit Gusi, dan Dampaknya terhadap Produktivitas, dan Kesehatan kiranya akan membawa perubahan mendasar kepada masyarakat Indonesia agar lebih peduli terhadap kesehatan gigi, dan mulut mereka.
Hasil dari simposium tersebut kami sosialisasikan ke media, dengan harapan dapat membangun mindset yang baik kepada masyarakat, khususnya kepada para pembacanya. Kemudian secara bersama-sama segera merubah lifestyle, dalam upaya menjaga, serta merawat kesehatan gusi mereka.
Mungkin hanya pada kelembutan tangan Dokter Gigi, Ratu Mirah Afifah, perhatian tulus, senyum ramah yang memperlihatkan deretan gigi sehat, bersih, dan rapi, masyarakat Indonesia yang sebagian besar menderita permasalahan kesehatan gigi, dan mulut bisa tersentuh, dan tergugah untuk menerapkan gaya hidup sehat, dengan merawat gigi, dan gusi mereka.

Ditemui wanitaindonesia.co usai sosialisasi temuan Kemenkes, dan WHO ihwal masalah kesehatan gusi masyarakat dunia, khususnya Indonesia, Dokter Gigi representatif dari Unilever Indonesia ini terlihat sangat antusias, untuk menyebarkan pesan kebaikan kepada pembaca.
Wanitaindonesia.co :
Dokter, banyak yang menganggap faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab masyarakat enggan periksa, serta merawat gigi, dan gusinya ke Dokter Gigi?. Apakah anggapan tersebut menurut Anda relevan?
Drg. Ratu Mirah Afifah
“Menurut saya acuan ekonomi tersebut kurang relevan ya, ihwal mereka enggan untuk pergi ke Dokter Gigi. Persoalan utamanya sebenarnya ada pada literasi kesehatan gigi, dan mulut yang masih kurang. Selain kurangnya kesadaran masyarakat, kerap menganggap remeh, lalu abai. Dikarenakan penyakit gusi berupa radang pada tahap awal (gingivitis) seringkali tak bergejala, tak menimbulkan rasa nyeri atau sakit bahkan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Karenanya mereka enggan ke Dokter Gigi.”
Dokter Gigi Mirah menegaskan untuk pemeriksaan, serta pelayanan standar pada Gigi, dan Gusi biayanya sudah bisa diklaim lewat BPJS Kesehatan.
“Berdasarkan temuan kami, masyarakat Indonesia dalam setahun mereka hanya mengeluarkan uang senilai USD 1 untuk perawatan gigi, dan mulut. Padahal seperti yang kita ketahui bersama, ada banyak pos pengeluaran yang lebih besar, yang sanggup mereka keluarkan secara rutin setiap hari. Sebutlah untuk pembelian kuota internet, minum kopi maupun merokok, serta konsumsi yang tak ramah dengan kesehatan gigi, dan gusi, “ungkap sarjana Kesehatan Masyarakat dari Universitas di Australia.

Wanitaindonesia.co :
Apakah Unilever Indonesia memiliki tolak ukur lewat upaya promotif, dan preventif untuk menekan prevalensi penyakit gigi, dan gusi? Mengingat upaya ini sudah lama dilakukan, namun temuan Kemenkes, dan prediksi WHO ihwal penyakit gusi di Indonesia yang ke depan akan sangat mengkhawatirkan?
Drg. Ratu Mirah Afifah:
“Sebagai penyedia produk perawatan gigi, dan mulut, Unilever Indonesia lewat brand kebanggaan Pepsodent, kami selalu berupaya menjadi mitra terdepan Pemerintah Indonesia dalam menjaga kesehatan masyarakat. Salah satunya Mulut, dan Gigi, “kata drg. Mirah.
“Kami menyediakan produk perawatan gigi, dan mulut seperti pasta gigi, dan sikat gigi, mouthwash dengan beragam inovasi produk setiap tahunnya. Tujuannya untuk menjadi solusi permasalahan kesehatan masyarakat, “imbuhnya.
“Salah satu upaya berkelanjutan yang kami lakukan adalah Program kesehatan Gigi, dan Mulut ke sekolah-sekolah, serta Posyandu.
Kami melatih guru, serta para orang tua, juga para kader Posyandu ihwal kesehatan gigi, dan mulut seperti cara menggosok gigi dengan baik, dan benar, serta di waktu yang tepat. Serta beragam upaya yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah, juga hal-hal yang terkait dengan lifestyle, dan sejumlah hal penting lainnya. Sosialisasi, edukasi, pemantauan itu kuncinya, “jelas Dokter Gigi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kesehatan masyarakat.
“Lewat upaya yang telah kami lakukan ini, diantaranya cara menyikat gigi dengan baik, dan benar, serta di waktu yang tepat, kami akan mendorong mereka agar bisa melanjutkan kebaikan ini ke circlenya masing-masing seperti kepada anak-anak, ibu-ibu, dan para orangtua mereka, “tambahnya.
“Tentunya upaya-upaya tersebut tak akan berjalan baik tanpa adanya ketersediaan produk perawatan gigi, mulut, dan gusi yang tepat, dan inovatif, “cetusnya.
Dokter Gigi Mirah melanjutkan, “Saat ini kami masih berfokus melakukan sosialisasi, dan edukasi di sekolah-sekolah. Salah satunya lewat program 21 Hari Sikat Gigi Pagi dan Malam Pepsodent.
Tujuannya untuk meningkatkan status kesehatan mulut anak-anak sekolah melalui edukasi cara menjaga kebersihan gigi, dan mulut dengan menyikat gigi, yang dilakukan secara terus menerus selama 21 Hari.”
“Terbukti program berdampak, sebanyak 25 persen terjadi peningkatan dalam kebiasaan menyikat gigi 2 kali sehari. Termasuk perubahan perilaku berkelanjutan selama 6-12 bulan.
Karenanya kami percaya, setelah 21 Hari kebiasaan untuk menyikat gigi menjadi hal yang akan terus dilakukan, “terang Dokter Gigi yang pernah meniti karir sebagai Dosen.

