WANITAINDONESIA.CO – Langkah tegas kembali diambil bank sentral dalam menghadapi ketidakpastian kondisi perekonomian dunia yang kian bergejolak. Bank Indonesia memutuskan untuk tidak mengubah besaran suku bunga acuan (BI-Rate) dan memilih untuk mempertahankannya di level 5,75 persen. Keputusan strategis ini disepakati dalam Rapat Dewan Gubernur Bulanan periode Agustus 2026 yang berlangsung selama dua hari berturut-turut pada 18 hingga 19 Agustus 2026.
Tidak hanya suku bunga acuan yang ditahan, fasilitas simpanan (deposit facility) juga dipastikan tetap berada pada angka 4,75 persen. Di saat yang sama, suku bunga pinjaman (lending facility) turut terkunci kokoh pada level 6,5 persen. Kebijakan konsisten ini menjadi benteng utama pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional dari guncangan luar.
Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan dalam konferensi pers yang digelar secara dalam jaringan (daring) dari Jakarta bahwa penahanan suku bunga ini merupakan benteng krusial untuk membendung dampak dinamika geopolitik. Keputusan ini tetap konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah, menjaga pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5 plus minus 1 persen pada tahun 2026 dan 2027, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Guna memastikan pertahanan ekonomi tidak sekadar menjadi posisi bertahan, bank sentral menyiapkan jurus lanjutan yang berfokus pada daya tarik investasi domestik. Bank Indonesia berkomitmen memperluas kebijakan perangsang (insentif) guna memancing masuknya arus dana asing (capital inflows). Langkah berani ini diharapkan sanggup memperkuat otot nilai tukar rupiah sekaligus mencairkan ketersediaan dana (likuiditas) serta menekan penyekatan (segmentasi) modal di pasar uang maupun sektor perbankan.
Melalui keberanian mengambil keputusan yang terukur serta terobosan percepatan pendalaman pasar valuta asing (pasar valas), ketahanan ekonomi nasional kini berada pada alur yang lebih mantap. Keputusan penting ini membuktikan bahwa di tengah badai krisis global, arah kebijakan finansial tanah air tetap tangguh dan terarah demi mengawal kesejahteraan masyarakat luas. (Gdi)





