WANITAINDONESIA.CO – Ancaman penyakit campak di perkotaan padat seperti DKI Jakarta ternyata tidak hanya ditentukan oleh kondisi daya tahan tubuh atau riwayat imunisasi seseorang. Lingkungan dan alamat tempat tinggal tempat seseorang menetap justru memegang peranan sangat krusial dalam melipatgandakan risiko penularan.
Temuan kebaruan ilmiah mendasar inilah yang berhasil diungkap oleh mahasiswa Magister Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) peminatan Field Epidemiology Training Program (FETP), Widya Inayah, hingga mengantarkannya meraih penghargaan 3rd Best Oral Presentation pada ajang The 13th National Scientific Conference on Epidemiology (NSCE) 2026 di Jakarta.
Melalui penelitian mutakhir bertajuk “Faktor Individual dan Kontekstual yang Berhubungan dengan Kejadian Campak di DKI Jakarta Tahun 2021–2025: Analisis Multilevel”, Widya membedah data surveilans campak rutin DKI Jakarta selama lima tahun terakhir. Data tersebut dikombinasikan secara presisi dengan cakupan imunisasi vaksin mengandung campak (Measles Containing Vaccine/MCV) dosis 1 dan 2, cakupan vitamin A, kepadatan penduduk, hingga pemetaan klasifikasi permukiman berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 33 Tahun 2024.
Dari analisis berjenjang pada tingkat individu, rukun warga (RW), hingga kelurahan tersebut, terungkap fakta mengejutkan bahwa dua orang dengan karakteristik tubuh dan imunisasi yang identik dapat memiliki tingkat risiko tertular campak yang jauh berbeda saat mereka tinggal di lingkungan pemukiman dengan kondisi kekebalan komunitas serta kepadatan yang berbeda.
“Risiko campak tidak hanya ditentukan oleh karakteristik individunya, tetapi juga oleh lingkungan tempat individu tersebut tinggal,” ujar Widya Inayah di Depok, Rabu.
Pendekatan kontekstual ini membuka kacamata baru bagi para pemangku kebijakan kesehatan. Pengendalian wabah tidak lagi bisa disaratkan secara merata, melainkan harus berbasis pemetaan wilayah yang membutuhkan intervensi khusus berdasarkan profil lingkungan dan karakteristik sosial masyarakat setempat.
Capaian bergengsi ini turut menjawab tantangan besar konferensi NSCE 2026 bertema “Future Epidemiology: Accelerating Multi-Source Surveillance and Synergizing One Health for Global Health Resilience”, yang menekankan pentingnya sinergi surveilans berbasis data ganda demi ketahanan kesehatan global.
Apresiasi tinggi datang langsung dari Dekan FKM UI, Prof. Indri Hapsari Susilowati, yang menilai riset ini berhasil menjembatani teori ilmiah dengan persoalan nyata di tengah masyarakat perkotaan.
“Prestasi Widya menunjukkan mahasiswa FKM UI mampu menghasilkan penelitian yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat sekaligus mengomunikasikan hasilnya melalui forum ilmiah. Capaian ini membanggakan dan menunjukkan kemampuan mahasiswa untuk berpikir kritis serta menghasilkan bukti ilmiah yang relevan bagi kesehatan masyarakat,” tegas Prof. Indri Hapsari Susilowati.
Ia menambahkan bahwa cara pandang epidemiologi modern harus melangkah lebih jauh dari sekadar mendata siapa yang sakit, tetapi juga membedah peta lingkungan yang menjadi pemicunya.
“Epidemiologi tidak hanya melihat siapa yang berisiko, tetapi juga perlu memahami konteks lingkungan yang dapat memengaruhi risiko tersebut. Penelitian seperti yang dilakukan Widya dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh dalam mendukung upaya pencegahan dan pengendalian penyakit,” tambah Prof. Indri Hapsari Susilowati.
Langkah inovatif ini menjadi pengingat penting bagi kita semua bahwa menjaga kesehatan keluarga bukan sekadar urusan benteng imun pribadi. Sudah saatnya masyarakat dan pemerintah bersama-sama peduli pada penataan ruang serta kesehatan lingkungan sekitar, karena lingkungan yang sehat adalah kunci perlindungan hakiki bagi seluruh anggota keluarga. (Gdi)