Wanitaindonesia.co :
Dokter, Inovasi menjadi DNA Pepsodent. Produk inovatif yang seperti apa yang dihadirkan, guna membantu masyarakat Indonesia dalam merawat kesehatan gusi?
Drg. Ratu Mirah Afifah:
Sebagai penjaga kesehatan Gigi, dan Gusi masyarakat Indonesia, Pepsodent di momen Indonesia Hygiene Forum memperkenalkan produk pasta gigi khusus untuk penyakit Gusi, Gum Expert.
Inovasi menghadirkan kesegaran sempurna pada mulut, yang terbukti mampu menjaga gusi rekat pada gigi dengan sensasi kesegaran alami. Dianjurkan untuk mereka yang memiliki keluhan Radang Gusi seperti gusi bengkak, sakit, dan berdarah.
Juga dikhususkan untuk gigi goyang. Formulasi bahan Active Zinc + Vitamin E, efektif untuk meningkatkan kesehatan gusi, serta mampu menjaga gusi melekat lebih baik pada gigi. Active Zinc menjaga gusi lebih sehat, dan kuat. Mengurangi pertumbuhan plak pada gigi.
Vitamin E, Anti-inflamasi, dan Antioksidan, baik untuk menutrisi gusi. Kandungan rasa mint memberikan efek rasa bersih, dan segar pada seluruh mulut. Tentunya produk pasta gigi inovatif ini harus Ihwal ketersediaan produk perawatan gigi, dan gusi, Unilever Indonesia memiliki jaringan distribusi terbesar di Indonesia. Distribusi akan terus diperkuat, salah satunya untuk produk Pepsodent Gum Expert.
“Upaya lain berupa pemberian sampling ke sejumlah klinik Gigi di 14 Kota yang totalnya mencapai 11 ribu Klinik agar masyarakat luas dapat mencoba, serta merasakan produk perawatan gigi, dan gusi inovatif Pepsodent.
Karena terbukti menjadi yang terdepan, para Dokter Gigi menggunakan Gem Expert setelah melakukan scaling, “cetus Dokter Gigi Mirah.
“Agar efektif, gunakanlah sikat gigi yang memiliki bulu halus seperti Pepsodent Nanosoft Sensitive Soft yang tak akan menimbulkan sakit pada gusi ketika gigi disikat, “sarannya.
Wanitaindonesia.co:
Hasil Roundtable Discussion menyoal produktivitas yang menurun pada penderita penyakit gusi. Juga akan berdampak pada ekonomi berbiaya tinggi yang harus ditanggung negara. Bisa dijelaskan seperti apa hubungannya?.
Drg. Ratu Mirah Afifah :
“Penderita penyakit gusi Periodontitis akan mengalami kesulitan untuk bekerja, sulit berkonsentrasi dikarenakan terganggu oleh rasa sakit yang tak tertahankan karena gusi bengkak, rentan berdarah. Waktu produktif mereka menjadi sia-sia karena harus berobat, berisitirahat, “terangnya.
“Sebagian merasa malu, hilang kepercayaan diri, bahkan menarik diri dari lingkungan sosial, karena kondisinya tersebut. Utamanya karena mulut mengeluarkan bau tak sedap, “imbuh Dokter Gigi yang bertanggung jawab dalam mengembangkan program-program yang sudah ada di Unilever Indonesia.
“Nah jika masyarakat di usia produktif banyak yang menderita penyakit gusi kronis tentunya mereka akan menjadi tidak produktif. Selain itu harus selalu diingat dari penyakit gusi akan berdampak pada beragam penyakit menular berbahaya lainnya. Padahal sebelumnya Pemerintah melalui Kemenkes telah mengeluarkan dana yang cukup besar, untuk menanggulangi penyakit gigi, dan mulut termasuk penyakit gusi. Jika masyarakatnya tetap saja abai hal ini tentunya akan berpengaruh kepada perekonomian Indonesia, “pungkasnya.

Tips Drg. Ratu Mirah Afifah
“Cara Merawat Gigi, dan Gusi di Rumah”
- Gosok gigi dengan benar setiap pagi setelah sarapan, dan malam sebelum tidur selama 2 menit.
- Untuk pembersihan maksimal pada sela-sela gigi, gunakanlah benang gigi.
- Dianjurkan pula untuk menggunakan obat kumur gigi namun tidak secara berlebihan.
- Lakukan pola makan sehat dengan membatasi konsumsi makanan yang mengandung kadar gula tinggi, dan mengandung asam. Hindari minuman yang mengandung soda, dan yang tersaji dingin.
- Jangan merokok atau menghisap Vape.
- Periksa ke Dokter Gigi dua kali dalam setahun. (*)




